JAKARTA, BursaNusantara.com – PT Great Eastern General Insurance Indonesia (GEGI) menargetkan pertumbuhan signifikan dalam lini asuransi rekayasa pada 2025. Perusahaan berencana membukukan pendapatan premi sebesar Rp 95 miliar, naik 10% dibandingkan dengan pencapaian tahun sebelumnya yang mencapai Rp 88 miliar.
Strategi GEGI dalam Meningkatkan Premi Asuransi Rekayasa
Marketing Director Great Eastern General Insurance Indonesia, Linggawati Tok, mengungkapkan bahwa pencapaian premi asuransi rekayasa pada 2024 telah tumbuh 50% dibandingkan tahun sebelumnya. Untuk mempertahankan momentum pertumbuhan ini, GEGI telah menyiapkan berbagai strategi.
Pengembangan Produk Fleksibel
Salah satu langkah utama yang diambil adalah pengembangan produk yang lebih fleksibel dan sesuai dengan kebutuhan pasar. Fokus utama perusahaan adalah asuransi konstruksi untuk proyek menengah ke bawah, yang dinilai memiliki potensi pasar yang luas di Indonesia.
Perluasan Jaringan Distribusi
Selain mengembangkan produk, GEGI juga berupaya memperluas jaringan distribusi dengan menggandeng berbagai pihak terkait, termasuk kontraktor dan pengembang properti. Perusahaan juga memanfaatkan kerja sama dengan klien-klien eksisting serta broker asuransi guna meningkatkan penetrasi di sektor pembangunan.
Kemitraan dengan Reasuransi Global
Untuk memperbesar kapasitas akseptasi, GEGI menjalin kerja sama dengan perusahaan reasuransi global. Langkah ini bertujuan untuk memperluas akses serta memperkuat kepercayaan pasar terhadap layanan asuransi rekayasa yang ditawarkan.
Tantangan Industri Asuransi Rekayasa di 2025
Meski optimis dengan target yang telah ditetapkan, Linggawati tidak menampik adanya tantangan besar di industri asuransi rekayasa pada tahun ini. Beberapa faktor yang diperkirakan akan berdampak pada sektor ini antara lain:
Pelemahan Daya Beli dan Ketidakpastian Ekonomi
Perlambatan ekonomi global dan domestik menjadi salah satu faktor yang dapat menghambat pertumbuhan industri asuransi rekayasa. Melemahnya daya beli masyarakat, maraknya pemutusan hubungan kerja (PHK), serta penutupan beberapa pabrik berpotensi menurunkan minat investasi di sektor konstruksi.
Dampak Pemangkasan Anggaran Infrastruktur
Pemerintah telah mengumumkan pemangkasan anggaran infrastruktur, yang turut berkontribusi terhadap tantangan di sektor asuransi rekayasa. Namun, Linggawati menegaskan bahwa keterlibatan GEGI dalam proyek pemerintah selama ini memang tidak signifikan, sehingga dampaknya relatif terbatas.
Penurunan Premi di Awal Tahun 2025
GEGI mengalami tekanan pada awal tahun ini, dengan pendapatan premi asuransi rekayasa hingga Februari 2025 hanya mencapai Rp 1,6 miliar. Angka tersebut mencerminkan penurunan sebesar 27% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penyebab utama dari penurunan ini adalah belum adanya proyek baru yang signifikan, serta pelaku bisnis yang masih menunggu perkembangan kondisi ekonomi sebelum mengambil keputusan investasi.
Harapan dan Prospek ke Depan
Meskipun menghadapi tantangan yang cukup besar, GEGI tetap optimis dapat mencapai target premi Rp 95 miliar di tahun ini. Perusahaan berharap adanya perbaikan dalam sektor swasta, terutama di bidang pembangunan proyek-proyek perumahan, komersial, dan industri, dapat mendorong peningkatan permintaan asuransi rekayasa.
Sebagai informasi tambahan, data dari Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) mencatat bahwa total pendapatan premi asuransi rekayasa industri nasional mencapai Rp 4,27 triliun pada tahun sebelumnya. Namun, angka tersebut mengalami kontraksi sebesar 18,2% dibandingkan tahun sebelumnya, mencerminkan tantangan yang tengah dihadapi industri secara keseluruhan.
Dengan strategi yang telah disiapkan dan kerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan, Great Eastern General Insurance Indonesia optimistis dapat mengatasi hambatan yang ada serta mencapai target premi yang telah ditetapkan.











