Geser Kebawah
Internasional

Gugurnya dr. Marwan: Simbol Medis Gaza Gugur Dihantam Rudal Israel

164
×

Gugurnya dr. Marwan: Simbol Medis Gaza Gugur Dihantam Rudal Israel

Sebarkan artikel ini
Gugurnya dr Marwan Simbo Medis Gaza Gugur Dihantam Rudal Israel
dr. Marwan Al-Sultan, Direktur RS Indonesia di Gaza, gugur akibat serangan Israel. Dunia mengecam, sistem medis Gaza terancam lumpuh total.

Tragedi Medis Terbesar di Gaza: dr. Marwan dan Simbol Kemanusiaan yang Gugur

JAKARTA, BursaNusantara.com – Rudal F-16 Israel menghantam kawasan sipil Tal Al-Hawa, Gaza Utara, pada Rabu dini hari 2 Juli 2025, menewaskan dr. Marwan Al-Sultan dokter jantung dan Direktur Rumah Sakit Indonesia bersama keluarganya.

Serangan itu terjadi saat dr. Marwan tengah berada di apartemennya, jauh dari area militer, menjadikan insiden ini sebagai bentuk serangan langsung terhadap tenaga medis sipil yang dilindungi hukum internasional.

Sponsor
Iklan

Jenazah dr. Marwan dan keluarganya langsung dibawa ke RS Al-Shifa, di tengah isak tangis dan keputusasaan rekan-rekan sejawat yang menyaksikan simbol terakhir dari layanan jantung Gaza gugur.

Gugurnya Simbol Terakhir Layanan Jantung Gaza

dr. Marwan Al-Sultan bukan sekadar dokter, melainkan benteng terakhir perawatan jantung di Gaza yang terkepung.

Ia menjabat Direktur RS Indonesia sejak 2016 dan dikenal luas karena tetap tinggal di Gaza meski fasilitas itu berulang kali menjadi sasaran serangan.

Sejak awal agresi Israel, dr. Marwan bersikeras untuk tidak meninggalkan rumah sakit, menjadi satu dari dua dokter jantung yang masih bertugas hingga akhirnya gugur bersama keluarganya.

Kepergiannya menandai kehancuran total atas layanan kardiologi di wilayah utara Gaza, menyisakan ribuan pasien tanpa harapan medis yang memadai.

Serangan yang Mengoyak Sistem Kesehatan Gaza

Data dari Healthcare Workers Watch (HWW) mencatat dr. Marwan sebagai tenaga medis ke-70 yang gugur dalam kurun waktu 50 hari terakhir.

Secara keseluruhan, sejak Oktober 2023, lebih dari 1.400 tenaga kesehatan telah tewas, menjadikan sektor medis di Gaza salah satu yang paling terpukul secara global.

Lebih dari 300 tenaga medis lainnya masih ditahan oleh militer Israel, dengan sebagian mengalami penyiksaan fisik dan psikologis yang didokumentasikan oleh organisasi hak asasi manusia.

Dengan kehilangan sosok seperti dr. Marwan, RS Indonesia kini tidak lagi memiliki spesialis jantung, memperburuk krisis kesehatan yang telah mencapai titik nadir.

Kecaman Global dan Seruan Akuntabilitas

Pemerintah Indonesia segera merespons dengan pernyataan resmi dari Menko Polhukam Budi Gunawan yang menyebut dr. Marwan sebagai pahlawan kemanusiaan yang memilih medan sunyi penuh pengabdian.

Ketua DPR Puan Maharani dan Wakil Ketua MPR Eddy Soeparno juga mengecam keras serangan tersebut, menyatakan bahwa fasilitas medis tidak boleh dijadikan target dalam konflik bersenjata.

Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI menegaskan bahwa serangan ini merupakan bentuk kejahatan perang dan menyerukan pengadilan internasional untuk menindak tegas pelakunya.

Dunia internasional, termasuk WHO dan Human Rights Watch, kembali menyoroti pola serangan Israel terhadap tenaga medis sebagai pelanggaran sistematis terhadap Konvensi Jenewa.

Konteks Genosida yang Memburuk dan Deligitimasi Internasional

Tragedi ini menjadi potret baru dari krisis kemanusiaan di Gaza yang telah menewaskan lebih dari 56.000 warga sipil, mayoritas perempuan dan anak-anak, dalam satu dekade terakhir.

Serangan terhadap dr. Marwan datang di saat tekanan global terhadap Israel meningkat, dengan banyak pihak menyebut aksi-aksi militer tersebut sebagai genosida yang disengaja dan sistematis.

Laporan Dewan HAM PBB mencatat bahwa infrastruktur kesehatan Palestina telah diruntuhkan secara metodik, menjadikan Gaza sebagai wilayah tanpa layanan medis layak dan populasi yang sekarat perlahan.

Situasi ini telah menciptakan tekanan diplomatik besar terhadap negara-negara yang selama ini mendukung militer Israel tanpa syarat.

Dilema Etika Dunia Internasional dan Narasi Pembungkaman

Kematian dr. Marwan membuka kembali pertanyaan besar tentang sikap dunia internasional terhadap netralitas medis dalam konflik bersenjata.

Konvensi Jenewa jelas melindungi tenaga medis dan fasilitas kesehatan, namun implementasi di lapangan terbukti lemah jika pelanggar tidak pernah dibawa ke meja hukum.

Serangan terhadap RS Indonesia juga menjadi alarm bagi lembaga-lembaga kemanusiaan internasional yang masih bertahan di Gaza.

Banyak organisasi medis kini mulai menarik diri karena ketidakamanan dan ketidakjelasan posisi hukum mereka di tengah pembiaran komunitas internasional terhadap agresi Israel.

RS Indonesia Tanpa Pemimpin, Ribuan Pasien Tanpa Harapan

Kehilangan dr. Marwan berarti kehilangan stabilitas fungsional Rumah Sakit Indonesia yang sejak awal menjadi simbol solidaritas Indonesia terhadap Palestina.

RS ini, yang dibangun dari dana masyarakat Indonesia, kini lumpuh pada sektor paling vital: kardiologi dan gawat darurat.

Ribuan pasien jantung, termasuk anak-anak dengan kelainan jantung bawaan, kini menghadapi risiko kematian tanpa ada dokter spesialis yang tersisa.

Di tengah runtuhnya sistem rujukan, transportasi medis, dan kekurangan obat-obatan, kehadiran satu dokter seperti dr. Marwan sebelumnya menjadi pengimbang maut yang kini tak lagi tersedia.

Indonesia dalam Dilema Bantuan: Antara Diplomasi dan Tanggung Jawab Moral

Gugurnya dr. Marwan menjadi tamparan keras bagi diplomasi kemanusiaan Indonesia yang selama ini berfokus pada dukungan simbolik.

Kini, desakan publik menguat agar Indonesia tidak hanya menyuarakan kecaman, tetapi mengambil langkah nyata seperti pengiriman tim medis rotasi, bantuan darurat, atau mendorong investigasi independen atas kejahatan perang ini.

Solidaritas publik terus meluas di Indonesia, dengan berbagai aksi penggalangan dana dan demonstrasi damai menuntut penghentian agresi Israel serta pengakuan penuh terhadap Palestina sebagai negara merdeka.

Dalam tragedi ini, Indonesia menghadapi ujian moral dan historis apakah hanya akan menjadi penonton yang bersedih atau pelaku yang bertindak.