Geser Kebawah
Internasional

Hamas Siap Berunding dengan AS, Gencatan Senjata Gaza Masih Abu-Abu

86
×

Hamas Siap Berunding dengan AS, Gencatan Senjata Gaza Masih Abu-Abu

Sebarkan artikel ini
Hamas Siap Berunding Dengan AS Gencatan Senjata Gaza Masih Abu Abu
Hamas membuka peluang dialog dengan AS meski mengkritik kebijakan Trump. Negosiasi berlangsung di tengah ketidakpastian gencatan senjata Gaza.

JAKARTA, BursaNusantara.com – Hamas menyatakan kesiapan untuk bernegosiasi dengan Amerika Serikat (AS), meskipun tetap mengkritik kebijakan Presiden Donald Trump. Langkah ini menandai dinamika baru dalam konflik Gaza yang hingga kini belum menemui titik terang.

Hamas dan AS: Mungkinkah Terjadi Kesepakatan?

Pejabat senior Hamas, Mushir al-Masri, menuding Trump menerapkan standar ganda dalam menyikapi krisis sandera di Gaza. Menurutnya, AS lebih berfokus pada pembebasan warga Israel, sementara mengabaikan ribuan tahanan Palestina yang masih mendekam di penjara Israel.

Sponsor
Iklan

“Washington seharusnya memainkan peran sebagai mediator yang adil, bukan sekadar memperjuangkan kepentingan satu pihak,” ujar al-Masri, dikutip dari CNN Internasional pada Senin (10/3/2025).

Di sisi lain, Gedung Putih telah mengonfirmasi adanya komunikasi langsung dengan Hamas. Langkah ini menjadi perubahan signifikan dalam kebijakan luar negeri AS yang selama ini enggan terlibat langsung dengan kelompok yang mereka anggap sebagai organisasi teroris.

Tantangan Menuju Gencatan Senjata

Meskipun negosiasi mulai berlangsung, prospek gencatan senjata masih jauh dari kepastian. Pemerintah Israel tetap bersikukuh menolak berunding langsung dengan Hamas, dengan alasan keamanan nasional dan tragedi serangan 7 Oktober 2023 lalu.

Sumber-sumber diplomatik menyebutkan bahwa tekanan internasional semakin meningkat agar perundingan dapat menghasilkan solusi konkret. Namun, Israel tampaknya masih menggunakan blokade bantuan sebagai alat tekanan agar Hamas bersedia memperpanjang gencatan senjata tanpa syarat.

Nasib Sandera dan Taruhan Politik

Salah satu fokus utama negosiasi ini adalah pembebasan sandera. Hamas mengindikasikan kesiapan untuk membahas skenario pertukaran tawanan dengan Israel. Namun, hingga kini, hanya satu sandera AS yang masih diyakini hidup, yakni Edan Alexander. Sementara empat warga AS lainnya telah dinyatakan tewas, dengan sedikitnya 12 orang lainnya dalam status tidak diketahui.

Menanggapi situasi ini, Trump menegaskan bahwa Hamas harus segera membebaskan seluruh sandera atau menghadapi konsekuensi lebih besar. Sementara itu, utusan khusus AS untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, mengisyaratkan kemungkinan intervensi militer jika Hamas tidak memenuhi tuntutan Washington.

Masa Depan Gaza di Tengah Ketidakpastian

Situasi di Gaza semakin kompleks dengan munculnya wacana kontroversial dari Trump yang ingin mengubah wilayah tersebut menjadi pusat wisata layaknya “Riviera Timur Tengah.” Gagasan ini mendapat kecaman luas, terutama karena dianggap sebagai bentuk pemindahan paksa dua juta warga Palestina.

Sebagai alternatif, Liga Arab mengusulkan pembentukan komite sementara untuk mengelola Gaza dan menyiapkan kembalinya Otoritas Palestina sebagai entitas pemerintahan yang sah.

Dengan beragam kepentingan yang saling bertabrakan, masa depan Gaza masih penuh dengan ketidakpastian. Negosiasi antara Hamas dan AS bisa menjadi langkah awal menuju perubahan, namun jalan menuju perdamaian sejati masih panjang dan berliku.

Ikuti media sosial kami untuk update terbaru

Tinggalkan Balasan