Geser Kebawah
HeadlineKomoditasPasar

Harga Batu Bara Global Tergelincir, Produksi China Bikin Tekanan

556
×

Harga Batu Bara Global Tergelincir, Produksi China Bikin Tekanan

Sebarkan artikel ini
Harga Batu Bara Global Tergelincir, Produksi China Bikin Tekanan
Harga batu bara dunia turun pada Jumat (22/8/2025) usai produksi Shanxi melonjak 7,2%, sementara ekspor global justru naik 2% dipimpin Indonesia, Australia, dan Kolombia.

Pasar Batu Bara Tertekan Produksi China

JAKARTA, BursaNusantara.com – Harga batu bara global mayoritas melemah pada Jumat (22/8/2025) setelah data terbaru menunjukkan lonjakan produksi dari Shanxi, provinsi penghasil batu bara terbesar di China.

Data resmi mencatat Shanxi memproduksi 756,44 juta ton batu bara mentah sepanjang Januari–Juli 2025, tumbuh 7,2% dibandingkan tahun lalu dan menyumbang lebih dari seperempat total produksi nasional.

Sponsor
Iklan

Lonjakan produksi ini menekan harga acuan, meski jalur distribusi melalui kereta Daqin terus mencatat volume angkutan besar mencapai 9 miliar ton sejak beroperasi, memastikan suplai ke kawasan industri tetap lancar.

Kapasitas cadangan batu bara China yang mencapai 207 miliar ton, dengan porsi 48,3 miliar ton di Shanxi, menjadi faktor fundamental yang memperkuat tekanan pasokan di pasar global.

Pasar menilai tambahan pasokan ini dapat meredam sentimen bullish, khususnya di tengah permintaan musiman yang cenderung melemah dari India dan China sendiri.

Harga Acuan Newcastle dan Rotterdam Bergerak Campuran

Di bursa internasional, pergerakan harga batu bara menunjukkan tren melemah meski kontrak tertentu masih menguat tipis.

Harga batu bara Newcastle Agustus 2025 naik tipis US$0,7 menjadi US$111,3 per ton, namun kontrak September terkoreksi US$0,3 ke US$109,8, dan Oktober turun US$0,1 ke US$110,8.

Di pasar Eropa, kontrak Rotterdam lebih tertekan dengan harga Agustus melemah US$0,55 ke US$99,85, September anjlok US$1,55 ke US$99,85, dan Oktober merosot US$1,75 ke US$99,5 per ton.

Pergerakan harga ini menunjukkan pasar masih diliputi ketidakpastian antara tekanan suplai dari China dan dinamika ekspor negara produsen utama.

Investor energi global mencermati kombinasi suplai besar China dengan data ekspor internasional yang justru menunjukkan tren peningkatan.

Ekspor Global Naik, Indonesia dan Australia Dominan

Menurut laporan BigMint, ekspor batu bara global naik 2% pada pekan ke-33 tahun 2025 (9–15 Agustus) menjadi 17,71 juta ton, dibanding 17,36 juta ton pekan sebelumnya.

Kenaikan ini terutama ditopang oleh Indonesia yang membukukan ekspor 7,31 juta ton atau naik 7,8% berkat cuaca lebih bersahabat di pelabuhan Kalimantan Timur.

Namun, meski ekspor meningkat, permintaan dari India hanya 1,85 juta ton dan dari China 1,74 juta ton, lebih rendah dari tren biasanya karena stok melimpah dan turunnya kebutuhan listrik musim panas.

Dari Australia, ekspor naik 8% menjadi 6,42 juta ton, dengan kontribusi besar dari Pelabuhan Newcastle, Gladstone, dan DBCT, sementara permintaan stabil datang dari Jepang dan Korea Selatan.

China masih menahan tender di bawah 0,7 juta ton, sehingga ekspor Australia lebih mengandalkan pasar tradisional Asia Timur.

Kolombia Jadi Penopang Baru Eropa

Kolombia mencatat lonjakan ekspor paling besar dengan kenaikan 39,6% menjadi 1,17 juta ton, didorong permintaan tinggi dari Eropa.

Utilitas di Belanda dan negara Eropa lain memperkuat stok untuk menghadapi musim gugur, khususnya batu bara kalori tinggi asal Kolombia.

Tambahan permintaan juga datang dari Asia, terutama Korea Selatan, yang memanfaatkan ketersediaan suplai dari kawasan Amerika Latin ini.

Peningkatan tajam ini menunjukkan pergeseran arus perdagangan global, di mana Kolombia semakin memainkan peran sebagai pemasok alternatif di tengah fluktuasi pasar Asia dan Amerika.

AS dan Afrika Selatan Melemah, Kanada Stabil

Sebaliknya, Amerika Serikat justru mengalami penurunan ekspor drastis sebesar 39,6% menjadi 1,04 juta ton karena permintaan kokas India melemah.

Afrika Selatan juga turun 21,4% menjadi 0,94 juta ton akibat hambatan pengapalan di RBCT serta melemahnya minat pembeli India.

Kanada melemah 6,3% menjadi 0,83 juta ton, meski pengiriman ke China dan Korea Selatan masih relatif stabil, menunjukkan peran minor namun konsisten dalam rantai pasokan.

Data ini memperlihatkan terjadinya polarisasi antara negara produsen besar yang ekspornya meningkat dan negara produsen sekunder yang tertekan.

Tekanan Logistik dan Prospek Jangka Pendek

Selain faktor produksi, biaya angkut kapal kargo kering ke India juga meningkat pekan lalu, didorong permintaan charter kapal yang lebih tinggi dan kenaikan bahan bakar.

Musim hujan di India memperlambat proses bongkar muat di pelabuhan sehingga ketersediaan kapal makin terbatas, ikut menekan harga angkut global.

Dalam jangka pendek, ekspor dari Indonesia dan Australia diprediksi tetap solid dengan dukungan cuaca yang membaik dan kelancaran operasional pelabuhan.

Kolombia berpeluang terus menikmati lonjakan permintaan Eropa, sementara Amerika Serikat dan Afrika Selatan berpotensi menghadapi tekanan berlanjut dari lemahnya pasar India.

Kombinasi produksi raksasa China dan arah ekspor global yang beragam menjadi penentu utama pergerakan harga batu bara dalam beberapa pekan ke depan.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Tinggalkan Balasan