KomoditasPasar

Harga Batu Bara Kian Tertekan, China Jadi Biang Kekhawatiran

144
Harga Batu Bara Kian Tertekan, China Jadi Biang Kekhawatiran
Harga batu bara global kembali tertekan akibat lonjakan produksi China. Tren bearish makin kuat, dengan pelemahan mencapai 11% secara year to date hingga pertengahan Agustus 2025.

Tekanan Baru di Pasar Energi Global

JAKARTA, BursaNusantara.com – Harga batu bara kembali melorot pada perdagangan Jumat (15/8/2025), dipicu kekhawatiran kelebihan pasokan dari China.

Harga kontrak batu bara Newcastle untuk Agustus 2025 turun US$ 0,05 menjadi US$ 110,85 per ton.

Harga Newcastle September 2025 terjun lebih dalam, terkoreksi US$ 0,65 ke posisi US$ 109,1 per ton.

Kontrak Newcastle Oktober 2025 juga tidak luput, melemah US$ 0,5 ke US$ 110,6 per ton.

Sementara itu, harga batu bara Rotterdam ikut terseret.

Kontrak Agustus 2025 terkoreksi US$ 0,4 ke US$ 99,4 per ton.

September 2025 jatuh lebih dalam, merosot US$ 0,85 ke US$ 98,15 per ton.

Kontrak Oktober 2025 juga melemah US$ 0,35 menjadi US$ 99,05 per ton.

Produksi China Melonjak

Research and Development ICDX, Girta Yoga, menyebut tren harga batu bara kini bearish.

Faktor kunci yang menekan adalah lonjakan produksi batu bara di China.

China melaporkan produksi naik hampir 4% dalam tujuh bulan pertama tahun ini.

Kenaikan itu melanjutkan tren positif setelah pertumbuhan enam bulan pertama.

Data tersebut memunculkan sinyal pasokan global akan semakin longgar.

Investor pun mengantisipasi penurunan harga berlanjut hingga kuartal IV 2025.

Level Teknis Mulai Diuji

Yoga menegaskan, harga batu bara kini menguji area penting.

Resistance terdekat ada di US$ 112 per ton.

Sementara support terdekat ditetapkan di level US$ 109 per ton.

Jika support ini jebol, tren bearish berpotensi semakin dalam.

Tekanan jual diperkirakan akan bertahan dalam jangka pendek.

Namun rebound terbatas mungkin muncul bila ada gangguan pasokan.

Pelemahan Bulanan dan Tahunan

Dalam sepekan, harga batu bara melemah 1,2%.

Sepanjang Agustus 2025, koreksi harga tercatat sebesar 3,48%.

Jika ditarik lebih panjang, tren pelemahan makin jelas terlihat.

Secara year to date, harga sudah anjlok 11%.

Kondisi ini menunjukkan sektor energi fosil terus tertekan.

Investor kini lebih berhati-hati dalam menempatkan portofolio energi.

Dampak ke Pasar Domestik dan Global

Pelemahan harga batu bara membawa konsekuensi luas.

Ekspor produsen Indonesia berisiko terpangkas jika harga terus jatuh.

Penerimaan negara dari royalti batu bara juga bisa terkoreksi.

Sementara di sisi global, harga murah mendorong importir agresif menimbun pasokan.

Namun strategi ini bisa berbalik jika tren bearish makin panjang.

Trader internasional kini waspada pada fluktuasi harga harian.

Arah Pasar ke Depan

Pasar energi akan terus memantau produksi China dalam bulan-bulan mendatang.

Jika tren kenaikan produksi berlanjut, tekanan jual bisa lebih tajam.

Sebaliknya, gangguan distribusi atau kebijakan ekspor bisa memberi napas harga.

Investor jangka pendek cenderung memilih posisi defensif di tengah ketidakpastian.

Bagi jangka panjang, tren transisi energi tetap menjadi faktor yang membayangi batu bara.

Ekspektasi pasar akan tetap condong ke arah pelemahan harga bila kelebihan pasokan berlanjut.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

×

Selamat Datang

Masuk untuk komentar & diskusi.

Lupa Password?

Password dikirim ke email.

Exit mobile version