Permintaan Lesu dan Stok Tinggi Tekan Harga Batu Bara Global
JAKARTA, BursaNusantara.com – Tekanan pada pasar batu bara kembali meningkat pada Kamis (29/5/2025) setelah permintaan baja domestik China melemah dan stok batu bara mencuat di negara tersebut.
Tren ini memukul harga berbagai jenis batu bara, baik termal maupun coking, di pasar global.
Harga batu bara termal di bursa Newcastle menunjukkan pergerakan yang kontras di berbagai kontrak. Untuk pengiriman Mei 2025, harga tetap stabil di level US$ 100,9 per ton.
Namun, harga kontrak bulan Juni dan Juli 2025 justru mengalami tekanan. Kontrak Juni turun US$ 2,1 menjadi US$ 105,5 per ton, sementara kontrak Juli anjlok lebih dalam, yaitu US$ 2,5 ke level US$ 107,55 per ton.
Batu Bara Rotterdam Turut Alami Penurunan Harga
Stagnasi permintaan juga tercermin dari pergerakan harga di bursa Rotterdam. Harga batu bara kontrak Mei 2025 masih bertahan di angka US$ 95,7 per ton, namun tekanan mulai terasa pada kontrak bulan berikutnya.
Harga untuk pengiriman Juni turun US$ 1,4 menjadi US$ 96,3 per ton. Untuk Juli, harga kembali merosot US$ 1,45 ke posisi US$ 96,5 per ton. Kelemahan permintaan di sektor industri tampaknya turut menyeret harga batu bara Eropa ke level yang lebih rendah.
Pasar Coking Coal China Dilanda Koreksi Tajam
Penurunan paling tajam terjadi pada jenis batu bara coking, khususnya di pasar domestik China. GMK Center melaporkan bahwa tingginya persediaan dan penurunan konsumsi dari sektor baja menyebabkan harga spot batu bara coking (EXW, Anze) terpangkas US$ 2,6 menjadi US$ 170,72 per ton sepanjang periode 16–23 Mei 2025.
Laporan Kallanish juga menggarisbawahi tren ini sebagai akibat dari minimnya pemangkasan produksi. Pabrik kokas di Provinsi Shanxi, yang merupakan pusat produksi utama, tetap beroperasi di kapasitas tinggi sebesar 83% selama sepekan terakhir.
Tidak ada indikasi pengurangan output, sehingga memperparah kelebihan pasokan di pasar.
Bursa Dalian dan Harga Seaborne Ikut Terkoreksi
Imbas dari tekanan pasar domestik menjalar hingga ke kontrak berjangka batu bara coking di Bursa Dalian. Per 29 Mei 2025, kontrak tersebut tercatat turun ke 765 yuan per ton atau sekitar US$ 106,2.
Ini merupakan level terendah sejak tahun 2016, menandakan tekanan struktural yang lebih dalam dari sekadar fluktuasi jangka pendek.
Sementara itu, harga seaborne coking coal tetap relatif stabil meski tak sepenuhnya terhindar dari sentimen negatif. Harga FOB Australia untuk periode 16–23 Mei 2025 hanya turun tipis menjadi US$ 193,76 per ton dari posisi US$ 193,88 pada 16 Mei.
Stabilitas ini menunjukkan bahwa pasar internasional masih menunggu arah lebih jelas dari sisi permintaan.
Outlook Harga Masih dalam Tekanan
Minimnya kebijakan pengendalian produksi dari otoritas China serta tidak adanya tanda-tanda pemulihan permintaan baja mengindikasikan bahwa tekanan harga batu bara masih akan berlanjut.
Kelebihan stok dan operasi pabrik yang tetap agresif menjadi kombinasi yang mempersempit ruang gerak harga untuk pulih dalam waktu dekat.
Pasar global kini menanti sinyal perubahan dari Beijing yang bisa membalik arah tren. Namun selama faktor fundamental belum berubah, prospek harga batu bara tetap menghadapi tekanan di tengah ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.





