JAKARTA, BursaNusantara.com – Harga batu bara mengalami penguatan pada Kamis (27/3/2025), meskipun China tengah menghadapi kelebihan pasokan. Tren ini menarik perhatian pasar global, mengingat negara tersebut merupakan konsumen utama batu bara dunia.
Pergerakan Harga Batu Bara
Harga batu bara Newcastle untuk Maret 2025 stabil di level US$ 96,75 per ton. Sementara itu, harga kontrak April 2025 naik US$ 1,6 menjadi US$ 102 per ton, dan Mei 2025 melonjak US$ 1,65 menjadi US$ 104,9 per ton.
Di pasar Eropa, harga batu bara Rotterdam untuk Maret 2025 tetap di US$ 97,6 per ton. Namun, harga untuk April 2025 meningkat US$ 0,7 menjadi US$ 99,95 per ton, dan Mei 2025 naik US$ 0,9 ke level yang sama, US$ 99,95 per ton.
Kenaikan ini terjadi di tengah sinyal pelemahan harga batu bara di China akibat tingginya stok nasional.
Kelebihan Pasokan Batu Bara di China
Menurut laporan Oilprice, pasar batu bara China berpotensi mengalami koreksi lebih lanjut. Data Bloomberg menunjukkan bahwa stok batu bara di China berada di dekat level tertinggi sepanjang masa, memberikan tekanan besar pada harga.
China Coal Transportation and Distribution Association mencatat bahwa saat ini tidak ada faktor kuat yang mampu mendorong harga naik dalam waktu dekat. Beberapa analis bahkan memperkirakan harga bisa anjlok lebih dalam dalam beberapa bulan ke depan.
Laporan Morgan Stanley juga menyoroti kemungkinan pemerintah China mengambil langkah-langkah pembatasan impor jika harga turun terlalu jauh. Namun, karena terikat oleh aturan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), China tidak dapat melarang impor batu bara secara langsung. Sebagai gantinya, mereka mungkin akan memperlambat masuknya batu bara dengan menerapkan inspeksi ketat atau menunda pengiriman.
Lonjakan Pembelian dan Permintaan
Kelebihan pasokan di China terjadi setelah lonjakan pembelian batu bara pada paruh kedua tahun lalu. Pada saat yang sama, konsumsi justru mengalami perlambatan.
Bahkan, pertumbuhan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) di China hanya mencapai 1,5% pada tahun lalu, yang merupakan laju pertumbuhan terendah dalam satu tahun terakhir. Meski begitu, total produksi listrik berbasis batu bara tetap mencetak rekor tertinggi pada 2024, mencapai 6,34 triliun kWh.
Peran batu bara dalam sistem kelistrikan China masih cukup dominan. Sumber energi ini tetap menjadi andalan sebagai cadangan bagi energi terbarukan seperti tenaga angin dan surya. Dengan meningkatnya kebutuhan listrik akibat elektrifikasi rumah tangga dan transportasi, permintaan batu bara diperkirakan tetap kuat dalam beberapa tahun ke depan.
Dampak Cuaca dan Produksi Pembangkit
Di sisi lain, produksi listrik berbasis batu bara dan gas di China mengalami penurunan selama dua bulan pertama tahun ini. Ini menjadi kejadian ketiga dalam 35 tahun terakhir.
Penurunan ini bukan disebabkan oleh meningkatnya penggunaan energi terbarukan, melainkan faktor cuaca. Musim dingin yang lebih hangat dari biasanya mengurangi kebutuhan listrik untuk pemanas, sehingga mengurangi konsumsi batu bara.
Prospek Pasar Batu Bara ke Depan
Meskipun harga batu bara mengalami kenaikan dalam jangka pendek, prospek ke depan masih dipenuhi ketidakpastian. Tekanan dari kelebihan pasokan di China serta kebijakan pemerintah yang mungkin membatasi impor dapat menjadi faktor yang mempengaruhi pergerakan harga di masa mendatang.
Namun, selama permintaan listrik global terus meningkat dan beberapa negara masih bergantung pada batu bara sebagai sumber energi utama, harga batu bara diperkirakan tetap berfluktuasi dalam rentang yang cukup luas.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.







