Batu Bara Bangkit dari Titik Terendah, Permintaan Listrik Dorong Pemulihan
Pasar batu bara global mulai menunjukkan gejala pemulihan setelah melewati periode penurunan harga yang panjang.
Kenaikan ini ditopang oleh kombinasi musim panas ekstrem di China dan awal musim hujan di India yang mendorong konsumsi energi.
Harga kontrak batu bara Newcastle untuk pengiriman Juni 2025 naik tipis US$ 0,15 menjadi US$ 106,5 per ton.
Sementara kontrak Juli naik lebih agresif US$ 0,85 ke level US$ 107 per ton dan Agustus naik US$ 0,1 menjadi US$ 109 per ton.
Kenaikan juga tercermin di pasar Eropa, meskipun lebih lambat. Harga kontrak Rotterdam Juni 2025 stagnan di US$ 103,7 per ton.
Namun untuk Juli dan Agustus masing-masing naik US$ 1 menjadi US$ 106,4 dan US$ 106,75 per ton.
India Pimpin Lonjakan Impor Batu Bara Termal
India mencatat kenaikan signifikan dalam volume impor batu bara termal pada Mei 2025 yang mencapai 17,4 juta ton.
Angka ini naik 10% dari bulan sebelumnya dan menandai volume tertinggi sejak Juni 2024 menurut laporan BigMint.
Indonesia tetap menjadi pemasok utama dengan kontribusi 9,8 juta ton, naik 16% secara bulanan.
Rusia menguasai 7,5% dari total impor, sementara pasokan dari Afrika Selatan stabil di 3,4 juta ton.
Impor dari Amerika Serikat bahkan melonjak 43% menjadi 2 juta ton, mencerminkan diversifikasi asal pasokan oleh pembeli India.
Musim Hujan Dorong Permintaan Energi di India
Peningkatan konsumsi batu bara di India turut dipicu oleh musim hujan yang datang lebih awal pada tahun ini.
Menurut Direktur RF Centre for Price Indices, Evgeny Grachev, tekanan terhadap jaringan listrik diprediksi meningkat.
Pasokan energi termal berbasis batu bara dinilai menjadi solusi utama selama periode cuaca ekstrem berlangsung.
Dalam konteks ini, kenaikan permintaan batu bara bukan hanya reaktif, tetapi juga strategis untuk menjaga ketahanan energi nasional.
India diperkirakan akan mempertahankan tren pembelian agresif setidaknya hingga akhir kuartal III 2025.
Pasar China Bangkit dari Titik Terendah Musiman
Sementara itu, di China, suhu tinggi ekstrem mendorong lonjakan permintaan energi untuk pendingin ruangan.
Wilayah Beijing dan sekitarnya dilaporkan mencatat suhu hingga 40°C dalam sepekan terakhir.
Kondisi ini mengubah dinamika pasar yang sebelumnya tertekan akibat lesunya permintaan sejak musim gugur lalu.
Harga batu bara acuan di China sempat anjlok ke level terendah empat tahun sebesar 610 yuan (sekitar US$ 85) per ton pada awal Juni.
Namun berdasarkan data Asosiasi Transportasi dan Distribusi Batu Bara China (CCTD), harga sudah naik menjadi 619 yuan pada Rabu (25/6).
Kenaikan Masih Terbatas, Tapi Arah Tren Sudah Berubah
Meski kenaikan harga masih relatif moderat, tren pemulihan mulai mendapat fondasi yang lebih kuat secara fundamental.
Permintaan musiman yang datang bersamaan dari dua negara konsumen terbesar dunia menjadi titik balik yang penting.
China dan India menyumbang lebih dari 60% konsumsi batu bara global sehingga dinamika domestik mereka sangat memengaruhi harga internasional.
Situasi ini berpotensi memberi sinyal optimisme bagi eksportir utama seperti Indonesia, Australia, dan Afrika Selatan.
Namun, pelaku pasar tetap mewaspadai fluktuasi jangka pendek akibat ketidakpastian geopolitik dan arah kebijakan energi hijau.
Dampak Langsung bagi Eksportir Indonesia
Kenaikan permintaan dari India dan China membuka peluang peningkatan volume ekspor batu bara Indonesia dalam beberapa bulan ke depan.
Fakta bahwa Indonesia masih mendominasi pasar India menunjukkan bahwa harga yang kompetitif menjadi faktor penentu utama.
Volume ekspor sebesar 9,8 juta ton pada Mei 2025 menjadi pencapaian tertinggi dalam enam bulan terakhir.
Jika tren ini bertahan, perusahaan tambang nasional berpotensi menikmati margin ekspor yang lebih baik di semester II 2025.
Selain itu, ketergantungan India terhadap batu bara Indonesia memberi ruang negosiasi kontrak jangka panjang di tengah tren harga positif.
Investor Perlu Waspadai Musim dan Volatilitas
Meski sentimen pasar tampak membaik, investor perlu tetap memperhitungkan faktor musiman dan volatilitas harga komoditas.
Pemulihan ini masih sangat dipengaruhi oleh cuaca ekstrem dan pola konsumsi energi yang tidak stabil.
Selain itu, agenda transisi energi di negara-negara maju dapat membatasi ruang kenaikan harga batu bara dalam jangka panjang.
Namun dalam jangka pendek, emiten batu bara di Bursa Efek Indonesia kemungkinan akan mendapat angin segar.
Pergerakan harga global yang membaik bisa mendorong kinerja saham ADRO, PTBA, ITMG, dan BUMI di kuartal III 2025.
Narasi Baru Pasar Energi: Bukan Sekadar Pulih, Tapi Responsif
Apa yang terjadi di pasar batu bara saat ini bukan sekadar pemulihan teknikal, tetapi sinyal bahwa pasar menjadi semakin responsif terhadap kebutuhan energi darurat.
Negara konsumen mulai mengambil langkah antisipatif menghadapi pola cuaca ekstrem yang makin tak terduga.
Harga batu bara kini bergerak seiring sentimen musiman, logistik, dan keputusan cepat dari otoritas energi negara pembeli.
Ini menjadi pelajaran penting bahwa volatilitas bukan hanya risiko, tapi juga peluang bila dikelola dengan kecermatan strategis.
Pasar sedang mencari keseimbangan baru, dan momentum ini bisa menjadi titik balik penting bagi strategi jangka menengah pelaku usaha energi di kawasan Asia.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.











