Geser Kebawah
HeadlineKomoditasPasar

Harga Batu Bara Terjun Bebas: Apa Faktor Utamanya?

221
×

Harga Batu Bara Terjun Bebas: Apa Faktor Utamanya?

Sebarkan artikel ini
harga batu bara terjun bebas apa faktor utamanya kompres
Harga batu bara anjlok drastis pada Januari 2025 akibat sentimen dari Indonesia dan China. Simak penyebab utama, data produksi, serta prediksi harga ke depan.

JAKARTA, BursaNusantara.com – Harga batu bara terus mengalami tekanan signifikan memasuki awal 2025. Pada Jumat (10/1/2025), harga batu bara Newcastle kontrak Januari tercatat turun US$ 2,25 menjadi US$ 113,5 per ton. Penurunan ini juga dirasakan pada kontrak Februari dan Maret yang masing-masing terkoreksi US$ 1,3 dan US$ 1,25.

Tidak hanya Newcastle, harga batu bara Rotterdam juga menunjukkan tren serupa. Untuk kontrak Februari 2025, harga terjun US$ 1,6 menjadi US$ 102,75 per ton, sementara kontrak Maret 2025 turun US$ 0,95 menjadi US$ 100,25 per ton.

Sponsor
Iklan

Meski ada sedikit kenaikan pada beberapa kontrak, tren umum harga batu bara global cenderung melemah. Hal ini dipengaruhi oleh faktor produksi dan sentimen pasar dari dua negara besar, Indonesia dan China.


Produksi Batu Bara Indonesia dan China: Rekor Baru

Indonesia mencatatkan produksi batu bara tertinggi sepanjang sejarah pada 2024 dengan total produksi mencapai 831 juta ton, meningkat 17% dari target awal pemerintah. Peningkatan ini didorong oleh lonjakan permintaan energi domestik dan global.

Di sisi lain, China juga terus meningkatkan produksi batu bara untuk memenuhi kebutuhan energi nasionalnya. Menurut Asosiasi Transportasi dan Distribusi Batu Bara China, produksi batu bara negara tersebut diperkirakan naik 1,5% pada 2025, mencapai 4,82 miliar ton.

Namun, peningkatan produksi yang besar ini turut menciptakan tekanan pada harga. Stok batu bara yang tinggi di pasar domestik China menjadi salah satu faktor utama yang menekan harga batu bara termal mereka ke kisaran 630-730 yuan per ton pada kuartal kedua tahun ini.


Penurunan Permintaan Global

Meskipun konsumsi batu bara global masih tinggi, laporan Badan Energi Internasional (IEA) menyebutkan bahwa permintaan batu bara di negara-negara maju terus menurun. IEA memperkirakan bahwa permintaan global akan mencapai puncaknya pada 2027 sebelum mulai menurun seiring peralihan ke energi terbarukan.

Sementara itu, impor batu bara China diproyeksikan turun 1,9% menjadi 525 juta ton pada 2025, setelah mengalami kenaikan signifikan sebesar 13% pada 2024. Penurunan impor ini menjadi sinyal tambahan bahwa pasar batu bara global tengah menghadapi tantangan berat.


Apa Dampaknya Bagi Investor?

Penurunan harga batu bara memberikan tantangan besar bagi perusahaan tambang dan eksportir, termasuk Indonesia. Di sisi lain, ini juga menjadi peluang bagi konsumen energi untuk mendapatkan bahan bakar dengan harga lebih terjangkau.

Namun, investor perlu berhati-hati karena tren penurunan harga ini mungkin bertahan dalam jangka menengah, terutama jika produksi global terus meningkat tanpa diimbangi oleh pertumbuhan permintaan yang signifikan.


Harga batu bara yang terus menurun mencerminkan dinamika pasar energi global yang kompleks. Meski Indonesia dan China mencatatkan produksi tinggi, stok melimpah dan permintaan yang melemah tetap menjadi tantangan utama. Apakah tren ini akan berlanjut? Pantau terus perkembangan pasar batu bara di situs kami untuk informasi terkini.

Ikuti media sosial kami untuk update terbaru

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.