Bapanas Soroti Lonjakan Harga Bawang Putih di Indonesia Timur
JAKARTA, BursaNusantara.com – Harga bawang putih meroket di sejumlah wilayah Indonesia timur hingga memaksa Badan Pangan Nasional (Bapanas) bersiap melakukan intervensi segera.
Lonjakan harga dinilai tak wajar karena telah menembus 35,57% di atas Harga Acuan Penjualan (HAP) pemerintah.
Bapanas mencatat, harga konsumen untuk bawang putih mencapai Rp54.229 per kilogram di Papua dan kawasan timur lainnya.
Deputi III Bapanas, Andiko Noto Susanto, menyampaikan lonjakan ini perlu segera dikendalikan untuk menjaga stabilitas pasokan dan inflasi pangan.
Pernyataan itu ia sampaikan dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi, Senin (16/6).
Papua Pegunungan dan Sulawesi Tengah Jadi Episentrum Kenaikan
Harga tertinggi tercatat di Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua Selatan, Papua, serta Sulawesi Tengah.
Wilayah-wilayah tersebut mencatat harga jauh melampaui ambang kewajaran berdasarkan data Panel Harga Pangan.
Sebaliknya, daerah seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat mencatat harga bawang putih paling rendah di tingkat konsumen.
Andiko menjelaskan bahwa disparitas ini menjadi perhatian serius karena berpotensi memperluas ketimpangan distribusi.
Kondisi ini juga menjadi indikator lemahnya sistem logistik pangan nasional di kawasan timur.
Bapanas menyatakan situasi saat ini berada dalam status “perlu intervensi” secara langsung oleh pemerintah.
Impor Bawang Putih Masih Seret, Kepatuhan Importir Rendah
Andiko menyoroti rendahnya realisasi impor sebagai penyebab utama kenaikan harga.
Dari total 73 importir bawang putih yang terdaftar, hanya sebagian kecil yang aktif merealisasikan kuota impor.
Realisasi impor tercatat baru menyentuh angka 32%, jauh dari target pemenuhan kebutuhan nasional.
Banyak importir belum menunaikan kewajiban izin edar dan kewajiban wajib tanam sesuai regulasi.
Situasi ini mempersempit pasokan di pasar domestik, terutama di wilayah dengan biaya distribusi tinggi.
Pemerintah menilai ketidakpatuhan tersebut ikut memperparah kelangkaan di tingkat konsumen.
Tantangan Distribusi dari Negara Asal dan Pelabuhan
Menurut Bapanas, masalah distribusi dari negara asal juga turut menambah beban harga di pasar lokal.
Distribusi langsung dari pelabuhan utama ke wilayah timur menghambat proses pengawasan stok dan suplai.
Ketergantungan terhadap pengiriman terpusat memperbesar ongkos logistik dan waktu tempuh distribusi.
Hal ini berdampak langsung terhadap harga jual di pasar tradisional dan eceran.
Andiko menyebut perlunya pembenahan sistem distribusi dan pengawasan stok di gudang sebagai langkah strategis.











