Geser Kebawah
HeadlineKomoditasPasar

Harga CPO Melemah, India Batalkan Impor Puluhan Ribu Ton

158
×

Harga CPO Melemah, India Batalkan Impor Puluhan Ribu Ton

Sebarkan artikel ini
Harga CPO Melemah, India Batalkan Impor Puluhan Ribu Ton
Harga minyak sawit turun 1,12% setelah India membatalkan impor besar, tekanan datang dari kompetisi dan permintaan lemah

Harga CPO Tertekan di Tengah Lesunya Permintaan Asia

JAKARTA, BursaNusantara.com – Harga minyak kelapa sawit mentah (CPO) global mengalami koreksi ringan dalam perdagangan terbaru pagi ini, seiring tekanan dari pembatalan pembelian besar oleh India dan ketidakpastian permintaan dari Tiongkok.

Harga berjangka CPO Malaysia (FCPOc1) turun menjadi MYR 4.072 per ton, melemah 1,12% dibanding penutupan sebelumnya.

Sponsor
Iklan

Rentang perdagangan harian bergerak di MYR 4.070 hingga 4.135 per ton.

Harga global CPO di Trading Economics mencatat kenaikan ringan ke MYR 4.135 per ton, naik 0,49% dalam 24 jam terakhir.

India membatalkan pengiriman sekitar 65.000 ton CPO karena margin impor yang menyusut akibat harga tinggi.

Hal ini menekan sentimen pasar, mengingat India adalah salah satu konsumen CPO terbesar dunia.

Pengaruh Eksternal dan Pelemahan Permintaan

Permintaan dari Tiongkok masih cenderung lemah di tengah tekanan ekonomi domestik dan perlambatan sektor manufaktur.

Harga juga dipengaruhi oleh persaingan dengan minyak nabati lainnya seperti minyak kedelai yang saat ini lebih murah di pasar spot.

Namun, depresiasi ringgit Malaysia terhadap dolar AS memberikan bantalan terhadap tekanan penurunan harga lebih dalam.

Lonjakan harga minyak mentah global turut menjadi faktor penyeimbang, mengingat keterkaitan minyak sawit dalam biofuel.

Analisis BursaNusantara

Pasar CPO saat ini berada dalam fase konsolidasi, menunggu arah yang lebih jelas dari permintaan konsumen utama.

Pelemahan harga jangka pendek dinilai masih wajar mengingat dinamika fundamental yang belum berubah secara signifikan.

Tren teknikal menunjukkan potensi pengujian support kuat di MYR 4.050, yang jika ditembus bisa membuka ruang pelemahan lanjutan.

Namun, jika permintaan rebound dari sektor industri pangan dan biodiesel Asia, harga bisa kembali stabil di atas MYR 4.100.

Dalam kondisi seperti ini, pelaku pasar disarankan mencermati perkembangan kebijakan ekspor, terutama dari Indonesia dan Malaysia.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Tinggalkan Balasan