Geser Kebawah
HeadlineKomoditasPasar

Harga CPO Menguat, Minyak Kedelai dan Permintaan China Jadi Motor Utama

184
×

Harga CPO Menguat, Minyak Kedelai dan Permintaan China Jadi Motor Utama

Sebarkan artikel ini
Harga CPO Menguat, Minyak Kedelai dan Permintaan China Jadi Motor Utama
Harga CPO di Bursa Malaysia naik didorong lonjakan minyak kedelai dan ekspektasi permintaan tinggi dari China.

Reli Harga CPO Dipicu Minyak Kedelai dan Ekspektasi Permintaan China

JAKARTA, BursaNusantara.com – Harga kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) kembali menanjak pada perdagangan Selasa (27/5/2025), mengikuti reli minyak kedelai di pasar global dan ekspektasi pemulihan permintaan dari China.

Pergerakan positif ini menambah optimisme pasar terhadap kinerja jangka pendek komoditas unggulan Asia Tenggara tersebut.

Sponsor
Iklan

Kenaikan harga terjadi hampir merata pada seluruh tenor kontrak berjangka, menunjukkan sentimen kuat dari sisi fundamental dan teknikal.

Investor dan pelaku industri melihat tanda-tanda bahwa permintaan terhadap minyak nabati, khususnya CPO, akan meningkat dalam beberapa bulan ke depan.

Lonjakan Harga Minyak Kedelai Menjadi Pemicu Langsung

Minyak kelapa sawit dan minyak kedelai dikenal sebagai dua komoditas substitusi utama dalam industri minyak nabati dunia. Ketika harga minyak kedelai melonjak, permintaan terhadap CPO cenderung ikut terkerek sebagai alternatif yang lebih kompetitif.

Di Chicago Board of Trade (CBoT), harga minyak kedelai mengalami reli signifikan sejak awal pekan ini. Hal tersebut memicu lonjakan permintaan spekulatif terhadap CPO di Bursa Malaysia karena pelaku pasar mengantisipasi terjadinya perpindahan konsumsi ke minyak sawit.

Analis industri mengamati korelasi ini sebagai pendorong kuat pergerakan harga jangka pendek. Minyak kedelai yang semakin mahal otomatis meningkatkan daya tarik minyak sawit, apalagi dalam kondisi pasokan global yang masih belum sepenuhnya pulih.

Harga CPO Semua Tenor Naik, Sentimen Positif Meluas

Data dari Bursa Malaysia Derivatives menunjukkan kenaikan harga pada hampir seluruh kontrak CPO yang aktif diperdagangkan. Kenaikan tertinggi tercatat pada kontrak September 2025 yang menguat 37 Ringgit Malaysia.

Kontrak Juni 2025 naik 32 Ringgit Malaysia menjadi 3.867 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak Juli 2025 juga naik 32 Ringgit Malaysia ke posisi 3.875 Ringgit Malaysia per ton.

Sementara itu, kontrak Agustus 2025 mengalami peningkatan 35 Ringgit Malaysia menjadi 3.868 Ringgit Malaysia per ton. Kenaikan berlanjut pada kontrak Oktober dan November yang masing-masing menguat 36 dan 33 Ringgit Malaysia, menempatkan keduanya di kisaran 3.865–3.866 Ringgit Malaysia per ton.

Lonjakan serentak ini menunjukkan bahwa pelaku pasar tidak hanya bereaksi terhadap momentum jangka pendek, tetapi juga memperhitungkan tren fundamental jangka menengah.

Permintaan dari China Dinilai Jadi Faktor Penentu

Selain faktor teknikal dan substitusi harga, pasar juga merespons ekspektasi pemulihan permintaan dari China yang selama ini menjadi konsumen terbesar CPO global. Pemulihan ekonomi pasca-pandemi serta percepatan konsumsi domestik di negara tersebut diyakini akan mengangkat permintaan minyak sawit.

Menurut David Ng, analis dan pedagang minyak sawit yang dikutip Bernama, sentimen terhadap peningkatan ekspor ke China memainkan peran besar dalam penguatan harga. “Kami melihat level support berada di 3.800 Ringgit Malaysia per ton dan resistance di 4.000 Ringgit Malaysia per ton,” jelasnya.

Kondisi ini menciptakan ruang bagi pelaku pasar untuk bergerak aktif dalam kisaran teknikal tersebut, terutama dengan dukungan permintaan yang mulai membaik di luar negeri.

Minyak Nabati Global dalam Tren Positif, CPO Ikut Kecipratan

Pasar minyak nabati secara umum tengah mengalami tren pemulihan harga setelah periode tekanan sepanjang kuartal pertama 2025. Terutama di tengah tekanan geopolitik dan gangguan distribusi logistik, harga sejumlah komoditas agrikultur mengalami pemulihan teknikal.

CPO yang selama ini menjadi alternatif utama dalam produksi makanan dan energi terbarukan ikut terdorong. Di banyak negara berkembang, CPO tetap menjadi pilihan utama karena efisiensi biaya produksi yang lebih tinggi dibanding minyak nabati lain.

Analis komoditas global memprediksi bahwa bila tren minyak nabati ini berlanjut, maka harga CPO akan terus mendapat dukungan tambahan. Potensi ketegangan baru di Laut Merah dan Timur Tengah bahkan bisa memperpanjang tekanan pada rantai pasok, yang menguntungkan produsen seperti Indonesia dan Malaysia.

Spekulan dan Hedger Kembali Masuk ke Pasar

Kenaikan harga juga menjadi sinyal bagi spekulan dan hedger untuk kembali aktif di pasar berjangka. Volume perdagangan kontrak CPO meningkat secara bertahap dalam beberapa hari terakhir, menunjukkan kembalinya minat dari kalangan investor institusional.

Dengan situasi harga yang kini relatif stabil di atas support 3.800 Ringgit Malaysia per ton, pelaku pasar merasa lebih nyaman menempatkan posisi beli jangka pendek. Strategi ini dinilai ideal dalam situasi permintaan yang mulai pulih dan potensi harga yang masih bisa bergerak menuju 4.000 Ringgit Malaysia per ton.

Pelaku industri seperti produsen dan eksportir juga mulai mengambil posisi hedging untuk mengamankan harga jual mereka. Ini turut mendorong likuiditas pasar dan memperkuat tren positif harga.

Indonesia dan Malaysia Berpotensi Diuntungkan

Sebagai dua negara produsen utama CPO dunia, Indonesia dan Malaysia diperkirakan menjadi pihak yang paling diuntungkan dari reli harga ini. Kenaikan harga CPO akan memperbaiki neraca ekspor kedua negara serta memberikan ruang fiskal lebih besar dari sisi penerimaan negara.

Di Indonesia, pemerintah tengah mendorong hilirisasi CPO melalui program B35 dan B40, yang akan memperluas konsumsi domestik. Harga ekspor yang tinggi turut memperkuat pendapatan perusahaan sawit nasional dan mendorong investasi baru di sektor ini.

Sementara itu, Malaysia yang masih dalam fase pemulihan produksi pasca cuaca ekstrem juga melihat peluang dari permintaan China. Eksportir Malaysia diperkirakan akan meningkatkan pengiriman dalam 1-2 bulan mendatang untuk memanfaatkan harga yang menguntungkan.

Tantangan Masih Ada, Tapi Prospek Tetap Cerah

Meski pasar menunjukkan tren positif, sejumlah risiko tetap membayangi harga CPO. Salah satunya adalah volatilitas pasar energi global yang bisa berdampak pada permintaan biofuel berbasis CPO.

Selain itu, tekanan regulasi dari negara-negara Eropa terhadap ekspor CPO yang tidak berkelanjutan juga masih menjadi isu. Namun, dengan pergeseran fokus ekspor ke Asia dan Timur Tengah, tantangan ini dinilai bisa dikompensasi secara bertahap.

Menurut analisis Mohamad Ali, Pakar Analisis Saham Senior di BursaNusantara.com, pasar CPO memasuki fase konsolidasi optimis.

“Kalau harga minyak kedelai bertahan tinggi dan permintaan China terus membaik, maka harga CPO bisa menembus level psikologis 4.000 Ringgit,” jelasnya.

Ali juga menyoroti pentingnya kebijakan pemerintah terkait pajak ekspor dan subsidi domestik untuk menjaga daya saing. “Harga bagus harus dibarengi efisiensi agar industri tetap kompetitif jangka panjang,” tambahnya.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.