Geser Kebawah
HeadlineKomoditasPasar

Harga CPO Terbaru Melonjak 8,04 Persen dalam Sepekan

85
×

Harga CPO Terbaru Melonjak 8,04 Persen dalam Sepekan

Sebarkan artikel ini
Harga CPO Terbaru Melonjak 8,04 Persen dalam Sepekan
Harga CPO terbaru tembus 4.365 ringgit per ton akibat konflik Timur Tengah. Simak faktor pelemahan ringgit dan prospek pasokan global di sini!

Kenaikan Mingguan Terbesar Sejak Akhir Tahun 2024

JAKARTA, BursaNusantara.com – Harga CPO terbaru mencatatkan kenaikan selama dua hari berturut-turut hingga penutupan perdagangan pada Jumat, 6 Maret 2026.

Kontrak acuan minyak sawit mentah untuk pengiriman Mei di Bursa Malaysia Derivatives Exchange ditutup melonjak 3,80 persen ke level 4.365 ringgit per ton.

Kenaikan mingguan ini mencapai 8,04 persen dan menjadi rekor pertumbuhan tertinggi dalam satu pekan sejak akhir November 2024.

Dampak Geopolitik Timur Tengah dan Harga Energi

Berdasarkan catatan PhillipCapital yang dikutip Dow Jones Newswires, penguatan harga di pasar Asia didorong oleh kenaikan harga minyak mentah dunia.

Kekhawatiran terhadap gangguan pasokan di wilayah Timur Tengah menjadi faktor utama yang memacu minat beli investor pada komoditas energi.

Eskalasi serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran dilaporkan terus mengganggu jalur distribusi pasokan minyak internasional.

Lonjakan harga energi ini secara otomatis meningkatkan daya tarik minyak sawit mentah sebagai alternatif bahan bakar nabati yang lebih ekonomis.

Pengaruh Mata Uang dan Persaingan Minyak Nabati

Minyak sawit umumnya mengikuti pergerakan harga minyak nabati pesaing karena ketatnya persaingan dalam memperebutkan pangsa pasar global.

Laporan Reuters menyebutkan bahwa kontrak minyak sawit di bursa Dalian melonjak 1,8 persen, sementara minyak kedelai di Chicago justru turun 0,99 persen.

Pelemahan nilai tukar mata uang ringgit Malaysia sebesar 0,18 persen terhadap dolar AS turut memberikan sentimen positif bagi perdagangan.

Kondisi mata uang yang melemah membuat harga minyak sawit menjadi lebih terjangkau bagi para pemegang mata uang asing lainnya.

Tekanan Ekspor dan Antisipasi Data Ekonomi China

Meskipun harga menunjukkan tren penguatan, laju kenaikan tersebut masih dibatasi oleh penurunan volume ekspor selama bulan Februari.

Lembaga survei kargo mencatat bahwa pengiriman pada bulan Februari merosot antara 21,5 persen hingga 22,5 persen dibandingkan bulan Januari.

Penurunan pengiriman ke pasar luar negeri tetap terjadi meskipun terdapat aktivitas pembelian menjelang perayaan Idulfitri.

Para pelaku pasar kini cenderung bersikap hati-hati menjelang rilis data inflasi konsumen dan perdagangan dari China pada pekan depan.

Ketahanan harga komoditas ini akan sangat bergantung pada rilis data ekonomi negara pembeli utama tersebut guna menentukan arah tren selanjutnya.

Lihat berita terbaru lainnya di Google Berita | Bursa Nusantara

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Memuat Grafik...

Tinggalkan Balasan