Geser Kebawah
KomoditasPasar

Harga CPO Tersungkur, Bursa Malaysia Goyang

87
×

Harga CPO Tersungkur, Bursa Malaysia Goyang

Sebarkan artikel ini
Harga kontrak CPO di Bursa Malaysia anjlok akibat ekspektasi lonjakan produksi. Pasar tertekan, level support dan resistance jadi perhatian investor.

Tekanan Pasokan Bayangi Harga CPO di Bursa Malaysia

JAKARTA, BursaNusantara.com – Harga kontrak minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) ditutup turun tajam pada Kamis (31/7/2025), seiring meningkatnya kekhawatiran pasar atas lonjakan pasokan dalam waktu dekat.

Pelemahan harga ini terlihat merata pada seluruh kontrak pengiriman hingga awal 2026, yang menjadi sinyal awal tekanan pasokan musiman menjelang puncak panen sawit di kawasan Asia Tenggara.

Sponsor
Iklan

Ekspektasi Panen Dorong Koreksi Bertahap

Penurunan signifikan terjadi pada kontrak CPO untuk Agustus hingga Januari 2026, dengan penurunan harga berkisar 34–48 Ringgit Malaysia per ton.

Kontrak Agustus 2025 turun 34 Ringgit menjadi RM 4.175 per ton, sedangkan kontrak September terkoreksi lebih dalam, turun 46 Ringgit menjadi RM 4.208 per ton.

Kontrak Oktober dan November masing-masing melemah 48 dan 46 Ringgit menjadi RM 4.230 dan RM 4.247 per ton.

Harga kontrak Desember 2025 dan Januari 2026 ikut tertekan, masing-masing berada di RM 4.247 dan RM 4.307 per ton, menandai kecenderungan pasar terhadap skenario oversupply di sisa tahun ini.

Trader minyak sawit senior, David Ng, menilai bahwa pasar mulai bersikap defensif menghadapi musim panen yang berpotensi menambah tekanan pada level harga saat ini.

Dinamika Harga dalam Tren Tekanan Musiman

Level support harga saat ini berada di kisaran RM 4.180, sementara resistance dipatok pada RM 4.350 per ton, mencerminkan batas teknikal yang diamati pelaku pasar jangka pendek.

Kondisi cuaca yang mendukung di Malaysia dan Indonesia selama Juni–Juli memperkuat proyeksi kenaikan output, terutama menjelang kuartal IV yang dikenal sebagai periode puncak produksi tahunan.

Kondisi ini menyebabkan sentimen bearish menguat karena pasokan diperkirakan melebihi permintaan jangka pendek.

Pasar juga memperhitungkan potensi tekanan dari sisi permintaan global, terutama dari India dan Tiongkok yang biasanya menjadi pembeli terbesar CPO Asia Tenggara.

Namun ketidakpastian kebijakan tarif impor dan ketersediaan stok domestik di negara tujuan ekspor turut membatasi proyeksi rebound harga dalam waktu dekat.

Implikasi terhadap Ekspor dan Harga Domestik

Dengan tren harga yang menurun, produsen sawit di kawasan ASEAN harus bersiap menghadapi tekanan margin yang lebih sempit, terutama bagi eksportir yang terpapar harga spot dan memiliki kontrak forward volume besar.

Kondisi ini juga berdampak pada harga CPO domestik, terutama di Indonesia yang menggunakan harga referensi internasional sebagai dasar penetapan harga lelang dan ekspor.

Pelemahan harga global CPO turut berpotensi menekan penerimaan ekspor negara produsen, yang pada semester pertama 2025 masih tumbuh tipis dibanding tahun sebelumnya.

Namun demikian, volume ekspor kemungkinan tetap tinggi, karena produsen memanfaatkan momentum produksi melimpah untuk menstabilkan arus kas dan menekan beban penyimpanan.

Di sisi lain, pelaku industri hilir sawit—seperti makanan olahan dan kosmetik—dapat memanfaatkan harga bahan baku yang lebih murah untuk memperbaiki margin produksi mereka.

Sikap Investor dan Prospek Harga Semester II

Pasar berjangka CPO saat ini mencerminkan antisipasi pelaku pasar terhadap fluktuasi produksi dan respons permintaan di paruh kedua 2025.

Jika volume ekspor tetap solid dan tidak terjadi perubahan drastis pada kebijakan perdagangan global, harga CPO berpotensi stabil kembali di atas level psikologis RM 4.200.

Investor dan spekulan kini cenderung mengadopsi strategi wait and see hingga data resmi produksi dan ekspor bulan Juli–Agustus dirilis oleh otoritas terkait.

Di tengah dinamika ini, perhatian investor juga mulai beralih pada potensi gangguan cuaca yang bisa mengganggu panen dan distribusi, termasuk kemungkinan efek El Niño lanjutan yang masih dipantau.

Namun sejauh ini, kecenderungan pasar tetap bearish, setidaknya hingga tekanan pasokan dapat dikompensasi oleh peningkatan permintaan atau intervensi regulasi dari negara pengimpor utama.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Tinggalkan Balasan