HeadlineKomoditasPasar

Harga CPO Tertekan Sentimen Bearish, Pasar Pantau Potensi Lonjakan Produksi

74
Harga CPO Tertekan Sentimen Bearish, Pasar Pantau Potensi Lonjakan Produksi
Harga kontrak CPO di Bursa Malaysia melemah pada Rabu (25/6/2025), dipicu koreksi minyak kedelai dan kekhawatiran kenaikan produksi sawit.

Sentimen Negatif Bayangi Perdagangan CPO

JAKARTA, BursaNusantara.com – Harga kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) ditutup melemah pada Rabu (25/6/2025), menandai tekanan lanjutan dari sisi teknikal dan fundamental yang belum menemukan penopang baru.

Pelemahan harga terjadi secara merata di seluruh tenor kontrak, dipengaruhi oleh turunnya harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade serta munculnya ekspektasi peningkatan produksi sawit dalam waktu dekat.

Kontrak berjangka CPO Juli 2025 turun 24 Ringgit Malaysia ke posisi 3.939 Ringgit Malaysia per ton, mencerminkan tekanan penjualan jangka pendek yang cukup tajam.

Adapun kontrak Agustus 2025 juga kehilangan 24 Ringgit Malaysia ke level 3.958 Ringgit Malaysia per ton, memperpanjang pelemahan beruntun sejak awal pekan.

Kontrak September 2025 ikut terkoreksi 18 Ringgit Malaysia ke harga 3.965 Ringgit Malaysia per ton, sementara kontrak Oktober melemah 11 Ringgit Malaysia ke 3.969 Ringgit Malaysia per ton.

Kontrak November ditutup di 3.978 Ringgit Malaysia per ton, turun 6 Ringgit Malaysia, dan Desember melemah 2 Ringgit Malaysia menjadi 3.994 Ringgit Malaysia per ton.

Tekanan dari Sisi Produksi dan Geopolitik

Analis dan pelaku pasar menilai koreksi harga CPO kali ini lebih disebabkan oleh faktor eksternal, bukan lemahnya permintaan.

Analis David Ng mengatakan sentimen pasar saat ini tertekan oleh potensi peningkatan produksi sawit dalam beberapa bulan mendatang.

Ia memperkirakan level support utama berada di 3.850 Ringgit Malaysia per ton, dengan resistance psikologis di 4.080 Ringgit Malaysia.

Sementara itu, pengamat dari Fastmarkets Palm Oil Analytics, Dr Sathia Varqa, menyebut bahwa pasar CPO masih bergerak dalam pola datar hingga melemah, mengikuti tren lesu sejak sesi pagi.

Meski data ekspor menunjukkan perbaikan dan produksi sebenarnya menurun, pasar belum merespons secara positif karena dominasi sentimen risiko global.

Pasar Masih Terjebak Kekhawatiran Makro

Sathia mengungkapkan bahwa investor masih ragu untuk kembali masuk ke pasar sawit, meski indikator fundamental terlihat mulai membaik.

Menurutnya, pemulihan ekspor belum cukup kuat untuk melawan tekanan psikologis dari meredanya risiko geopolitik global.

Gencatan senjata antara Iran dan Israel membuat harga minyak mentah kehilangan premi risikonya, sehingga ikut menekan daya tarik minyak nabati seperti CPO.

Harga minyak kedelai yang menjadi pesaing utama sawit di pasar global juga menunjukkan tren melemah, mempersempit ruang apresiasi harga CPO dalam jangka pendek.

Investor institusional dan pelaku perdagangan fisik masih memilih pendekatan wait and see, menunggu katalis lebih solid sebelum melakukan pembelian agresif.

Pergerakan Harga Masih Dibayangi Ketidakpastian

Dari sisi teknikal, tekanan terhadap kontrak jangka pendek seperti Juli dan Agustus menandakan bahwa pasar belum memiliki keyakinan terhadap potensi rebound.

Volume perdagangan juga dilaporkan relatif tipis, mengindikasikan bahwa tekanan jual lebih dominan dibandingkan aktivitas beli baru.

Pasar lebih banyak didorong oleh ekspektasi produksi sawit yang berpotensi meningkat seiring membaiknya cuaca di kawasan produsen utama.

Sinyal ini memperkuat asumsi bahwa pasokan bisa bertambah meski saat ini produksi masih dalam fase rendah musiman.

Hal ini menjadi perhatian utama bagi pelaku komoditas yang mengantisipasi potensi oversupply dalam kuartal ketiga 2025.

Strategi Pasar Mulai Menyesuaikan

Dalam kondisi seperti ini, strategi hedging dan short-selling menjadi pendekatan yang banyak diambil oleh trader institusi.

Mereka cenderung mengunci posisi beli sebelumnya dan memanfaatkan koreksi untuk melakukan penyesuaian portofolio.

Beberapa pelaku juga memilih untuk memarkir dana di instrumen derivatif minyak nabati lainnya yang menunjukkan pola lebih stabil.

Namun bagi trader jangka panjang, level support saat ini dinilai menarik untuk mulai mencicil akumulasi jika sinyal fundamental mulai menguat.

Pasar juga akan mencermati perkembangan ekspor mingguan dan data produksi bulan berjalan sebagai petunjuk arah berikutnya.

Ketergantungan pada Sentimen Eksternal

Dengan minimnya sentimen positif dari dalam pasar CPO sendiri, pergerakan harga saat ini sangat tergantung pada dinamika eksternal.

Jika ketegangan geopolitik kembali meningkat atau harga minyak mentah kembali reli, potensi rebound CPO bisa muncul lebih cepat dari perkiraan.

Sebaliknya, jika harga minyak kedelai terus melemah dan produksi sawit meningkat tajam, tekanan terhadap CPO bisa makin dalam.

Arah kebijakan suku bunga global dan kondisi permintaan dari importir besar seperti India dan China juga menjadi variabel kunci.

Dalam jangka pendek, pasar tampaknya masih bergerak dalam rentang konsolidasi tanpa arah jelas, menunggu katalis nyata.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Grafik tidak tersedia karena JavaScript dinonaktifkan di browser Anda.
×

Selamat Datang

Masuk untuk komentar & diskusi.

Lupa Password?

Password dikirim ke email.

Exit mobile version