Investor kini tengah mengamati dengan cermat rilis data Indeks Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) yang merupakan indikator inflasi utama bagi The Fed.
Data ini dijadwalkan dirilis pada Jumat (28/2) dan diharapkan menjadi faktor penentu apakah pemangkasan suku bunga akan dilanjutkan atau ditunda.
Jika inflasi tetap tinggi, para analis berpendapat bahwa emas seharusnya kembali menguat dalam jangka panjang, meskipun saat ini terjadi periode konsolidasi.
Menurut David Meger, Direktur Perdagangan Logam di High Ridge Futures, “Periode konsolidasi yang kita lihat saat ini merupakan fase normal dalam siklus pasar emas, menjelang rilis data ekonomi penting yang bisa mengarahkan kebijakan suku bunga.”
Sementara itu, analis pasar Frank Watson dari Kinesis Money menambahkan bahwa bank sentral selama ini telah menjadi pendorong utama permintaan emas, dan tren tersebut akan terus berlanjut jika inflasi terus mendominasi.
Prospek Harga Emas ke Depan
Strategi Investasi dan Prediksi Pasar
Meskipun harga emas mengalami koreksi saat ini, sejumlah analis tetap optimis bahwa tren bullish dapat kembali terwujud.
Jika data inflasi menunjukkan penurunan tekanan inflasi atau jika kebijakan suku bunga berubah, investor diperkirakan akan kembali membeli emas sebagai aset safe haven.
Sejumlah analis memproyeksikan bahwa jika kondisi ekonomi global membaik, harga emas dapat kembali mendekati atau bahkan melampaui rekor tertinggi sebelumnya.
Peluang bagi Investor
Bagi investor yang mencari peluang jangka panjang, periode koreksi saat ini dapat dianggap sebagai kesempatan untuk melakukan pembelian.
Dengan volatilitas yang tinggi dan fluktuasi harga yang cukup signifikan, strategi dollar-cost averaging bisa menjadi salah satu cara untuk mengoptimalkan investasi di sektor emas.
Selain itu, diversifikasi portofolio dengan memasukkan emas sebagai komponen aset safe haven tetap menjadi strategi penting di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Penurunan harga emas pada Rabu (26/2/2025) mencerminkan dinamika pasar yang kompleks, di mana faktor-faktor seperti ekspektasi data inflasi AS, kebijakan tarif impor oleh Trump, serta tekanan ekonomi global turut berperan.
Meskipun terjadi koreksi harga, potensi penguatan emas dalam jangka panjang tetap menarik bagi investor, terutama sebagai pelindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian pasar.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.








