Tekanan Pajak dan Volatilitas Hantui Investor Emas Ritel
JAKARTA, BursaNusantara.com – Harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dibuka turun Rp 2.000 ke level Rp 1.946.000 per gram pada Senin (4/8/2025), memutus reli dua hari sebelumnya yang sempat menembus Rp 1.948.000.
Meski penurunan ini relatif tipis, pergerakan harga emas tersebut menjadi sinyal awal pergeseran sikap pasar menjelang tren teknikal berikutnya.
Harga logam mulia yang sempat melonjak tajam Rp 47.000 pada Sabtu (2/8), kini justru menyusut bersamaan dengan turunnya harga buyback sebesar Rp 1.000 ke Rp 1.792.000 per gram.
Momentum Konsolidasi atau Awal Koreksi?
Bagi pelaku pasar ritel, penurunan harga emas justru memunculkan pertanyaan klasik: saatnya membeli atau menunggu lebih murah?
Fakta bahwa harga masih terpaut cukup jauh dari rekor tertinggi sepanjang masa Rp 2.039.000 yang dicapai 22 April 2025 membuat sebagian investor melihat peluang beli pada kisaran ini sebagai strategi akumulasi.
Sebaliknya, pasar profesional cenderung menahan diri. Penurunan hari ini belum dianggap sinyal pelemahan jangka panjang karena belum disertai tekanan besar dari pasar global.
Investor Ritel Makin Melek Pajak dan Legalitas
Tren baru yang menarik adalah meningkatnya kesadaran investor terhadap ketentuan perpajakan dan legalitas transaksi emas.
Berdasarkan PMK No 34/PMK.10/2017, pembelian emas batangan dikenakan PPh 22 sebesar 0,45% (NPWP) atau 0,9% (non-NPWP), sementara buyback di atas Rp 10 juta dikenakan tarif 1,5%-3%.
Transparansi dan kepatuhan perpajakan justru jadi katalis bagi konsumen urban yang kini lebih percaya membeli langsung melalui kanal resmi Antam Logam Mulia.
Diversifikasi Ukuran, Respons Harga Ritel
Harga pecahan emas batangan Antam pada Senin pagi terpantau mulai dari Rp 1.023.000 (0,5 gram) hingga Rp 1,88 miliar (1.000 gram).
Rentang ini memperlihatkan bahwa Antam tetap menjaga fleksibilitas pasar dengan menyediakan akses investasi dari level mikro hingga kelas kakap.
Namun yang menarik, spread harga antar pecahan justru mencerminkan biaya premium dan potongan pajak yang lebih terasa di pecahan kecil.
Artinya, investor ritel yang ingin maksimal di tengah fluktuasi harga perlu cermat memilih ukuran pecahan emas untuk efisiensi jangka panjang.
Harga Jenuh Beli atau Sinyal Rebound Tertahan?
Kondisi saat ini bisa diartikan sebagai jeda teknikal menjelang arah tren yang lebih pasti.
Jika harga mampu bertahan di atas level psikologis Rp 1.900.000 dalam beberapa hari ke depan, besar kemungkinan harga akan mencoba menembus kembali Rp 2 juta per gram dalam waktu dekat.
Namun jika tekanan berlanjut dan harga buyback kembali menyusut, maka potensi koreksi jangka pendek bisa terjadi dan menjadi ujian untuk daya tahan pasar logam mulia domestik.
Pasar emas Indonesia saat ini memasuki fase evaluasi setelah euforia singkat pada akhir Juli.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.







