JAKARTA, BursaNusantara.com – Harga emas melonjak tajam pada Kamis (27/3/2025), mencetak rekor tertinggi sepanjang masa yang ke-17 di tahun ini. Kenaikan harga emas ini didorong oleh meningkatnya permintaan aset safe haven seiring dengan ketegangan perdagangan global akibat kebijakan tarif baru yang diumumkan oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
Harga Emas Sentuh Level Tertinggi Baru
Harga emas di pasar spot naik 1,1% ke level US$ 3.052,24 per ons, setelah sebelumnya mencapai puncak tertinggi sepanjang masa di US$ 3.059,30 per ons. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS naik 1,5% menjadi US$ 3.066,6 per ons, setelah sempat menyentuh level tertinggi di US$ 3.070,90 per ons.
“Sepertinya kita akan segera melihat harga emas berjangka mencapai US$ 3.100, dengan katalis utama adalah aksi beli aset safe haven yang didorong oleh ketidakpastian terkait kebijakan tarif Trump,” ujar Bob Haberkorn, analis senior di RJO Futures.
Ketegangan Perdagangan dan Kebijakan Tarif AS
Peningkatan harga emas terjadi setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan tarif baru sebesar 25% untuk impor kendaraan. Kebijakan ini langsung memicu reaksi keras dari sejumlah negara, termasuk Kanada dan Prancis, yang mengancam akan melakukan tindakan balasan.
Langkah Trump ini membuat pasar saham global mengalami tekanan, sehingga investor mulai beralih ke aset yang lebih aman seperti emas. Ketegangan perdagangan yang meningkat menambah ketidakpastian di pasar, mendorong investor untuk mencari perlindungan di aset safe haven.
Dukungan dari Bank Sentral dan ETF
Selain faktor ketegangan perdagangan, harga emas juga mendapat dorongan dari arus masuk kuat ke bank sentral dan permintaan Exchange-Traded Fund (ETF). “Permintaan dari bank sentral dan ETF tetap kuat, memberikan dukungan bagi harga emas,” kata Phillip Streible, kepala strategi pasar di Blue Line Futures.
Ekspektasi Suku Bunga The Fed
Kini, investor menantikan rilis data Personal Consumption Expenditures (PCE) AS pada Jumat (29/3/2025) untuk menilai prospek pemangkasan suku bunga The Fed lebih lanjut. The Fed sebelumnya telah memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuannya pekan lalu, namun prospek pemangkasan suku bunga tetap menjadi perhatian utama investor.
Secara historis, emas dianggap sebagai lindung nilai terhadap ketidakpastian ekonomi dan politik, serta cenderung menguat dalam lingkungan suku bunga rendah. Goldman Sachs bahkan telah menaikkan proyeksi harga emas akhir 2025 menjadi US$ 3.300 per ons dari sebelumnya US$ 3.100, dengan alasan meningkatnya arus masuk ETF dan permintaan bank sentral yang berkelanjutan.
Pergerakan Logam Mulia Lainnya
Tidak hanya emas, logam mulia lainnya juga mengalami kenaikan harga. Harga perak spot naik 1,8% menjadi US$ 34,30 per ons setelah mencapai level tertinggi sejak Oktober 2024. Sementara itu, harga platinum naik 0,7% menjadi US$ 981,60 per ons, dan palladium bertambah 0,7% ke US$ 974,85 per ons.
Dengan meningkatnya ketidakpastian global dan kebijakan proteksionisme AS, emas kemungkinan masih akan terus menjadi pilihan utama bagi investor yang mencari perlindungan terhadap volatilitas pasar keuangan.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.








