Optimisme Dagang dan Dolar Kuat Tahan Laju Harga Emas Dunia
NEW YORK, BursaNusantara.com – Harga emas global terjun bebas pada Selasa (8/7/2025) seiring meningkatnya selera risiko pasar setelah muncul harapan terhadap perundingan dagang antara Amerika Serikat dan sejumlah mitra strategisnya.
Data perdagangan menunjukkan harga emas spot terkoreksi 1,04% menjadi US$ 3.301,9 per ons troi, sedangkan kontrak berjangka emas di bursa AS ditutup melemah 0,8% ke level US$ 3.316,90 per ons troi.
Kombinasi penguatan dolar AS dan lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah turut memperbesar tekanan terhadap logam mulia yang selama ini diandalkan sebagai aset lindung nilai.
Dolar AS dan Obligasi Tenor Panjang Menjadi Penekan Utama
Imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun tercatat naik signifikan dan menyentuh level tertinggi dalam dua pekan terakhir.
Kondisi ini membuat emas menjadi kurang menarik bagi investor karena emas tidak menawarkan imbal hasil tetap seperti obligasi.
Sementara itu, indeks dolar AS naik tipis 0,1%, cukup untuk memperkuat daya beli mata uang Negeri Paman Sam terhadap emas dan komoditas lain yang dihargakan dalam dolar.
Pergerakan ini mencerminkan rotasi aset oleh pelaku pasar yang mulai mencari instrumen dengan potensi pengembalian lebih tinggi di tengah meredanya kekhawatiran geopolitik.
Negara Asia Bergerak Cegah Dampak Tarif Trump
Pemicunya berasal dari langkah Presiden AS Donald Trump yang kembali mengobarkan tensi dagang global dengan mengancam kenaikan tarif terhadap 14 negara sekaligus, efektif per 1 Agustus 2025.
Menanggapi hal itu, Jepang dan Korea Selatan secara terbuka menyatakan akan melakukan lobi intensif ke Washington demi mencegah dampak lanjutan pada arus perdagangan Asia–Amerika.
Optimisme bahwa perundingan ini dapat menghasilkan kompromi menjadi bahan bakar sentimen risk-on di pasar keuangan global, termasuk menahan permintaan aset safe haven seperti emas.
Peter Grant, Wakil Presiden di Zaner Metals, menyebut bahwa fokus pelaku pasar saat ini condong ke arah potensi perjanjian sebelum tenggat 9 Juli, sembari mencermati arah manuver Trump yang sulit diprediksi.
Kebijakan The Fed Masih Jadi Penentu Arah Jangka Menengah
Selain geopolitik, pelaku pasar juga menanti rilis risalah FOMC (Federal Open Market Committee) pada Rabu malam waktu setempat.
Risalah ini diyakini akan memberi sinyal jelas mengenai sikap The Fed terhadap tekanan inflasi dan jadwal pelonggaran suku bunga.
Ekonom dari Capital Economics, Hamad Hussain, menilai bahwa potensi inflasi akibat kenaikan tarif dapat memaksa The Fed menunda pemangkasan suku bunga hingga tahun depan.
Menurutnya, peluang pemangkasan suku bunga di kuartal keempat 2025 masih terbuka, namun ekspektasi pelonggaran agresif mulai dipertanyakan kembali.
Kalkulasi pasar saat ini menunjukkan probabilitas pemangkasan suku bunga sebesar 50 basis poin sebelum akhir 2025, dengan kemungkinan dimulai pada Oktober.
Logam Lain Ikut Melemah, Kecuali Palladium
Tekanan juga menjalar ke logam mulia lainnya. Harga perak spot turun 0,3% menjadi US$ 36,64 per ons troi, sementara platinum tertekan 0,8% ke posisi US$ 1.359,90.
Palladium menjadi satu-satunya logam mulia yang bertahan stabil di level US$ 1.111,36, mencerminkan tekanan terbatas di segmen logam industri otomotif.
Dalam jangka pendek, volatilitas masih tinggi seiring ketidakpastian arah kebijakan fiskal dan moneter AS, serta kemungkinan deal dagang yang masih dinamis.
Investor disarankan tetap waspada terhadap kombinasi sentimen makroekonomi dan geopolitik yang dapat menggeser posisi emas sebagai aset lindung nilai klasik.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.







