Gejolak Global Ubah Arah Kapital, Emas Jadi Pelabuhan Utama
JAKARTA, BursaNusantara.com – Lonjakan harga emas dunia yang terjadi pada perdagangan Kamis (7/8/2025) bukan sekadar reaksi sesaat terhadap ketegangan global, melainkan sinyal kuat bahwa investor sedang bersiap menghadapi badai ekonomi dan politik yang lebih dalam.
Harga emas spot naik signifikan sebesar 0,8% menjadi US$ 3.396,38 per ons troi, menyentuh level tertinggi sejak 23 Juli lalu.
Kontrak berjangka emas AS pun tak mau kalah, ditutup menguat 0,6% ke US$ 3.453,70 per ons troi.
Fenomena ini bukan hanya karena konflik semata, tapi kombinasi dari tiga kekuatan utama: krisis geopolitik, kebijakan proteksionisme ekonomi, dan sikap dovish bank sentral AS.
Perdagangan Global Memanas, Ketegangan Tak Lagi Tersembunyi
Keputusan Presiden Donald Trump untuk kembali mengaktifkan tarif impor terhadap beberapa negara kunci seperti Brasil, Swiss, dan India telah menimbulkan efek riak di pasar global.
Kebijakan ini bukan hanya mencerminkan proteksionisme, tapi juga sinyal bahwa AS bersiap menghadapi medan tempur ekonomi yang lebih luas.
Langkah ini memaksa mitra dagang AS bereaksi cepat, mencari celah negosiasi baru agar tak semakin tersudut oleh tekanan tarif.
Namun efek jangka pendeknya sangat jelas: investor memindahkan modal dari aset berisiko tinggi ke aset lindung nilai seperti emas.
Peter Grant dari Zaner Metals menjelaskan bahwa situasi global saat ini telah menciptakan ‘lingkungan sempurna’ bagi logam mulia untuk kembali menjadi pilihan utama.
Menurutnya, ketegangan yang terus membara menjadikan emas sebagai pelabuhan aman paling logis bagi para investor.
Timur Tengah Mendidih, Pasar Tak Lagi Bisa Netral
Di luar isu dagang, kekacauan di Timur Tengah turut memperkeruh suasana.
Pernyataan PM Israel Benjamin Netanyahu tentang niat mengambil kendali penuh atas Gaza bukan sekadar retorika politik.
Langkah ini dianggap sebagai deklarasi eskalasi militer terbuka yang dapat memicu perang berskala lebih besar.
Investor global tentu tak bisa mengabaikan sinyal bahaya ini, terutama karena kawasan Timur Tengah adalah titik krusial bagi jalur energi dan perdagangan dunia.
Ketika wilayah strategis berubah menjadi zona konflik, maka risiko sistemik terhadap stabilitas pasar global pun otomatis meningkat.
Dan seperti yang berulang kali terjadi dalam sejarah, emas kembali berperan sebagai ‘pelindung kekayaan’ di tengah guncangan global.
The Fed di Persimpangan, Suku Bunga Diprediksi Turun Lagi
Sentimen terhadap emas semakin diperkuat oleh ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh The Federal Reserve.
Data terbaru menunjukkan klaim tunjangan pengangguran AS meningkat ke level tertinggi dalam sebulan terakhir.
Kondisi ini mengindikasikan bahwa pasar tenaga kerja mulai menunjukkan tanda-tanda pelambatan.
Jika tren ini berlanjut, maka akan sulit bagi The Fed untuk mempertahankan suku bunga tinggi tanpa memperdalam perlambatan ekonomi.
Alat pemantau FedWatch dari CME Group mencatat peluang sebesar 91% bahwa The Fed akan menurunkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan bulan depan.
Ini menjadi katalis kuat bagi harga emas, karena suku bunga rendah cenderung membuat emas lebih menarik dibandingkan aset berbunga.
Peter Grant menyatakan bahwa kombinasi data ekonomi yang melemah dan tekanan geopolitik menempatkan The Fed dalam posisi serba sulit.
Jika tak segera merespons, kepercayaan pasar bisa goyah.
Isu Suksesi The Fed Ikut Membayangi Harga Logam
Ketidakpastian seputar masa depan kepemimpinan The Fed turut memberikan tekanan psikologis bagi pasar.
Gubernur The Fed Christopher Waller mulai santer disebut-sebut sebagai kandidat kuat pengganti Jerome Powell.
Spekulasi ini muncul di tengah kritik Presiden Trump terhadap Powell yang dianggap terlalu lambat memangkas suku bunga.
Jika Waller benar-benar diangkat, pasar mungkin akan menyambut baik pendekatan dovish yang lebih agresif.
Namun sebelum keputusan itu resmi diambil, volatilitas masih akan menjadi tema utama.
Dan di tengah ketidakpastian ini, investor global justru semakin memperkuat posisi di logam mulia.
Perak dan Palladium Ikut Terdorong, Tapi Emas Tetap Primadona
Reli harga tidak hanya terjadi pada emas. Harga perak spot ikut naik 0,7% ke US$ 38,11 per ons troi, level tertinggi sejak 25 Juli.
Palladium mencatat kenaikan paling agresif, melesat 1,7% ke US$ 1.151,31 per ons troi.
Sementara itu, platinum stagnan di angka US$ 1.333,93 per ons troi, menandakan pasar lebih selektif terhadap logam yang dianggap defensif.
Meski semua logam ikut terdorong, emas tetap menjadi pilihan utama karena reputasinya sebagai penyimpan nilai tertua dan paling diandalkan.
Apalagi dengan suku bunga yang cenderung turun, biaya peluang untuk memegang emas menjadi jauh lebih rendah.
Prospek Emas Kian Cerah, Tapi Bukan Tanpa Risiko
Kenaikan harga emas saat ini bisa berlanjut bila ekspektasi suku bunga dan ketegangan geopolitik terus membara.
Namun investor tetap perlu waspada terhadap kemungkinan koreksi tajam bila ada kejutan dari kebijakan The Fed.
Jika ternyata bank sentral AS lebih hawkish dari perkiraan, atau konflik Timur Tengah mereda lebih cepat dari ekspektasi pasar, maka tren bullish bisa kehilangan tenaga.
Namun sejauh ini, semua indikator masih berpihak pada skenario naik.
Sinyal risk-off terus bergema di pasar global, memperkuat daya tarik emas sebagai aset pelindung utama.
Ketika arah ekonomi dan geopolitik tak bisa dipastikan, emas tetap menjadi jawaban paling masuk akal bagi investor besar maupun ritel.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.












