Emas Melemah Ditengah Ketidakpastian Geopolitik dan Suku Bunga
JAKARTA, BursaNusantara.com – Harga emas dunia bergerak melemah pada akhir pekan perdagangan Jumat (20/6/2025), ditandai penurunan mingguan tajam akibat sikap ambigu Amerika Serikat dalam konflik Israel-Iran dan kebijakan moneter The Fed yang hawkish.
Penurunan harga emas spot sebesar 0,06% ke US$ 3.368,2 per ons menandai level terendah dalam lebih dari sepekan terakhir.
Koreksi mingguan mencapai 1,8%, menegaskan tren korektif jangka pendek.
Sementara itu, harga kontrak berjangka emas AS turun 0,7% dan ditutup di US$ 3.385,7 per ons.
Pelemahan ini terjadi di tengah tensi geopolitik yang seharusnya menopang permintaan aset safe haven seperti emas.
Namun, ketidakpastian keputusan AS terkait konflik Israel-Iran justru menahan laju penguatan logam mulia.
Sikap AS Tahan Momentum Emas Safe Haven
Presiden AS Donald Trump belum memberikan keputusan akhir mengenai aksi militer terhadap Iran.
Rencana serangan udara yang semula disebut akan dilakukan “dalam waktu dekat” justru dibatalkan secara mendadak.
Situasi ini membuat pasar emas berada dalam ruang tunggu yang canggung.
Analis logam independen Tai Wong menyebut bahwa pasar sudah menyerap semua kabar buruk pekan ini.
Ia memperkirakan penurunan harga emas ke kisaran US$ 3.250 per ons masih mungkin terjadi dalam jangka pendek.
Namun setiap penurunan cepat diborong kembali oleh pelaku pasar, menandakan kuatnya permintaan fundamental.
Gedung Putih mengonfirmasi bahwa keputusan akhir mengenai intervensi AS akan dibuat dalam dua pekan ke depan.
Konflik terus memanas, dengan Iran kembali menembakkan rudal ke wilayah Israel selatan pada Jumat pagi.
Serangan ini menghantam kawasan industri dan permukiman di Beersheba.
The Fed Perlambat Penurunan Suku Bunga
Dari sisi moneter, keputusan The Fed untuk mempertahankan suku bunga juga memberikan tekanan tambahan terhadap emas.
Meskipun bank sentral AS masih mengisyaratkan pemangkasan 0,5% tahun ini, langkah konkret diturunkan menjadi satu kali pemangkasan 0,25% di 2026 dan 2027.
Kebijakan ini mencerminkan perubahan pendekatan The Fed terhadap inflasi dan stabilitas ekonomi.
Tingkat suku bunga tinggi membuat emas menjadi kurang menarik karena tidak menghasilkan imbal hasil.
Namun analis Julius Baer, Carsten Menke, menilai permintaan dari bank sentral dan investor safe haven tetap kuat.
Menurutnya, faktor-faktor ini cukup untuk menjaga stabilitas harga emas dalam jangka menengah.
Logam Mulia Lainnya Juga Terkoreksi
Tak hanya emas, logam mulia lainnya turut mengalami tekanan harga pada pekan ini.
Harga perak spot turun 1% menjadi US$ 36,02 per ons dan mencatat penurunan mingguan 0,7%.
Palladium juga terkoreksi tipis 0,1% ke US$ 1.049 per ons, meski secara mingguan masih mencatat kenaikan 2,1%.
Platinum menjadi logam dengan kinerja terburuk harian, turun 3,1% ke level US$ 1.266,72 per ons.
Namun menariknya, Platinum justru mencetak penguatan mingguan ketiga secara berturut-turut.
Tren ini menunjukkan bahwa investor mulai melakukan rotasi pada portofolio logam mulia mereka.
Ketegangan Masih Jadi Faktor Penggerak Utama
Kondisi geopolitik Timur Tengah diprediksi tetap menjadi faktor dominan yang menentukan arah harga emas.
Ketegangan antara Israel dan Iran dipandang sebagai risiko eskalasi yang dapat mengubah sentimen pasar dalam hitungan jam.
Keputusan AS sangat krusial karena akan mempengaruhi arah pasar secara global, termasuk harga komoditas seperti emas dan minyak.
Selama belum ada keputusan tegas dari Washington, pelaku pasar cenderung menahan posisi dan merespons sentimen secara cepat.
Perubahan sikap sekecil apapun akan langsung tercermin dalam volatilitas harga emas spot dan futures.
Investor Cermati Momentum, Emas Bisa Rebound Cepat
Pelemahan saat ini justru dipandang sebagai peluang oleh sebagian pelaku pasar yang lebih spekulatif.
Harga emas yang turun ke bawah US$ 3.300 akan menjadi area akumulasi kuat jika risiko geopolitik terus meningkat.
Analis menilai bahwa likuiditas pasar emas masih sangat besar, terutama dari investor institusional dan bank sentral.
Arah kebijakan The Fed yang belum pasti juga membuka ruang spekulasi baru di pasar logam mulia.
Emas tetap menjadi instrumen lindung nilai utama di tengah situasi global yang rapuh dan sulit ditebak.
Dalam kondisi pasar yang sangat sensitif terhadap isu geopolitik dan suku bunga, arah harga emas bisa berubah drastis dalam waktu singkat.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.












