HeadlineKomoditasPasar

Harga Emas Melesat, Ekonom Ingatkan Risiko Investasi

81
Harga Emas Melesat, Ekonom Ingatkan Risiko Investasi
Emas jadi instrumen andalan di tengah ketidakpastian ekonomi. Namun, ekonom INDEF mengingatkan risiko fluktuasi harga bagi investor jangka pendek.

JAKARTA, BursaNusantara.com – Meningkatnya ketidakpastian ekonomi global mendorong masyarakat Indonesia berbondong-bondong mengalihkan dananya ke instrumen investasi yang dinilai lebih aman, yakni emas.

Namun, meskipun dianggap sebagai “safe haven”, investasi emas tidak sepenuhnya tanpa risiko.

Antusiasme Pembelian Emas Meningkat Tajam

Fenomena lonjakan minat terhadap emas tercermin dari antrean panjang di Butik Emas Logam Mulia Antam, Jakarta, pada Jumat (11/4/2025). Sejak pukul 04.30 WIB, masyarakat sudah mulai mengantre meski toko baru akan dibuka empat jam kemudian.

Baca Juga: Harga Minyak Global Anjlok, Pemerintah Diminta Siaga Hadapi Dampak ke APBN

Pembatasan kuota pembelian langsung sebanyak 50 orang per hari membuat banyak calon pembeli harus kembali keesokan harinya.

Indah, warga Jakarta berusia 51 tahun, menjadi salah satu yang tak kebagian antrean meski datang sejak pagi. “Dari jam 08.00 WIB antrean udah tutup,” ujarnya. Sementara itu, Enda, warga Cibubur berusia 61 tahun, sukses mendapatkan nomor antrean 34 setelah berangkat sejak subuh.

Lonjakan permintaan ini seiring dengan kenaikan harga emas Antam yang mencapai rekor tertinggi, yakni Rp 1.889.000 per gram. Harga beli kembali (buyback) juga mengalami peningkatan signifikan menjadi Rp 1.739.000 per gram.

Investasi Emas Dinilai Rasional, tapi Tidak Bebas Risiko

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Drajad Wibowo, mengakui bahwa investasi emas adalah pilihan logis dalam kondisi global yang tidak menentu.

Namun, ia menekankan bahwa harga emas tetap berfluktuasi dan tidak selamanya mengalami tren naik.

“Investasi emas itu memang pilihan yang logis. Tapi jangan lupa, harga emas itu juga naik turun. Sekarang harga emas naik karena orang pada lari ke emas,” jelas Drajad, Sabtu (12/4/2025).

Menurutnya, harga emas bisa kembali terkoreksi saat kondisi ekonomi global kembali stabil. Oleh karena itu, ia menilai emas lebih tepat digunakan sebagai instrumen investasi jangka menengah hingga panjang.

“Kalau untuk investasi, minimal satu tahun. Kalau cuma tiga bulan, bisa saja saat butuh uang, harga lagi turun,” tambahnya.

Kenaikan Harga Dipicu Ketegangan Ekonomi Global

Salah satu pendorong utama kenaikan harga emas dalam beberapa waktu terakhir adalah meningkatnya ketegangan ekonomi akibat kebijakan tarif impor dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

Langkah tersebut menciptakan ketidakpastian yang mendorong pelaku pasar dan masyarakat umum mencari perlindungan nilai melalui emas.

Drajad juga menyarankan masyarakat agar tidak mengandalkan emas sebagai instrumen investasi likuid jangka pendek.

“Jangan berharap bisa cairin dalam waktu dekat kalau mau untung. Investasi emas itu bukan untuk tiga bulan ke depan, tapi untuk satu tahun ke atas,” tegasnya.

Dengan harga emas yang terus memecahkan rekor baru, masyarakat diimbau untuk tetap bijak dalam mengambil keputusan investasi, serta memahami bahwa meskipun tergolong aman, emas tetap tidak bebas risiko di tengah fluktuasi ekonomi global yang dinamis.

Ikuti media sosial kami untuk update terbaru

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Grafik tidak tersedia karena JavaScript dinonaktifkan di browser Anda.
×

Selamat Datang

Masuk untuk komentar & diskusi.

Lupa Password?

Password dikirim ke email.

Exit mobile version