KomoditasPasar

Harga Emas Melesat, Ketidakpastian The Fed Perkuat Daya Tarik Logam Mulia

219
Harga Emas Melesat, Ketidakpastian The Fed Perkuat Daya Tarik Logam Mulia
Harga emas dunia naik mendekati level tertinggi dua pekan imbas ekspektasi pemangkasan suku bunga AS dan kekosongan jabatan di The Fed.

Daya Tarik Emas Meningkat Saat Kepemimpinan The Fed Kosong

JAKARTA, BursaNusantara.com – Harga emas dunia terus menunjukkan penguatan, ditopang oleh meningkatnya ketidakpastian di lingkaran bank sentral Amerika Serikat (The Fed) dan meningkatnya ekspektasi pasar terhadap pelonggaran moneter dalam waktu dekat.

Pada perdagangan Selasa (5/8), harga emas spot naik 0,2% ke level US$ 3.380,20 per troi ons, setelah sempat menyentuh titik tertingginya sejak 24 Juli lalu.

Harga emas berjangka AS pun ikut menguat sebesar 0,2% dan ditutup di level US$ 3.434,70 per troi ons, menandai tren positif selama dua pekan terakhir yang mendorong minat beli dari pelaku pasar global.

Ekspektasi terhadap pemangkasan suku bunga acuan AS menjadi katalis utama penguatan harga emas, ditambah kekosongan kepemimpinan di tubuh The Fed yang menciptakan ketidakpastian kebijakan moneter dalam jangka pendek.

Ketidakpastian arah kebijakan moneter AS kini mendorong investor mengalihkan dana ke aset lindung nilai seperti emas, terlebih setelah gejolak internal memaksa Presiden Trump mengambil tindakan drastis terhadap lembaga statistik tenaga kerja.

Pemecatan Kepala BLS Jadi Titik Balik Sentimen Pasar

Situasi pasar semakin goyah setelah Presiden Donald Trump resmi memecat Kepala Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) menyusul rilis data ketenagakerjaan bulan Juni yang mengecewakan.

Langkah tersebut dianggap sebagai bentuk intervensi politik terhadap kredibilitas data ekonomi, sehingga meningkatkan kekhawatiran pelaku pasar atas stabilitas pengambilan kebijakan ekonomi nasional AS.

Daniel Ghali, analis komoditas di TD Securities, menyatakan bahwa tindakan pemerintahan Trump memperkuat posisi emas sebagai aset penyimpan nilai ketika kepercayaan terhadap dolar AS mulai luntur.

Kondisi ini semakin memicu permintaan terhadap logam mulia karena investor merasa perlu mencari perlindungan dari gejolak kebijakan dan ketidakpastian ekonomi struktural.

Sementara itu, pasar memperkirakan The Fed akan memangkas suku bunga sebanyak dua kali sebelum akhir 2025, dimulai pada pertemuan September, jika tekanan ekonomi dan ketidakpastian politik terus berlanjut.

Kekosongan Gubernur The Fed Tambah Ketidakpastian

Selain isu BLS, pengunduran diri Gubernur The Fed Adriana Kugler pada Jumat pekan lalu menambah lapisan baru ketidakpastian yang membebani kredibilitas kebijakan moneter AS.

Presiden Trump menyatakan akan segera menunjuk pengganti sementara untuk posisi Gubernur dan mengumumkan calon Ketua The Fed selanjutnya dalam waktu dekat.

Namun, hingga kini belum ada kepastian nama-nama yang akan menduduki posisi penting tersebut, membuat pelaku pasar berspekulasi terhadap arah kebijakan selanjutnya.

Ketidakjelasan ini membuat emas tampil sebagai alternatif aman yang tidak terikat oleh risiko politik dan mampu mempertahankan nilainya di tengah fluktuasi pasar.

Semakin lama kekosongan itu berlangsung, semakin besar peluang emas untuk menguat dan mencetak rekor baru, terutama jika didukung pelemahan dolar secara berkelanjutan.

Dolar Melemah, Emas Jadi Lebih Murah bagi Investor Global

Pelemahan dolar AS menjadi faktor pendukung berikutnya bagi kenaikan harga emas dalam perdagangan global.

Ketika nilai dolar turun, harga logam mulia yang berbasis dolar menjadi relatif lebih murah bagi pemegang mata uang asing lainnya, sehingga meningkatkan daya tarik investasi.

Fenomena ini secara historis memicu arus masuk modal ke pasar komoditas, khususnya logam mulia, sebagai strategi lindung nilai dari depresiasi nilai mata uang fiat.

Penguatan harga emas dalam dua minggu terakhir menunjukkan bahwa pasar mulai mendiskon kemungkinan pergeseran arah kebijakan moneter AS dari ketat menjadi akomodatif.

Jika tren pelemahan dolar terus berlanjut, maka harga emas bisa menembus resistensi psikologis berikutnya dan membuka ruang reli yang lebih luas.

Perak Berpeluang Salip Emas, Palladium Tertekan Isu Perdagangan

Di tengah euforia harga emas, pergerakan logam mulia lainnya juga menunjukkan dinamika menarik yang patut dicermati oleh investor komoditas.

Perak spot naik 1,2% ke US$ 37,85 per troi ons, level tertinggi sejak 30 Juli, didorong prospek teknikal yang semakin menguat dalam beberapa sesi terakhir.

Analis RJO Futures, Bob Haberkorn, menyatakan bahwa perak berpeluang mengungguli kinerja emas jika mampu menembus resistensi di level US$ 40, dengan target lanjutan di US$ 42.

Sebaliknya, platinum turun 1% ke US$ 1.316,35 dan palladium anjlok 2,1% ke US$ 1.181,21, tertekan isu tarif perdagangan yang mulai mengemuka.

Sibanye-Stillwater, produsen logam asal Afrika Selatan, mengusulkan tarif atas impor palladium dari Rusia kepada pemerintah AS demi menjaga keberlangsungan pasokan dalam negeri.

Isu ini memperlihatkan bahwa logam-logam industri kini semakin sensitif terhadap dinamika geopolitik, berbeda dengan emas dan perak yang lebih mencerminkan sentimen makro dan risiko pasar.

Arah Emas Bergantung pada Keputusan The Fed dan Stabilitas Politik

Prospek harga emas dalam jangka pendek hingga menengah kini bergantung pada arah kebijakan suku bunga dan kecepatan pemerintahan AS dalam mengisi kekosongan jabatan di tubuh The Fed.

Jika sinyal pemangkasan suku bunga makin kuat dan stabilitas politik tetap rapuh, maka permintaan terhadap emas berpotensi melonjak signifikan menjelang akhir tahun.

Namun demikian, investor tetap harus memperhatikan kemungkinan kejutan dari data inflasi atau keputusan politik yang berpotensi mengubah kalkulasi pasar.

Dengan ketidakpastian sebagai latar dominan, posisi emas saat ini semakin kokoh sebagai pelindung nilai yang dipercaya di tengah kabut kebijakan ekonomi Amerika.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Grafik tidak tersedia karena JavaScript dinonaktifkan di browser Anda.
×

Selamat Datang

Masuk untuk komentar & diskusi.

Lupa Password?

Password dikirim ke email.

Exit mobile version