JAKARTA, BursaNusantara.com – Harga emas terus menunjukkan tren kenaikan yang kuat pekan ini setelah mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa. Lonjakan harga ini didorong oleh tiga faktor utama, yakni perang dagang global, inflasi Amerika Serikat (AS), dan kebijakan stimulus dari China. Para analis memperkirakan harga emas masih berpotensi menembus level psikologis baru.
Harga Emas Catat Rekor Baru
Harga emas sempat mencapai level tertinggi di angka US$ 3.004,8 sebelum mengalami koreksi tipis sebesar 0,1% menjadi US$ 2.984 pada Jumat (15/3/2025). Meskipun terjadi sedikit penurunan, tren kenaikan masih terus berlanjut seiring dengan faktor-faktor yang menopang penguatan harga emas.
Tiga Faktor Penggerak Kenaikan Harga Emas
1. Perang Dagang Global Memanas
Analis komoditas keuangan, Ibrahim Assuaibi, menyatakan bahwa ketegangan perdagangan global semakin meningkat akibat kebijakan tarif impor yang diberlakukan oleh AS. Negeri Paman Sam bahkan menetapkan tarif bea masuk hingga 200% terhadap produk dari Eropa, yang kemudian dibalas dengan tindakan serupa oleh negara-negara mitra dagangnya, termasuk Eropa, Kanada, dan Meksiko.
“Harga emas akan semakin terdorong naik jika Presiden AS Donald Trump terus mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang memperburuk situasi perang dagang,” ungkap Ibrahim kepada Investor Daily, Minggu (16/3/2025).
2. Inflasi AS yang Menurun
Faktor kedua yang mempengaruhi harga emas adalah inflasi di AS yang cenderung melandai. Data terbaru menunjukkan bahwa meskipun perang dagang masih berlangsung, inflasi tetap terkendali. Menteri Perdagangan AS, Howard Lutnick, menegaskan bahwa dampak perang dagang lebih dirasakan oleh pelaku usaha ketimbang masyarakat umum.
“Ini terlihat dari data inflasi AS Februari yang menunjukkan tren penurunan,” tambah Ibrahim.
3. Stimulus Ekonomi dari China
Faktor terakhir yang mendukung kenaikan harga emas adalah kebijakan stimulus dari China. Bank sentral China dikabarkan akan kembali menggelontorkan stimulus ekonomi sebagai bagian dari strategi pertumbuhan. Sebelumnya, China telah mengeluarkan stimulus senilai US$ 3,1 triliun, yang berdampak positif terhadap data ekonomi negara tersebut.
“Selain itu, China terus memperkuat cadangan emasnya. Dalam pekan lalu saja, China menambahkan hampir 30 ton emas batangan untuk memperkuat devisanya,” jelas Ibrahim.
Prediksi Harga Emas ke Depan
Meskipun harga emas mengalami sedikit koreksi di akhir pekan, para analis masih optimis terhadap prospek kenaikan lebih lanjut. Ibrahim memperkirakan bahwa harga emas masih berpotensi naik hingga ke level US$ 3.040 dalam waktu dekat.
“Jika harga emas turun ke kisaran US$ 2.950, kemungkinan besar investor besar akan kembali masuk dengan target kenaikan hingga US$ 3.150,” tutup Ibrahim.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.










