JAKARTA, BursaNusantara.com – Harga emas kembali menunjukkan taringnya pada Kamis (24/4/2025) setelah sempat tertekan lebih dari 2,5% pada hari sebelumnya.
Kebangkitan harga ini mengindikasikan bahwa minat investor terhadap aset safe haven masih cukup tinggi, di tengah ketidakpastian arah kebijakan suku bunga The Fed serta ketegangan geopolitik global yang belum mereda.
Harga Emas Rebound, Sinyal Teknis Masih Kuat
Emas spot tercatat melonjak 1,1% ke level US$ 3.328,2 per ons, menjauhi level support krusial di area US$ 3.300. Ini menjadi pantulan teknikal yang penting setelah harga sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (all time high) di level US$ 3.500 pada 22 April 2025.
Menurut Analis Pasar Dupoin Indonesia Andy Nugraha, secara teknikal formasi candlestick dan indikator moving average menunjukkan bahwa tren naik emas masih terbuka.
“Jika harga mampu menembus resistance di US$ 3.385, peluang untuk melanjutkan tren bullish ke area yang lebih tinggi sangat terbuka,” ungkap Andy.
Namun demikian, ia juga mengingatkan potensi reversal masih membayangi. Jika tekanan jual kembali muncul dan harga tidak mampu bertahan di atas US$ 3.300, koreksi lanjutan bisa terjadi dalam waktu dekat.
Fundamental Dukung Optimisme Pasar
Dari sisi fundamental, sentimen global ikut menopang pergerakan emas. Laporan dari The Wall Street Journal menyebut bahwa pemerintah Amerika Serikat sedang mempertimbangkan untuk memangkas tarif perdagangan terhadap China.
Walau dibantah oleh Menteri Keuangan AS Scott Bessent, kabar ini tetap memberi angin segar bagi pasar.
Andy menjelaskan, kekhawatiran investor terhadap negosiasi dagang yang belum pasti antara AS dan China menjadi pendorong utama minat terhadap aset lindung nilai seperti emas.
“Harga emas sensitif terhadap ketegangan geopolitik, dan ini membuatnya tetap menarik di tengah dinamika global,” katanya.
Ekspektasi Suku Bunga dan Dolar AS
Di sisi lain, Indeks Dolar AS (DXY) tercatat menguat tipis ke level 99,72. Namun pasar memproyeksikan The Fed akan melakukan pemangkasan suku bunga hingga 92 basis poin dalam beberapa bulan ke depan. Ini memberikan katalis positif tambahan bagi harga emas.
“Ekspektasi penurunan suku bunga meningkatkan daya tarik emas karena menurunkan opportunity cost dalam memegang aset non-yielding seperti logam mulia,” jelas Andy.
Peran Bank Sentral dan Investor Global
Tidak hanya itu, sentimen positif terhadap emas juga muncul dari pembelian strategis oleh sejumlah bank sentral dunia.
Investor besar seperti John Paulson mengungkapkan bahwa bank sentral cenderung terus menambah cadangan emas demi mengurangi ketergantungan pada dolar AS, terutama dalam iklim ketidakstabilan ekonomi-politik global.
“Pembelian emas oleh bank sentral menjadi dukungan jangka menengah yang solid bagi tren bullish logam mulia ini,” papar Andy.
Meski outlook emas terlihat menjanjikan, Andy menekankan pentingnya kewaspadaan dalam merespons pergerakan jangka pendek. “Zona US$ 3.300–US$ 3.385 adalah area kunci yang harus diperhatikan oleh investor,” pungkasnya.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.







