JAKARTA, BursaNusantara.com – Harga emas kembali mencetak rekor tertinggi dengan menembus level US$ 3.106,50 per ons pada Senin (31/3). Lonjakan ini dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran terhadap ketidakstabilan ekonomi global, kebijakan tarif impor AS, serta permintaan tinggi terhadap aset safe haven.
Kenaikan Harga Emas dan Faktor Pendorong
Sejak awal tahun, harga emas telah meningkat lebih dari 18%, mencerminkan kepercayaan investor terhadap logam mulia sebagai aset perlindungan terhadap inflasi dan ketidakpastian ekonomi. Awal bulan ini, emas juga berhasil melewati batas psikologis US$ 3.000 per ons untuk pertama kalinya, menandakan sentimen pasar yang semakin berhati-hati.
Menurut sejumlah analis, lonjakan harga emas kali ini didorong oleh rencana Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk menerapkan tarif baru terhadap berbagai produk impor. Kebijakan tersebut meningkatkan ketidakpastian di pasar dan mendorong investor untuk mencari perlindungan pada aset yang lebih stabil seperti emas.
“Ketidakpastian seputar kebijakan perdagangan dan pertumbuhan ekonomi global terus mendorong permintaan emas,” ujar Edward Meir, analis dari Marex.
Prediksi Bank Investasi dan Dampaknya pada Pasar
Beberapa bank investasi terkemuka telah menyesuaikan proyeksi harga emas mereka untuk mencerminkan tren kenaikan yang sedang berlangsung:
- Goldman Sachs memprediksi harga emas bisa mencapai US$ 3.300 per ons pada akhir tahun 2025.
- Bank of America (BofA) memperkirakan harga emas berada di kisaran US$ 3.063 per ons pada tahun 2025 dan US$ 3.350 per ons pada 2026.
- UBS juga merevisi perkiraan mereka dan menyatakan bahwa emas kemungkinan akan tetap berada di atas US$ 3.000 per ons dalam jangka menengah.
Menurut analis, salah satu faktor utama yang mendorong revisi ini adalah kebijakan tarif yang diumumkan Trump. Presiden AS tersebut berencana untuk menerapkan tarif 25% pada mobil dan suku cadang impor serta tambahan 10% untuk semua barang yang diimpor dari China. Tarif baru ini dijadwalkan diumumkan pada 2 April dan diperkirakan akan memberikan dampak signifikan terhadap perdagangan global.
Permintaan Bank Sentral dan Prospek Masa Depan
Selain kebijakan tarif AS, permintaan tinggi dari bank sentral juga turut menopang harga emas. Bank-bank sentral di berbagai negara terus meningkatkan cadangan emas mereka sebagai langkah antisipatif terhadap ketidakpastian ekonomi global.
Aliran dana besar ke dalam emas melalui berbagai instrumen investasi, seperti ETF berbasis emas, turut memperkuat tren kenaikan harga logam mulia ini. Para investor kini semakin mencari perlindungan dalam aset yang stabil di tengah potensi perlambatan ekonomi dan inflasi yang masih menjadi perhatian utama.
Dengan kombinasi berbagai faktor pendukung ini, harga emas diperkirakan akan tetap kuat dalam beberapa bulan ke depan. Lonjakan harga emas ini menjadi indikator kuat bahwa pasar global masih dalam kondisi yang rentan dan investor cenderung mencari perlindungan di aset safe haven seperti emas.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.









