Geser Kebawah
HeadlineKomoditasPasar

Harga Emas Spot Rebound ke USD4.706: Akhir Tren Jatuh?

81
×

Harga Emas Spot Rebound ke USD4.706: Akhir Tren Jatuh?

Sebarkan artikel ini
Harga Emas Spot Rebound ke USD4.706 Akhir Tren Jatuh
Harga emas spot naik 1,2% meski cetak rekor penurunan mingguan 8% akibat konflik Iran. Hati-hati jebakan inflasi global. Simak analisis lengkapnya di sini!

Dinamika Inflasi Global dan Respons Agresif Bank Sentral

JAKARTA, BursaNusantara.com – Stabilitas emas sebagai aset lindung nilai kini sedang diuji oleh anomali pasar di mana eskalasi konflik geopolitik justru gagal menahan kejatuhan harga secara masif.

Ketergantungan investor pada emas sebagai instrumen safe haven mulai goyah seiring menguatnya ekspektasi inflasi yang memicu kebijakan moneter ketat di tingkat global.

Melansir Investing, harga emas spot tercatat naik 1,2 persen ke level USD4.706,99 per ons pada perdagangan Asia hari Jumat (20/3/2026).

Sementara itu, kontrak berjangka emas juga menguat 2,2 persen ke posisi USD4.706,54 per ons setelah mengalami tekanan hebat pada sesi sebelumnya.

Pemulihan ini muncul sebagai respons teknikal setelah emas anjlok pada Kamis menyusul sinyal kehati-hatian bank sentral dunia terhadap dampak inflasi dari konflik Iran.

Mengapa Emas Gagal Menjadi Safe Haven Saat Perang Iran?

Meskipun dikenal sebagai aset aman, kinerja emas justru melemah sejak pecahnya konflik di Timur Tengah pada akhir Februari lalu.

Sepanjang pekan ini, harga emas sempat terperosok hingga 8 persen yang menjadi penurunan mingguan terdalam sejak awal tahun 2020.

Koreksi tajam tersebut memaksa harga emas keluar dari zona support kuat di kisaran USD5.000 hingga USD5.200 per ons.

Fenomena ini terjadi karena aliran dana investor justru lebih mengalir ke dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat yang meningkat.

Penguatan imbal hasil obligasi tersebut dipicu oleh kekhawatiran inflasi yang lebih tinggi akibat gangguan pasokan energi di kawasan Timur Tengah.

Suku Bunga Tinggi: Ancaman Nyata Bagi Aset Tanpa Imbal Hasil

Tekanan inflasi global semakin diperkuat oleh lonjakan harga minyak yang saat ini mendekati level tertinggi dalam empat tahun terakhir.

Gangguan pada infrastruktur energi di Timur Tengah menjadi katalis utama yang membuat sejumlah bank sentral dunia mengambil sikap lebih waspada.

Reserve Bank of Australia bahkan telah menaikkan suku bunga, sementara Federal Reserve dan European Central Bank memilih menahan suku bunga sambil memberi sinyal kehati-hatian.

Kondisi suku bunga yang tetap tinggi dalam waktu lama secara historis menjadi sentimen negatif bagi emas karena aset ini tidak memberikan imbal hasil langsung.

Meskipun pelemahan dolar AS sempat memberi dukungan tipis bagi logam mulia, ekspektasi kebijakan moneter ketat masih membatasi ruang penguatan lebih lanjut.

Di sektor logam lainnya, harga perak tercatat naik 0,7 persen ke USD73,22 dan platinum melonjak 1,5 persen ke level USD2.004,13 per ons.

Namun, secara mingguan perak masih mengalami penurunan sekitar 9,8 persen akibat sensitivitasnya yang tinggi terhadap penguatan dolar dan risiko perlambatan ekonomi global.

Lihat berita terbaru lainnya di Google Berita | Bursa Nusantara

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Memuat Grafik...

Tinggalkan Balasan