JAKARTA, BursaNusantara.com – Harga emas melonjak melampaui angka US$ 3.000 per ons untuk pertama kalinya, didorong oleh kekhawatiran investor terhadap kebijakan tarif Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump. Kenaikan signifikan ini mencerminkan meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Investor Berlindung dari Gejolak Ekonomi
Harga emas berjangka mengalami lonjakan hampir 14% sepanjang tahun ini, dengan mencapai level tertinggi intraday baru sebesar US$ 3.017,1 per ons pada Jumat (14/3/2025), sebagaimana dilaporkan oleh CNBC Internasional. Kenaikan harga emas ini terjadi di tengah gejolak pasar akibat kebijakan tarif perdagangan AS yang memicu inflasi dan meningkatkan risiko resesi global.
Kondisi pasar saham AS yang mengalami penurunan tajam turut menjadi faktor pendorong. Dalam tiga minggu terakhir, pasar saham AS kehilangan kapitalisasi hingga US$ 5 triliun akibat ketidakpastian yang muncul dari kebijakan tarif tersebut.
Bank Sentral Gencar Memborong Emas
Sebagai respons terhadap volatilitas ekonomi, bank-bank sentral di berbagai negara semakin agresif dalam mengakumulasi emas. Berdasarkan data dari World Gold Council, bank sentral secara kolektif menambahkan 1.045 metrik ton (MT) emas ke cadangan global sepanjang tahun lalu. Tren ini berlanjut pada Januari 2025 dengan pembelian bersih sebesar 18 MT.
Salah satu pembeli utama adalah Bank Rakyat China (PBoC), yang mencatatkan pembelian bersih emas selama tiga bulan berturut-turut. Fenomena ini mencerminkan kekhawatiran negara-negara terhadap dominasi dolar AS dalam sistem keuangan global, terutama setelah AS membekukan aset Rusia sebagai sanksi atas invasi ke Ukraina pada 2022.
Emas Sebagai Lindung Nilai Utama
Dalam survei yang dilakukan oleh Bank of America, sebanyak 52% manajer dana global menganggap emas sebagai instrumen lindung nilai terbaik dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi dan perang dagang global. Dengan semakin banyaknya investor dan institusi keuangan yang beralih ke emas, harga logam mulia ini diperkirakan akan tetap berada dalam tren bullish dalam waktu dekat.
Seperti dikutip dari CNBC Internasional, pergerakan harga emas ini mencerminkan reaksi pasar terhadap situasi geopolitik yang semakin kompleks. Para analis memprediksi bahwa selama tekanan ekonomi masih berlangsung, permintaan terhadap emas akan terus meningkat sebagai langkah perlindungan terhadap inflasi dan risiko keuangan global.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.







