Harga Emas Stagnan Meski Ketegangan Geopolitik Meningkat
JAKARTA, BursaNusantara.com – Ketegangan geopolitik kian panas setelah Amerika Serikat melancarkan serangan ke wilayah Iran, namun pasar emas domestik justru stagnan dan tidak mencerminkan lonjakan permintaan seperti yang umum terjadi saat gejolak global berlangsung.
Harga Spot Antam Masih Tertahan
Harga emas 24 karat keluaran PT Aneka Tambang Tbk (Antam) tercatat masih berada di level Rp1.942.000 per gram pada perdagangan Senin (23/6/2025).
Harga tersebut tidak berubah dibandingkan dengan hari sebelumnya meskipun situasi global sedang memanas akibat eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
Sementara itu, harga buyback emas Antam juga tetap stagnan di level Rp1.786.000 per gram, memperlihatkan belum adanya tekanan jual dari investor ritel.
Selisih antara harga jual dan harga beli kembali saat ini mencapai Rp156.000 per gram, margin yang patut dicermati oleh investor jangka pendek.
Investasi Emas Tak Semudah yang Dikira
Perbedaan antara harga jual dan harga buyback ini bukan sekadar angka teknis, melainkan indikator nyata dari potensi risiko investasi emas fisik dalam jangka pendek.
Banyak investor pemula kerap melupakan faktor ini dan berasumsi bahwa harga emas naik otomatis berarti cuan, padahal selisih margin buyback bisa menggerus potensi keuntungan.
Untuk memperoleh imbal hasil positif, harga emas harus naik melampaui selisih tersebut agar nilai jual kembali tidak berada di bawah harga beli.
Inilah alasan mengapa strategi investasi emas batangan harus dipandang sebagai instrumen lindung nilai jangka panjang, bukan spekulasi jangka pendek.
Hitung-Hitungan Potensi Untung dan Rugi
Simulasi yang dilakukan terhadap sejumlah waktu pembelian emas menunjukkan bahwa momentum pembelian sangat menentukan hasil akhir investasi.
Investor yang membeli emas pada 16 Juni 2025 dengan harga Rp1.968.000 per gram, jika menjual hari ini di harga buyback, akan mencatatkan kerugian -9,25%.
Hal serupa dialami pembeli pada 23 Mei 2025 yang membeli di harga Rp1.910.000 per gram, karena posisi mereka saat ini juga merugi -6,49%.
Sebaliknya, investor yang membeli di 23 Maret 2025 dengan harga Rp1.764.000 justru mulai mencicipi keuntungan sebesar 1,25%.
Keuntungan makin tebal dirasakan mereka yang sudah mengoleksi emas sejak Desember 2024 ke belakang, dengan potensi return yang terus meningkat hingga 65,52% untuk pembelian per September 2023.
Serangan AS-Iran Tak Guncang Harga Domestik
Meski konflik bersenjata antara dua negara besar kerap menjadi katalis positif bagi harga emas global, harga emas Antam lokal tak serta-merta ikut melonjak.
Hal ini menandakan bahwa pasar emas batangan di Indonesia cenderung lebih mengikuti dinamika harga yang ditetapkan oleh produsen dan bukan semata mencerminkan sentimen global real-time.
Konsumen Indonesia harus memahami bahwa harga Antam berbeda dengan harga spot internasional karena mengandung komponen biaya cetak, distribusi, dan margin korporasi.
Itulah sebabnya, dalam jangka pendek, harga Antam bisa saja stagnan meski emas dunia bergerak tajam.
Waktu Terbaik Beli Emas: Bukan Saat Panik
Kecenderungan umum masyarakat membeli emas saat harga naik—karena ketakutan akan konflik atau krisis—justru bisa menjadi bumerang dalam jangka pendek.
Mereka yang masuk ke pasar saat harga puncak seperti pertengahan Juni 2025 kini menanggung rugi yang tidak kecil karena harga buyback lebih rendah.
Waktu terbaik untuk membeli emas bukan saat pasar panik atau inflasi tinggi, melainkan ketika kondisi stabil dan harga berada di area konsolidasi yang rendah.
Investor cerdas memahami bahwa emas bukanlah instrumen cepat kaya, melainkan aset protektif terhadap penurunan daya beli dan risiko sistemik dalam horizon waktu panjang.
Perspektif Investasi: Lihat Jauh ke Depan
Melihat pola historis selama satu tahun terakhir, harga emas Antam menunjukkan tren kenaikan yang cukup konsisten, meski diselingi koreksi sesekali.
Dari harga Rp1.079.000 per gram pada 23 September 2023 menjadi Rp1.942.000 per gram hari ini, artinya kenaikan sudah mencapai lebih dari 65% dalam 9 bulan.
Namun tidak semua periode pembelian menguntungkan, sebagaimana terlihat dari investor yang membeli saat harga mendekati puncak.
Dengan demikian, selain faktor geopolitik, waktu akumulasi dan kesabaran menjadi kunci utama dalam strategi investasi emas batangan.
Investor perlu memiliki horizon panjang dan kemampuan mengabaikan fluktuasi harian jika ingin menghindari jebakan emosional yang berujung pada kerugian.
Disclaimer: Artikel ini hanya bertujuan sebagai informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab atas segala keputusan investasi yang diambil berdasarkan artikel ini.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.









