Geser Kebawah
KomoditasPasar

Harga Emas Terkoreksi di Tengah Aksi Profit Taking dan Ketidakpastian Global

103
×

Harga Emas Terkoreksi di Tengah Aksi Profit Taking dan Ketidakpastian Global

Sebarkan artikel ini
Harga Emas Terkoreksi Di Tengah Aksi Profit Taking Dan Ketidakpastian Global
Harga emas turun 0,2% akibat aksi profit taking meskipun permintaan aset safe haven tetap tinggi di tengah ketidakpastian global dan rilis data inflasi AS.

JAKARTA, BursaNusantara.com – Harga emas mengalami koreksi pada Senin (10/3/2025) setelah aksi profit taking oleh investor. Meskipun permintaan terhadap aset safe haven masih tinggi akibat ketidakpastian geopolitik, tekanan dari pasar saham dan spekulasi terkait kebijakan ekonomi AS memicu penurunan harga logam mulia ini.

Penurunan Harga Emas di Tengah Aksi Profit Taking

Harga emas spot turun 0,2% ke level US$ 2.904,5 per ons setelah sebelumnya mencatat kenaikan 2% pada pekan lalu. Kontrak berjangka emas AS juga terkoreksi 0,1% menjadi US$ 2.910,9 per ons. Analis senior Kitco Metals, Jim Wyckoff, menyebutkan bahwa penurunan harga emas ini lebih disebabkan oleh aksi ambil untung setelah kenaikan yang cukup signifikan sebelumnya.

Sponsor
Iklan

“Ada sedikit jeda dalam kenaikan harga emas akibat aksi profit taking dan pelemahan pasar saham. Namun, permintaan safe haven kemungkinan akan kembali meningkat,” ujar Wyckoff.

Selain aksi profit taking, pelemahan pasar saham AS juga menjadi faktor penekan harga emas. Ketidakpastian kebijakan perdagangan global, terutama terkait tarif baru yang diterapkan oleh pemerintahan Donald Trump, memicu kekhawatiran di kalangan investor.

Pengaruh Kebijakan Ekonomi dan Tarif Baru AS

Presiden AS Donald Trump baru-baru ini memberlakukan tarif baru sebesar 25% pada impor dari Meksiko dan Kanada. Namun, beberapa produk dari kedua negara tersebut mendapatkan pengecualian sementara selama satu bulan. Kebijakan ini meningkatkan ketidakpastian ekonomi dan berpotensi berdampak pada inflasi.

Pasar saat ini menantikan rilis data inflasi AS yang akan menjadi faktor kunci dalam pergerakan harga emas ke depan. “Tingginya ketidakpastian ini bisa mendorong harga emas kembali ke rekor tertingginya. Data ekonomi yang lebih lemah dari perkiraan juga akan menguntungkan emas,” tambah Wyckoff.

Data Inflasi AS dan Dampaknya Terhadap Harga Emas

Pelaku pasar kini menunggu rilis data Indeks Harga Konsumen (CPI) AS pada Rabu (12/3/2025) dan Indeks Harga Produsen (PPI) pada Kamis (13/3/2025). Data ini akan menjadi indikator penting bagi kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) dalam beberapa bulan ke depan.

Ketua The Fed, Jerome Powell, menyatakan bahwa dampak dari kebijakan tarif pemerintahan Trump terhadap inflasi masih perlu dikaji lebih lanjut. Suku bunga yang lebih rendah biasanya meningkatkan daya tarik emas sebagai aset investasi, mengingat logam mulia ini tidak memberikan imbal hasil secara langsung.

Menurut data terbaru dari CME Group’s FedWatch, peluang The Fed mempertahankan suku bunga pada pertemuan mendatang cukup tinggi. Namun, sebagian besar investor memperkirakan pemangkasan suku bunga akan dilakukan pada Juni 2025.

Pergerakan Harga Logam Mulia Lainnya

Selain emas, harga perak juga mengalami penurunan 0,9% menjadi US$ 32,23 per ons. Konsultan Marex, Edward Meir, menyebutkan bahwa meskipun investasi perak mengalami sedikit peningkatan, kekhawatiran perlambatan ekonomi global, terutama di China, dapat menekan permintaan logam ini.

Data terbaru menunjukkan bahwa impor China mengalami penurunan tak terduga selama periode Januari-Februari 2025. Indeks Harga Konsumen (CPI) China juga mencatat penurunan terbesar dalam 13 bulan terakhir pada Februari, yang semakin meningkatkan ketidakpastian di pasar global.

Sementara itu, harga platinum naik tipis 0,04% ke US$ 963,3 per ons, sedangkan palladium turun 0,4% menjadi US$ 945 per ons. Fluktuasi harga ini mencerminkan ketidakpastian pasar yang masih tinggi dan respons investor terhadap dinamika ekonomi global.

Dengan berbagai faktor yang masih berpengaruh terhadap pasar logam mulia, investor tetap mencermati perkembangan ekonomi global untuk menentukan strategi investasi mereka dalam beberapa bulan ke depan.

Ikuti media sosial kami untuk update terbaru

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.