JAKARTA, BursaNusantara.com – Harga emas dunia mengalami koreksi signifikan pada akhir pekan lalu, seiring dengan aksi ambil untung oleh investor di tengah kondisi pasar keuangan global yang lesu.
Berdasarkan data Trading Economics, harga emas spot anjlok sebesar 2,43% pada Jumat (4/4), menyentuh level US$ 3.037 per ons troi.
Aksi Profit Taking Warnai Pelemahan Emas
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyebut bahwa tekanan pada harga emas dipicu oleh aksi ambil untung investor yang mengalami kerugian besar di pasar saham.
Baca Juga: Harga Emas Meredup, Profit Taking & Tarif AS Jadi Pemicu
Langkah ini diambil untuk menutup posisi rugi yang sempat membengkak pada pekan sebelumnya.
“Investor melakukan profit taking emas untuk menutup kerugian di saham,” ujarnya kepada Kontan.co.id, Minggu (6/4).
Di saat yang sama, indeks dolar AS (DXY) juga menunjukkan penguatan harian sebesar 0,93% ke level 103,023. Namun, Lukman menegaskan bahwa lonjakan DXY tidak mencerminkan peralihan aset ke dolar, melainkan reaksi terhadap hasil data Non-Farm Payroll (NFP) AS yang melampaui ekspektasi pasar.
Baca Juga: Harga Emas Terkoreksi di Tengah Aksi Profit Taking dan Ketidakpastian Global
Ia menambahkan bahwa rebound DXY bersifat teknikal dan tidak otomatis melanjutkan tren penguatan dolar AS, apalagi di tengah risiko resesi dan kebijakan ekonomi proteksionis di bawah Donald Trump yang memperburuk iklim pasar saham.
Faktor Geopolitik Jaga Tren Bullish Emas
Sementara itu, pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menilai penguatan dolar hanya bersifat sementara. Menurutnya, tren harga emas dalam jangka menengah hingga panjang masih cenderung bullish karena dipengaruhi konflik geopolitik global dan ketegangan dagang internasional.
“Tren harga emas tetap bullish didukung perang dagang serta konflik di Timur Tengah dan Rusia-Ukraina,” jelasnya.
Baca Juga: Harga Emas Diprediksi Rontok, Deal Trump-Xi Tarik Turun
Ibrahim juga melihat koreksi harga emas saat ini justru membuka peluang bagi institusi dan fund besar untuk kembali masuk ke pasar. Ia optimistis harga emas bisa kembali menanjak dalam waktu dekat.
“Saya perkirakan di April ini harga emas akan mencapai US$ 3.200,” tutupnya.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.





