Geser Kebawah
HeadlineKomoditasPasar

Harga Minyak Dunia Anjlok 11% Sinyal Damai atau Jeda Perang?

77
×

Harga Minyak Dunia Anjlok 11% Sinyal Damai atau Jeda Perang?

Sebarkan artikel ini
Harga Minyak Dunia Anjlok 11% Sinyal Damai atau Jeda Perang
Waspadai volatilitas saat Harga Minyak Dunia merosot 11% pasca pernyataan Donald Trump. Simak analisis risiko pasokan dan dampak inflasi global di sini!

Penundaan Serangan Militer AS Picu Koreksi Tajam Harga Energi

JAKARTA, BursaNusantara.com– Pelaku pasar komoditas global dikejutkan oleh anomali pergerakan harga energi setelah ancaman eskalasi militer di Timur Tengah tiba-tiba mereda melalui kesepakatan penundaan serangan yang sangat krusial.

Harga minyak dunia dilaporkan ambles sekitar 11 persen pada Senin (23/3/2026) menyusul pernyataan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, untuk menunda serangan terhadap infrastruktur listrik Iran selama lima hari.

Langkah ini diambil hanya beberapa jam sebelum tenggat waktu yang berpotensi memicu perang terbuka lebih luas setelah ketegangan berlangsung selama empat pekan terakhir.

Minyak mentah jenis WTI ditutup jatuh 10 persen ke level USD88,13 per barel, sementara Brent merosot hingga USD99,94 yang merupakan penutupan terendah sejak pertengahan Maret.

Penurunan ini membalikkan sentimen setelah Brent sempat menyentuh level tertinggi sejak Juli 2022 pada perdagangan akhir pekan lalu.

Gejolak tersebut mendorong volatilitas kontrak berjangka ke level tertinggi sejak April 2022 seiring dengan ketidakpastian jalur diplomasi yang tengah ditempuh.

Mengapa Sinyal Damai Trump Berbenturan dengan Serangan Baru Iran?

Mengutip laporan Reuters, Trump mengklaim adanya “titik kesepakatan besar” dalam pembicaraan antara AS dan Iran guna mengakhiri konflik bersenjata secepat mungkin.

Namun, harga minyak sempat memangkas sebagian kerugiannya setelah pihak Iran membantah adanya negosiasi dan justru meluncurkan serangan baru ke lokasi strategis di Timur Tengah.

Garda Revolusi Iran bahkan mengancam akan menghancurkan jaringan listrik Israel dan fasilitas pangkalan militer AS jika Washington tetap melanjutkan ancaman serangan.

Konflik ini telah melumpuhkan fasilitas energi utama di kawasan Teluk dan menghentikan arus pelayaran melalui Selat Hormuz secara efektif.

Padahal, jalur perairan tersebut menangani sekitar 20 persen aliran minyak serta gas alam cair (LNG) untuk kebutuhan energi global setiap harinya.

Analis memperkirakan dunia saat ini kehilangan produksi minyak mentah antara 7 juta hingga 10 juta barel per hari akibat gangguan distribusi tersebut.

Bagaimana Dampak Guncangan Pasokan Terhadap Kebijakan Bank Sentral?

Direktur Eksekutif IEA, Fatih Birol, menilai krisis energi saat ini memiliki dampak yang lebih buruk dibandingkan gabungan dua guncangan minyak hebat pada tahun 1970-an.

Kondisi pasokan yang kritis memaksa adanya pelonggaran sementara sanksi AS terhadap minyak asal Rusia dan Iran yang saat ini posisinya sudah berada di laut.

Di sisi lain, Gubernur Federal Reserve Stephen Miran menyatakan pihaknya masih memantau dampak lonjakan harga energi terhadap laju inflasi Amerika Serikat.

Bank sentral seperti The Fed tetap melihat adanya ruang penurunan suku bunga guna mendukung stabilitas pasar tenaga kerja di tengah tekanan ekonomi global.

Kontradiksi muncul dari Bank of Japan (BOJ) yang justru membuka peluang kenaikan suku bunga pada April mendatang akibat pelemahan nilai tukar yen.

Sementara itu, survei European Commission mencatatkan kepercayaan konsumen zona euro jatuh ke level terendah sejak akhir 2023 akibat terganggunya mobilitas udara global.

Lihat berita terbaru lainnya di Google Berita | Bursa Nusantara

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Memuat Grafik...

Tinggalkan Balasan