Harapan De-eskalasi Sanksi Iran di Tengah Bayang-bayang Krisis Energi
JAKARTA, BursaNusantara.com – Ketidakpastian Harga Minyak Dunia kini berada di titik kritis di mana koreksi harga harian seringkali hanya menjadi tabir tipis yang menutupi ancaman inflasi ekstrem di depan mata.
Pasar energi saat ini sedang bertaruh antara harapan de-eskalasi sanksi terhadap Iran dan kenyataan pahit gangguan distribusi di Selat Hormuz.
Kewaspadaan tinggi tetap diperlukan karena volatilitas harga masih mencatatkan kenaikan signifikan secara tahunan meski terjadi pelemahan dalam jangka pendek.
Melansir laporan Investing, minyak mentah acuan Brent tercatat turun 1,6 persen ke level USD106,94 per barel pada perdagangan Jumat (20/3/2026).
Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) melemah sekitar 2 persen ke posisi USD93,65 per barel pada awal perdagangan hari yang sama.
Tekanan terhadap harga ini muncul setelah Washington dilaporkan meminta Israel untuk menahan serangan lanjutan terhadap infrastruktur energi Iran guna memicu ekspektasi de-eskalasi konflik.
Sanksi Iran Dilonggarkan, Stok 140 Juta Barel Siap Guyur Pasar?
Pernyataan Menteri Keuangan Amerika Serikat, Scott Bessent, menjadi katalis utama yang menekan harga setelah membuka peluang pencabutan sanksi terhadap minyak Iran.
Kebijakan tersebut diperkirakan dapat membebaskan sekitar 140 juta barel minyak tambahan ke pasar global sebagai upaya meredam lonjakan harga.
Langkah ini menjadi sangat krusial mengingat sepanjang tahun 2026, harga komoditas energi ini telah melonjak lebih dari 40 persen akibat meningkatnya risiko gangguan pasokan.
Amerika Serikat bersama sejumlah negara besar juga sedang mempertimbangkan pelepasan cadangan minyak strategis guna menstabilkan pasar energi yang terus memanas.
Kenaikan harga yang persisten telah memicu peringatan dari sejumlah bank sentral utama dunia mengenai potensi kenaikan suku bunga sebagai respons terhadap tekanan inflasi.
Respon moneter tersebut diambil untuk menjaga stabilitas ekonomi yang mulai tertekan oleh tingginya biaya produksi dan distribusi global.
Ancaman USD180: Skenario Terburuk Jika Selat Hormuz Terhambat?
Meskipun terjadi penurunan harian, harga Brent sempat menyentuh level tertinggi di USD119 per barel pada Kamis sebelum akhirnya terkoreksi.
Laporan terbaru menyebutkan bahwa pejabat Arab Saudi memperkirakan harga bisa melonjak hingga USD180 per barel apabila gangguan pasokan dari Iran berlanjut melewati bulan April.
Ketegangan di lapangan meningkat tajam setelah serangan Israel terhadap ladang gas South Pars, yang merupakan ladang gas terbesar di dunia milik Iran dan Qatar.
Iran merespons serangan tersebut dengan menargetkan sejumlah fasilitas energi di kawasan Timur Tengah, sehingga memperkeruh situasi keamanan di jalur pelayaran strategis.
Terganggunya Selat Hormuz sebagai jalur utama distribusi minyak dan gas dunia kini meningkatkan risiko pasokan, terutama bagi negara-negara di kawasan Asia.
Penutupan sebagian jalur ini berpotensi memicu lonjakan pendapatan bagi negara produsen, namun sekaligus mengancam pertumbuhan ekonomi global secara menyeluruh.
Lihat berita terbaru lainnya di Google Berita | Bursa Nusantara
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.












