Geser Kebawah
BisnisEnergiHeadline

Harga Minyak Melambung Tinggi, Ekonomi Global Terancam?

385
×

Harga Minyak Melambung Tinggi, Ekonomi Global Terancam?

Sebarkan artikel ini
Harga Minyak Melambung Tinggi, Ekonomi Global Terancam
Harga minyak bertahan di level tertinggi 4 bulan! Simak dampak lonjakan harga energi ini terhadap portofolio investasi dan inflasi global. Baca selengkapnya!

Guncangan Pasokan Global: Harga Minyak Bertahan di Level Tertinggi 4 Bulan di Tengah Ketegangan Geopolitik

JAKARTA – Pasar energi global saat ini tengah mengalami tekanan hebat seiring dengan harga minyak yang terus bertahan di level tertinggi dalam empat bulan terakhir.

Lonjakan ini memicu kekhawatiran baru di kalangan pelaku pasar modal dan pembuat kebijakan ekonomi di seluruh dunia. Oleh karena itu, investor ritel perlu mewaspadai potensi kenaikan inflasi yang dapat menekan daya beli masyarakat.

Sponsor
Iklan

Selain itu, ketegangan geopolitik yang belum mereda di wilayah penghasil minyak utama menjadi faktor pendorong utama tren bullish ini.

Para analis memperingatkan bahwa jika harga minyak mentah tidak segera stabil, target pertumbuhan ekonomi nasional bisa menghadapi tantangan serius pada kuartal mendatang.

Dinamika Pasokan dan Pengurangan Produksi OPEC+

Penyebab utama bertahannya harga minyak di level tinggi adalah keputusan strategis dari organisasi negara-negara pengekspor minyak (OPEC+).

Mereka memilih untuk tetap membatasi kuota produksi guna menjaga keseimbangan pasar. Namun, di sisi lain, permintaan energi dari negara-negara dengan ekonomi berkembang justru menunjukkan tren peningkatan yang signifikan pasca-pandemi.

Strategi pengurangan produksi ini secara efektif menciptakan defisit pasokan global. Akibatnya, harga minyak mentah jenis Brent dan WTI terus merangkak naik dan sulit untuk kembali ke level moderat dalam waktu singkat.

Efek Domino bagi Pasar Modal dan Inflasi Indonesia

Bagi Indonesia, lonjakan harga minyak dunia merupakan pedang bermata dua. Di satu sisi, kenaikan ini berpotensi meningkatkan penerimaan negara dari sektor migas.

Namun, di sisi lain, subsidi energi yang harus ditanggung APBN dipastikan akan membengkak secara drastis. Kondisi ini dapat memicu sentimen negatif pada harga saham perusahaan manufaktur yang sangat bergantung pada biaya energi.

Meskipun demikian, sektor pertambangan dan energi di Bursa Efek Indonesia (BEI) justru berpeluang mendapatkan durian runtuh (windfall) dari situasi ini.

Investor disarankan untuk mulai melakukan diversifikasi portofolio ke sektor-sektor yang memiliki ketahanan kuat terhadap inflasi energi.

Proyeksi Harga Minyak di Masa Depan

Analis memprediksi bahwa harga minyak masih akan berfluktuasi secara agresif dalam beberapa pekan ke depan. Perkembangan data cadangan minyak Amerika Serikat dan kebijakan moneter The Fed akan menjadi indikator kunci yang dipantau pasar.

Oleh karena itu, ketelitian dalam membaca data ekonomi makro menjadi sangat krusial bagi siapa saja yang ingin mengamankan asetnya di tengah ketidakpastian ini.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Tinggalkan Balasan