HeadlineKomoditasPasar

Harga Minyak Melemah di Tengah Spekulasi Produksi OPEC+

129
Harga Minyak Melemah di Tengah Spekulasi Produksi OPEC+
Harga minyak global tergelincir 1% karena kekhawatiran pasokan, ditambah perkembangan negosiasi Iran-AS dan spekulasi keputusan OPEC+.

Spekulasi Produksi OPEC+ dan Negosiasi Iran-AS Bayangi Harga Minyak

JAKARTA, BursaNusantara.com – Di tengah ketidakpastian geopolitik dan strategi produksi global, harga minyak mentah kembali tergelincir pada perdagangan Selasa (27/5/2025), mencerminkan kegelisahan pasar terhadap potensi kelebihan pasokan global.

Kekhawatiran pasar ini diperkuat oleh kemajuan diplomatik antara Iran dan Amerika Serikat (AS), serta antisipasi keputusan OPEC+ mengenai peningkatan produksi.

Harga minyak Brent ditutup turun sebesar 65 sen atau 1% ke level US$ 64,09 per barel. Di saat yang sama, minyak mentah acuan AS, West Texas Intermediate (WTI), melemah 64 sen atau setara 1,04% ke level US$ 60,89 per barel.

Negosiasi Iran-AS Menggeser Ekspektasi Pasokan Minyak Global

Putaran kelima pembicaraan antara delegasi Iran dan AS yang digelar di Roma menjadi perhatian besar pasar energi global.

Meskipun hasilnya belum final, munculnya kemajuan kecil dalam negosiasi menyalakan kembali spekulasi bahwa Iran dapat kembali membanjiri pasar global dengan ekspor minyaknya.

Masalah utama dalam negosiasi ini adalah soal pengayaan uranium oleh Iran. Isu ini menjadi titik krusial dalam pembahasan, sehingga meskipun ada kemajuan, risiko kegagalan kesepakatan tetap tinggi.

Namun, apabila kesepakatan berhasil dicapai, sanksi terhadap Iran yang selama ini membatasi ekspor minyaknya diperkirakan akan dicabut. Hal ini berpotensi menambah pasokan hingga ratusan ribu barel per hari ke pasar global dalam waktu singkat.

Potensi Langkah OPEC+ Mempercepat Kenaikan Produksi

Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) bersama sekutunya dalam aliansi OPEC+, dijadwalkan mengadakan pertemuan rutin pada Rabu (28/5/2025).

Meskipun dalam pertemuan awal tersebut belum diantisipasi adanya keputusan besar, informasi dari tiga sumber internal menyebutkan kemungkinan besar akan ada pertemuan lanjutan pada Sabtu (31/5/2025).

Dalam pertemuan susulan tersebut, opsi percepatan kenaikan produksi mulai Juli mendatang menjadi topik yang dikabarkan akan dibahas serius.

Hal ini menciptakan tekanan tambahan bagi pasar yang sudah gelisah karena potensi tambahan pasokan dari Iran.

Dennis Kissler, Wakil Presiden Senior di BOK Financial, menilai bahwa kombinasi antara potensi tambahan pasokan dari Iran dan langkah OPEC+ meningkatkan produksi akan memberikan tekanan jangka pendek terhadap harga minyak.

Sentimen bearish ini semakin kuat jika kesepakatan nuklir Iran disepakati dan diikuti oleh pencabutan sanksi ekspor.

Respons Pasar: Dari Wall Street hingga Komoditas

Pasar saham AS turut mengalami penguatan setelah Presiden Donald Trump mengumumkan keputusan untuk menunda penerapan tarif terhadap Uni Eropa hingga 9 Juli mendatang. Langkah ini dinilai meredakan ketegangan dagang dan memberikan dukungan terhadap permintaan energi global.

Kebijakan Trump tersebut membantu mendorong kepercayaan pasar, meskipun untuk minyak mentah dampaknya cenderung terbatas. Pendorong utama tetap pada faktor suplai dan kebijakan OPEC+ yang sedang dinanti-nantikan oleh pelaku pasar energi.

Selain itu, pembaruan data cadangan minyak mentah AS menjadi perhatian. Survei awal yang dilakukan Reuters memperkirakan bahwa stok minyak mentah AS naik sekitar 500 ribu barel dalam sepekan terakhir, memberikan sinyal tambahan bahwa pasokan domestik juga menunjukkan peningkatan.

Ancaman Tambahan dari Kanada: Kebakaran Hutan Hambat Produksi

Di luar dinamika politik dan kebijakan, pasar energi juga menghadapi gangguan pasokan dari faktor alam. Kebakaran hutan yang terjadi di Alberta, Kanada, mengakibatkan penutupan sementara sejumlah fasilitas produksi minyak dan gas alam.

Meskipun dampaknya belum signifikan dalam hal volume, gangguan ini memberikan sedikit bantalan bagi harga minyak yang sedang mengalami tekanan akibat ekspektasi peningkatan pasokan global. Kondisi ini menjadi perhatian khusus karena Alberta merupakan wilayah utama produksi energi di Kanada.

Faktor Fundamental Masih Dominan Pengaruhi Arah Harga

Menurut Giovanni Staunovo, Analis Komoditas UBS, meskipun ada dukungan dari penundaan tarif dan gangguan pasokan sementara di Kanada, fokus utama pasar tetap pada keputusan OPEC+ dan jalannya negosiasi Iran-AS.

Ia menyebut ketidakpastian atas hasil pembicaraan antara negara-negara anggota OPEC+ menjadi faktor yang menahan harga minyak dari potensi rebound lebih tinggi. Pasar cenderung menahan napas hingga akhir pekan ini sebelum mengambil posisi baru.

Dari sudut pandang fundamental, potensi pelepasan pasokan baru dari negara anggota dan non-anggota OPEC menjadi isu paling kritikal saat ini. Terutama jika dilihat dari kombinasi tiga tekanan: Iran, produksi OPEC+, dan peningkatan cadangan domestik AS.

Dinamika Pasokan Global Menjadi Faktor Penggerak

Dalam jangka pendek, dinamika pasokan global menjadi pengendali utama arah harga minyak. Ketika ketegangan geopolitik seperti konflik Timur Tengah biasanya mendukung harga, negosiasi damai seperti kesepakatan nuklir justru berpotensi menekan harga karena membuka kembali keran ekspor negara-negara yang sebelumnya terkena sanksi.

Hal ini menjadi ironis karena pasar energi saat ini lebih rentan terhadap kabar baik soal perdamaian ketimbang konflik. Di mata para pelaku pasar, damai berarti suplai bertambah, dan suplai bertambah berarti harga turun.

Sebaliknya, gangguan seperti kebakaran hutan Kanada atau bencana alam lainnya cenderung mendongkrak harga meskipun efeknya bersifat sementara. Ini mencerminkan betapa sensitifnya harga terhadap dinamika penawaran ketimbang permintaan.

Outlook Pasar Minyak Menjelang Akhir Mei 2025

Dengan berbagai faktor yang masih belum menemui kepastian, pasar minyak diperkirakan akan bergerak volatil menjelang akhir Mei 2025. Pelaku pasar global kini menanti dua hal besar yang berpotensi menjadi titik balik.

Pertama adalah keputusan final dari OPEC+ dalam pertemuan lanjutan pada Sabtu, apakah benar mereka akan mempercepat peningkatan produksi minyak mulai Juli. Kedua adalah hasil negosiasi antara Iran dan AS terkait program nuklir yang bisa membuka kembali ekspor minyak Iran.

Kedua faktor ini akan menjadi penentu apakah harga minyak akan menemukan pijakan baru untuk bangkit, atau justru makin tertekan dalam beberapa pekan ke depan.

Permintaan Masih Stabil, Tapi Pasokan Jadi Kunci

Meskipun pasar global masih menunjukkan permintaan energi yang stabil, terutama di tengah pemulihan ekonomi pascapandemi, sisi pasokan justru mendominasi sentimen pasar saat ini. Ketakutan akan kelebihan pasokan menciptakan bayangan kelam bagi harga.

Dalam konteks jangka menengah, pelaku pasar cenderung memantau bagaimana konsistensi produksi dari negara produsen utama berjalan. Apakah Arab Saudi dan Rusia akan tetap pada kebijakan pengendalian produksi atau justru tergoda menaikkan kuota untuk menjaga pangsa pasar?

Sementara itu, Amerika Serikat sebagai produsen shale oil terbesar juga menjadi faktor yang tak bisa diabaikan. Setiap pekan, data cadangan minyak mentah dan produksi AS menjadi indikator sensitif yang langsung memengaruhi pergerakan harga harian.

Dukungan Sementara, Tapi Risiko Jangka Pendek Belum Hilang

Dalam pandangan tim analis BursaNusantara.com, pergerakan harga minyak saat ini berada dalam tekanan sentimen jangka pendek, bukan karena lemahnya permintaan. Justru, permintaan global relatif sehat, tapi potensi lonjakan pasokan membuat pasar kehilangan keseimbangan emosional.

Langkah Trump menunda tarif terhadap Uni Eropa dan gangguan pasokan dari Kanada adalah “penenang sesaat”. Risiko sebenarnya ada di akhir pekan ini ketika keputusan besar dari OPEC+ dan perkembangan nuklir Iran benar-benar diumumkan.

Menurut analisis Mohamad Ali, Pakar Analisis Saham Senior di BursaNusantara.com, kondisi ini menciptakan peluang strategis bagi para pelaku pasar energi yang mampu membaca volatilitas. “Bukan soal naik atau turun, tapi seberapa cepat arah pasar akan berubah,” ujarnya.

Penutup: Menunggu Hari Penentuan

Pasar minyak global tampaknya sedang berada di ambang dua jalur besar: stabilisasi atau koreksi lanjutan. Keputusan OPEC+ dan kesepakatan Iran-AS akan menentukan jalur mana yang akan diambil.

Sejauh ini, sentimen negatif masih mendominasi karena proyeksi peningkatan pasokan lebih cepat dari perkiraan. Namun, jika salah satu dari dua faktor utama tersebut gagal terealisasi, harga bisa berbalik arah.

Pasar kini menanti, dan siapa yang paling siap menavigasi ketidakpastian inilah yang akan mendapatkan keuntungan paling besar.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Grafik tidak tersedia karena JavaScript dinonaktifkan di browser Anda.
×

Selamat Datang

Masuk untuk komentar & diskusi.

Lupa Password?

Password dikirim ke email.

Exit mobile version