HeadlineKomoditasPasar

Harga Minyak Melemah Mingguan, Sentimen Perang Dagang Bayangi

105
Harga Minyak Melemah Mingguan, Sentimen Perang Dagang Bayangi
Harga minyak dunia turun mingguan karena ketidakpastian pembicaraan tarif AS-China dan ekspektasi pasokan berlebih dari OPEC+

JAKARTA, BursaNusantara.com – Pergerakan harga minyak global menunjukkan tren melemah sepanjang pekan ini meskipun ditutup sedikit menguat pada Jumat (25/4), mencerminkan tekanan dari dinamika geopolitik dan ekspektasi pasar atas potensi membanjirnya pasokan baru.

Kontrak berjangka minyak mentah Brent tercatat naik 32 sen ke level US$66,87 per barel, namun tetap membukukan penurunan mingguan sebesar 1,6%.

Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) milik AS naik 23 sen ke posisi US$63,02 per barel, dengan koreksi mingguan lebih dalam, yakni 2,6%.

Baca Juga: Harga Emas Berpotensi Tembus US$ 3.400 di April 2025

Ketidakpastian Tarif AS-China Kembali Mengganggu Pasar Energi

Pasar komoditas masih dibayangi ketidakpastian terkait arah hubungan dagang antara dua raksasa ekonomi dunia, Amerika Serikat dan China.

Beijing telah memberikan sinyal pelonggaran dengan membebaskan beberapa produk AS dari tarif tinggi. Namun, pernyataan Presiden AS Donald Trump tentang berlangsungnya negosiasi langsung dibantah cepat oleh otoritas China, mempertebal spekulasi pasar.

Ketidakjelasan arah diplomasi ini mendorong investor untuk mengambil posisi hati-hati, mengingat ketegangan dagang dapat berimplikasi langsung pada proyeksi permintaan energi global.

Baca Juga: Harga Batu Bara Terjun Bebas di Tengah Perang Dagang AS-China, Bagaimana Nasib Industri?

Ancaman Oversupply dan Potensi Perubahan Kebijakan OPEC+

Di sisi pasokan, kekhawatiran atas melimpahnya minyak kembali mencuat.

Beberapa anggota aliansi produsen minyak OPEC+ dikabarkan tengah mendorong percepatan peningkatan produksi mulai Juni mendatang. Jika realisasi ini terjadi, pasar kemungkinan akan dibanjiri pasokan baru, di tengah kekhawatiran pelemahan ekonomi yang menekan permintaan.

Analis Pasar Mulai Pesimistis

Analis pasar dari Saxo Bank, Ole Hansen, menilai reli harga minyak kemungkinan tertahan dalam waktu dekat, seiring dengan tekanan dari ketegangan geopolitik dan prospek kenaikan output OPEC+.

Baca Juga: Harga Batu Bara Terus Jatuh, Dampak Perang Dagang AS-China?

Perang Ukraina dan Produksi Rusia Jadi Variabel Tambahan

Di luar skenario OPEC+, perkembangan diplomatik antara Rusia dan Amerika Serikat terkait Ukraina turut memberikan nuansa baru dalam dinamika pasar energi.

Dalam pertemuan selama tiga jam antara Presiden Vladimir Putin dan utusan Presiden Trump, Steve Witkoff, terdapat sinyal kemajuan dalam meredakan konflik, yang berpotensi membuka jalan bagi masuknya lebih banyak minyak Rusia ke pasar internasional.

Kenaikan Rig AS Isyaratkan Tambahan Pasokan Mendatang

Sinyal bertambahnya produksi juga datang dari Amerika Serikat.

Berdasarkan data mingguan dari Baker Hughes, jumlah rig pengeboran minyak di AS naik dua unit menjadi 483 per 25 April. Lonjakan ini menambah kekhawatiran bahwa pasokan global akan terus meningkat dalam beberapa bulan mendatang.

Kombinasi berbagai faktor global ini menempatkan harga minyak pada fase konsolidasi yang penuh ketidakpastian, dengan investor cermat mencermati arah kebijakan dan kondisi geopolitik yang berkembang.

Ikuti media sosial kami untuk update terbaru

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Grafik tidak tersedia karena JavaScript dinonaktifkan di browser Anda.
×

Selamat Datang

Masuk untuk komentar & diskusi.

Lupa Password?

Password dikirim ke email.

Exit mobile version