Geser Kebawah
KomoditasPasar

Harga Minyak Melemah, OPEC+ dan Tarif AS Jadi Penentu

62
×

Harga Minyak Melemah, OPEC+ dan Tarif AS Jadi Penentu

Sebarkan artikel ini
Harga Minyak Melemah, OPEC+ dan Tarif AS Jadi Penentu
Harga minyak WTI turun ke US$62 per barel karena spekulasi produksi OPEC+ dan dinamika tarif AS-Tiongkok kian mempengaruhi pasar global.

JAKARTA, BursaNusantara.com – Harga minyak mentah WTI berjangka kembali melemah ke kisaran US$62 per barel pada Kamis (24/4), usai terkoreksi lebih dari 2% dalam perdagangan sebelumnya.

Pelemahan ini terjadi di tengah ekspektasi bahwa kelompok produsen OPEC+ berpotensi mempercepat peningkatan produksi untuk bulan kedua berturut-turut pada Juni mendatang.

Sponsor
Iklan

Beberapa negara anggota, menurut laporan Tradingeconomics, telah menyuarakan keinginan untuk menambah pasokan minyak global guna merespons tekanan pasar dan kebutuhan ekonomi domestik mereka.

Sikap Kazakhstan menjadi sorotan tersendiri. Sebagai sekutu penting dalam aliansi OPEC+, negara ini secara terbuka menyatakan tak akan memangkas produksi dari ladang minyak utamanya.

Pemerintah Kazakhstan menegaskan bahwa kepentingan nasional akan tetap menjadi prioritas dalam penetapan kuota produksi, sebuah langkah yang dapat memperlemah posisi negosiasi dalam kelompok OPEC+.

Tarif AS-Tiongkok dan Negosiasi Iran Beri Tekanan Tambahan

Di sisi lain, ketidakpastian geopolitik juga memberi tekanan tersendiri terhadap harga minyak.

Laporan terbaru menunjukkan Gedung Putih mempertimbangkan pemangkasan tarif impor dari Tiongkok hingga 50% sebagai bagian dari upaya diplomasi dagang yang lebih lunak.

Langkah ini memicu optimisme pelaku pasar bahwa aktivitas perdagangan dapat meningkat, yang secara teoritis akan menopang permintaan energi.

Namun demikian, pernyataan tegas dari Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt bahwa tidak akan ada pemotongan tarif sepihak, menahan optimisme pasar secara penuh.

Sementara itu, negosiasi antara AS dan Iran masih diwarnai ketidakpastian, terutama setelah Washington memberlakukan sanksi baru terhadap sektor energi Iran menjadi hambatan besar bagi potensi peningkatan pasokan dari Teheran.

Ikuti media sosial kami untuk update terbaru

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.