Geser Kebawah
HeadlineKomoditasPasar

Harga Minyak Melonjak Hampir 2% di Tengah Gejolak Perang Dagang

114
×

Harga Minyak Melonjak Hampir 2% di Tengah Gejolak Perang Dagang

Sebarkan artikel ini
harga minyak melonjak hampir 2% di tengah gejolak perang dagang kompres
Harga minyak naik hampir 2% akibat ketegangan perang dagang global. Investor khawatir kebijakan tarif AS memicu dampak ekonomi yang lebih luas.

JAKARTA, BursaNusantara.com – Harga minyak global mengalami kenaikan signifikan hampir 2% pada Senin (10/2/2025) di tengah ketidakpastian pasar akibat kebijakan perdagangan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

Meskipun investor masih khawatir terhadap potensi eskalasi perang dagang, lonjakan harga ini terjadi setelah minyak mencatat penurunan selama tiga pekan berturut-turut.

Sponsor
Iklan

Lonjakan Harga Minyak di Tengah Ketidakpastian

Berdasarkan laporan Reuters, harga minyak mentah Brent melonjak sebesar US$ 1,21 atau naik 1,6%, menjadi US$ 75,87 per barel.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS mengalami kenaikan US$ 1,32 atau 1,9%, menjadi US$ 72,32 per barel. Pergerakan positif ini terjadi setelah harga minyak turun 2,8% pada pekan sebelumnya akibat ketidakpastian kebijakan perdagangan global.

Analis pasar menyebutkan bahwa faktor utama yang memengaruhi volatilitas harga minyak adalah ketidakpastian terkait kebijakan tarif yang diberlakukan Trump. Investor tampak waspada dalam menentukan langkah di tengah spekulasi bahwa kebijakan tarif baru dapat memperburuk situasi ekonomi global.

Kebijakan Tarif Trump dan Dampaknya ke Pasar Minyak

Menurut informasi yang diperoleh dari sumber terpercaya, Trump diperkirakan akan menandatangani perintah eksekutif terkait tarif pada Senin atau Selasa (10-11/2/2025).

Keputusan ini berpotensi meningkatkan risiko perang dagang dan dapat menghambat pertumbuhan ekonomi global serta menekan permintaan energi, termasuk minyak mentah.

Pekan sebelumnya, Trump mengumumkan penerapan tarif terhadap Kanada, Meksiko, dan China. Namun, ia kemudian menangguhkan tarif bagi negara-negara tetangga AS sehari setelah pengumuman tersebut.

Kebijakan yang berubah-ubah ini menimbulkan ketidakpastian di pasar, memicu volatilitas harga minyak, dan mengganggu keseimbangan permintaan serta penawaran energi dunia.

Respons Pasar dan Prospek Harga Minyak

Sejumlah analis menilai bahwa ketidakpastian seputar kebijakan perdagangan AS dapat terus berlangsung dalam beberapa pekan ke depan. Tony Sycamore, analis dari IG, menyebutkan bahwa pasar harus bersiap terhadap kemungkinan perubahan kebijakan yang bisa berdampak langsung pada harga minyak.

Di sisi lain, pasar minyak juga dipengaruhi oleh kebijakan dagang China yang mulai menerapkan tarif balasan terhadap beberapa ekspor AS sejak Senin (10/2/2025).

Namun, hingga saat ini, belum ada tanda-tanda adanya kemajuan dalam negosiasi antara Washington dan Beijing. Pelaku pasar energi saat ini juga tengah menanti apakah Beijing akan memberikan pengecualian tarif untuk impor minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dari AS.

Faktor Lain yang Mendorong Kenaikan Harga Minyak

Selain perang dagang, harga minyak juga terdorong oleh laporan dari TASS yang menyebutkan bahwa Badan Antimonopoli Federal Rusia mempertimbangkan larangan ekspor bensin selama satu bulan. Langkah ini bertujuan untuk menstabilkan harga bahan bakar di dalam negeri menjelang musim tanam.

“Pasokan minyak mentah dan bensin yang lebih ketat dari Rusia membuat harga minyak mentah Timur Tengah meningkat dalam perdagangan awal hari ini,” ungkap seorang analis senior perdagangan energi.

Selain itu, tekanan sanksi AS terhadap sektor energi Iran juga turut memperketat pasokan minyak global. Washington baru-baru ini menjatuhkan sanksi baru terhadap individu dan kapal tanker yang terlibat dalam pengiriman minyak mentah Iran ke China.

Analis menilai bahwa kombinasi dari sanksi terhadap Iran dan Rusia telah memperburuk kondisi pasokan, mendorong harga minyak ke level yang lebih tinggi.

Dengan berbagai faktor yang berperan dalam pergerakan harga minyak global, investor terus mencermati perkembangan kebijakan tarif AS, respons pasar China, serta dinamika geopolitik yang berdampak pada pasokan minyak. Kenaikan harga minyak hampir 2% ini mencerminkan sentimen pasar yang bergejolak akibat ketidakpastian global, sementara prospek harga dalam beberapa pekan mendatang masih bergantung pada kebijakan ekonomi yang diambil oleh negara-negara utama di dunia.

Ikuti media sosial kami untuk update terbaru

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Tinggalkan Balasan