JAKARTA, BursaNusantara.com – Harga minyak dunia mengalami kenaikan pada Rabu (19/3/2025) setelah laporan pemerintah AS menunjukkan penurunan stok bahan bakar yang signifikan. Namun, keputusan Federal Reserve (The Fed) untuk mempertahankan suku bunga pada level 4,5% membatasi lonjakan harga minyak.
Harga Minyak Naik Usai Penurunan Stok Bahan Bakar AS
Menurut laporan Reuters, harga minyak Brent naik sebesar 22 sen atau 0,31% menjadi US$ 70,78 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 26 sen atau 0,39% menjadi US$ 67,16 per barel.
Berdasarkan data Administrasi Informasi Energi (EIA) AS, stok minyak mentah meningkat 1,7 juta barel menjadi 437 juta barel dalam sepekan terakhir. Angka ini jauh di atas ekspektasi analis yang memperkirakan kenaikan sebesar 512 ribu barel.
Namun, stok distilat, termasuk solar dan minyak pemanas, justru mengalami penurunan drastis sebesar 2,8 juta barel menjadi 114,8 juta barel, jauh lebih besar dibanding prediksi penurunan 300 ribu barel.
“Penurunan stok bahan bakar memberikan sentimen positif bagi pasar minyak, mengindikasikan permintaan masih tetap kuat,” ujar Josh Young, Chief Investment Officer di Bison Interests.
The Fed Pertahankan Suku Bunga 4,5%
Dalam pertemuan terbarunya, The Fed memutuskan untuk mempertahankan suku bunga pada kisaran 4,25%-4,50%. Keputusan ini sudah diperkirakan sebelumnya oleh pelaku pasar, mengingat inflasi AS yang mulai melambat dan pertumbuhan ekonomi yang cenderung stagnan.
Meskipun demikian, bank sentral AS masih memperkirakan kemungkinan penurunan suku bunga sebesar 0,5% pada akhir tahun 2025, seiring dengan prospek pelemahan ekonomi global dan kebijakan moneter yang lebih longgar di berbagai negara.
Kebijakan The Fed ini juga berdampak pada nilai tukar dolar AS, yang tetap kuat terhadap mata uang lainnya. Hal ini menyebabkan harga minyak dalam dolar menjadi lebih mahal bagi pembeli internasional, sehingga membatasi potensi kenaikan harga minyak lebih lanjut.
Ketegangan Timur Tengah Memanas, Risiko Geopolitik Meningkat
Di luar faktor ekonomi, pasar minyak juga tengah dihadapkan pada eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Militer Israel melanjutkan operasi darat di Jalur Gaza bagian tengah dan selatan, sehari setelah serangan udara yang menewaskan lebih dari 400 warga Palestina.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa negaranya akan terus menyerang kelompok Houthi di Yaman. Ia juga memperingatkan Iran untuk bertanggung jawab atas serangan yang dilakukan oleh kelompok tersebut terhadap jalur pelayaran di Laut Merah.
“Pedagang minyak kembali fokus pada risiko geopolitik Timur Tengah seiring dengan meningkatnya aksi militer dari Israel dan AS di Gaza serta Yaman,” kata peneliti senior di Center for Strategic and International Studies, Clay Seigle.
Dampak ke Pasar dan Prospek Harga Minyak
Investor saat ini juga mencermati negosiasi gencatan senjata antara Rusia dan Ukraina. Rusia telah menyetujui proposal Trump untuk menghentikan sementara serangan terhadap infrastruktur energi Ukraina. Langkah ini dipandang sebagai sinyal positif menuju perdamaian dan berpotensi membuka kembali pasokan minyak Rusia ke pasar global.
Namun, perundingan ini masih belum menunjukkan hasil yang pasti. Rusia dan Ukraina saling menuduh melanggar perjanjian hanya beberapa jam setelah kesepakatan dicapai antara Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin.
“Jika kesepakatan ini berhasil, dampaknya terhadap pasar minyak akan lebih terasa dalam jangka menengah hingga panjang, terutama terkait perubahan aliran perdagangan global,” ujar analis Panmure Liberum, Ashley Kelty.
Sebagai salah satu pemasok minyak terbesar dunia, produksi minyak Rusia masih menghadapi kendala akibat sanksi ekonomi yang dijatuhkan oleh negara-negara Barat. Jika pasokan minyak Rusia kembali meningkat, harga minyak berpotensi mengalami koreksi di masa mendatang.
Dengan kombinasi faktor ekonomi, kebijakan moneter, dan risiko geopolitik yang beragam, pergerakan harga minyak ke depan masih akan sangat dinamis. Pelaku pasar diharapkan tetap waspada terhadap perubahan fundamental dan sentimen global dalam mengambil keputusan investasi.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.











