Nikel dan Aluminium Menggila! Operasional Vale Terhenti, Harga Logam Dasar Kompak Meroket
SHANGHAI – Pasar komoditas logam dasar mengawali tahun 2026 dengan lonjakan yang mengejutkan. Harga nikel meroket ke level tertinggi dalam 14 bulan terakhir, sementara aluminium mencatatkan sejarah baru dengan melampaui level psikologis US$ 3.000 per ton.
Sentimen ini dipicu oleh gangguan pasokan dari Indonesia serta penutupan pabrik peleburan global yang memaksa para pengelola dana (funds) melakukan aksi tutup posisi jual secara masif.
INCO Lumpuh Sementara: Masalah RKAB Picu Reli Nikel
Katalis utama lonjakan nikel datang dari raksasa tambang PT Vale Indonesia Tbk (INCO). Dalam keterbukaan informasi resminya, INCO mengonfirmasi penghentian sementara kegiatan penambangan karena belum terbitnya persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) tahun 2026 dari pemerintah.
- Harga LME: Nikel naik 1,6% ke US$ 16.910 per metrik ton, sempat menyentuh puncak US$ 16.950.
- Sentimen Pemerintah: Kenaikan ini juga didukung pernyataan Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, yang berencana memangkas kuota produksi nasional hingga sepertiga untuk mendongkrak harga di sepanjang tahun ini.
Aluminium Tembus US$ 3.000, Tembaga & Timah Ikut Panas
Tidak hanya nikel, pasar aluminium juga terbakar. Untuk pertama kalinya sejak 2022, harga aluminium melesat melampaui US$ 3.000 per ton. Penutupan pabrik Mozal di Mozambik dan penerapan pajak karbon Eropa (CBAM) menjadi motor penggerak utama.
Beberapa logam dasar lainnya juga mencatatkan kinerja impresif:
- Tembaga: Naik ke US$ 12.510, melanjutkan tren sebagai logam dengan performa terbaik di 2025.
- Timah: Melonjak tajam 3,4% ke level US$ 41.950.
Analisis: Dominasi Pasar dan Proyeksi 2026
Data bursa menunjukkan adanya penguasaan pasar yang signifikan oleh entitas tertentu yang memegang hingga 40% waran nikel LME. Dengan posisi beli (long position) yang kuat pada kontrak Januari, volatilitas diperkirakan akan tetap tinggi dalam beberapa pekan ke depan.
Meski manajemen INCO optimis persetujuan RKAB akan segera keluar, ketidakpastian ini memberikan “bahan bakar” bagi harga nikel untuk tetap bertahan di level atas. Bagi investor pasar modal, pergerakan ini menjadi sinyal penting untuk mencermati saham-saham emiten nikel dan aluminium sebagai aset pelindung inflasi di awal tahun.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.






