Ketergantungan Impor Picu Kerentanan Sektor Transportasi Udara
JAKARTA, BursaNusantara.com – Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi memproyeksikan konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran berpotensi mendorong kenaikan harga tiket pesawat.
Lonjakan ini dipicu oleh tingginya ketergantungan industri penerbangan terhadap bahan bakar avtur yang sangat sensitif terhadap gejolak keamanan internasional.
Dudy menjelaskan bahwa sektor transportasi udara nasional sangat rentan terhadap dinamika geopolitik akibat posisi Indonesia sebagai importir energi.
Porsi Avtur Capai 27,6 Persen dari Biaya Operasional
Komponen biaya bahan bakar pesawat memegang porsi yang sangat dominan dalam struktur biaya operasional maskapai saat ini.
Berdasarkan paparan Menteri Perhubungan, kontribusi avtur mencapai sekitar 27,6 persen dari total biaya penerbangan.
Sifat bahan bakar ini dinilai sangat volatil dan sangat terpengaruh oleh kondisi yang terjadi di pasar energi global.
Krisis di kawasan Timur Tengah disebut akan memberikan dampak yang langsung terasa pada harga bahan bakar penerbangan domestik.
Situasi tersebut menurut Dudy menjadi pengingat penting bagi Indonesia untuk segera memperkuat ketahanan energi nasional secara mandiri.
Pemerintah bersama Dewan Energi Nasional terus membahas langkah strategis guna mengurangi ketergantungan terhadap pasokan luar negeri.
Lonjakan Harga Minyak Dunia dan Stok Angkutan Lebaran
Harga minyak mentah dilaporkan menyentuh level USD 92 per barel pada perdagangan Sabtu (7/3/2026) di tengah eskalasi konflik.
Merujuk pada data pasar, harga minyak mentah berjangka Brent melonjak 8,52 persen ke level USD 92,69 per barel.
Sementara itu, harga minyak mentah berjangka WTI Amerika Serikat juga mencatat kenaikan signifikan sebesar 12,2 persen ke posisi USD 90,9 per barel.
Meskipun terdapat tekanan harga global, pemerintah memastikan bahwa kondisi pasokan bahan bakar penerbangan masih relatif terkendali.
Cadangan avtur dipastikan mencukupi untuk melayani periode angkutan Lebaran tahun ini bagi seluruh maskapai nasional.
Dudy menekankan bahwa fokus utama ke depan bukan sekadar mencari tiket murah, melainkan menyediakan kebutuhan energi secara mandiri.
Penguatan pada sektor strategis seperti energi dan pangan menjadi pelajaran berharga yang dipetik dari konflik internasional saat ini.
Lihat berita terbaru lainnya di Google Berita | Bursa Nusantara
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.












