JAKARTA, BursaNusantara.com – Pasar saham Indonesia sejak 2020 disebut sebagai “hujan emas” oleh pendiri Hungrystock, Lukas Setia Atmaja. Menurutnya, momen koreksi saat ini justru memberikan peluang besar bagi investor ritel untuk mengoptimalkan strategi cuan.
Berbicara dalam acara ulang tahun ke-6 Hungrystock di Jakarta, Lukas menyebut situasi saat ini layaknya musim “super diskon” karena banyak saham yang diperdagangkan di bawah nilai wajarnya.
Momentum ini dianggap ideal untuk memantau aksi korporasi emiten, yang kerap menjadi pemicu pergerakan harga signifikan.
Aksi Korporasi Jadi Sinyal Strategis
Lukas menekankan pentingnya memahami berbagai bentuk aksi korporasi seperti IPO, backdoor listing, merger dan akuisisi, share buyback, spin-off, hingga stock split.
Menurutnya, informasi terkait aksi semacam ini bisa menjadi sinyal penting dalam membuat keputusan investasi yang lebih strategis.
“Siapa yang bisa membaca arah aksi korporasi, dia punya peluang besar untuk mendapatkan hasil optimal,” ujarnya di hadapan para peserta gathering.
Sektor Mineral Masih Punya Daya Tarik
Head of Research Hungrystock, Nicholas, juga turut memberikan pandangan. Ia menilai sektor mineral tetap prospektif, terutama karena tren transisi energi global mendorong permintaan terhadap komoditas tambang.
Nicholas menyarankan agar investor tidak hanya mengejar momentum, tetapi juga menganalisis laporan cadangan dan sumber daya mineral yang mengikuti standar JORC. Transparansi dan kredibilitas data menjadi indikator utama dalam menentukan kelayakan sebuah emiten di sektor ini.
Perbankan Dinilai Stabil, Tapi Tetap Butuh Seleksi Ketat
Sementara itu, Head of Research Panin Sekuritas, Nico Laurens, menggarisbawahi daya tahan sektor perbankan. Namun ia mengingatkan agar investor tetap disiplin dalam mengevaluasi fundamental emiten.
Nico menyarankan untuk mencermati alokasi capex, rasio yield antar bank, serta posisi bunga bersih atau net interest income. Menurutnya, kombinasi faktor-faktor ini akan memberikan gambaran yang lebih akurat tentang kinerja dan potensi pertumbuhan sebuah bank.
Dengan berbagai perspektif ini, investor ritel diharapkan bisa lebih jeli membaca peluang dari balik koreksi pasar, dan memaksimalkan momentum yang ada lewat strategi berbasis data dan aksi korporasi yang cermat.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.












