JAKARTA, BursaNusantara.com – PT MNC Energy Investments Tbk (IATA), emiten energi dan tambang milik Hary Tanoesoedibjo, baru saja mendapatkan pernyataan efektif dari OJK untuk melaksanakan Penawaran Umum Terbatas (PUT) III.
IATA berencana melakukan rights issue melalui skema Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) dengan menerbitkan maksimal sekitar 20,19 miliar saham seri B, setara dengan 44,44% dari modal disetor setelah PUT III dengan rasio pembagian 5:4. Artinya, setiap pemegang lima saham lama IATA akan memperoleh empat HMETD.
Harga eksekusi ditetapkan sebesar Rp63 per saham, sehingga target penghimpunan dana segar mencapai Rp1,27 triliun.
Skema Rights Issue dan Harga Eksekusi
Pernyataan efektif OJK ini merupakan langkah strategis IATA untuk menambah modal kerja, yang akan digunakan terutama untuk trading batubara dan peningkatan produksi.
Andi Tenri Dala Fajar, Sekretaris Perusahaan MNC Energy Investments, menjelaskan bahwa seluruh dana yang terkumpul setelah dikurangi biaya emisi akan dialokasikan untuk mendukung operasional dan pengembangan bisnis batubara.
Skema rights issue ini memberi kesempatan kepada pemegang saham lama untuk ikut ambil bagian dalam pertumbuhan perusahaan dengan harga yang lebih kompetitif.
Rights issue ini diharapkan dapat memperkuat struktur modal IATA dan memberikan suntikan dana segar untuk memaksimalkan produksi di wilayah penambangan.
Strategi ini sangat penting mengingat prospek usaha batubara yang optimis pada tahun 2025, didorong oleh permintaan pasar yang stabil dan strategi operasional yang efisien.
Optimalisasi Produksi dan Cadangan Batubara
IATA mengelola enam IUP Operasi Produksi di Musi Banyuasin, Sumatra Selatan, dan secara aktif meningkatkan produksinya untuk memenuhi permintaan batubara yang terus meningkat.
Pada tahun 2025, perusahaan berencana memaksimalkan produksi di IUP milik PT Putra Muba Coal, PT Indonesia Batu Prima Energi, dan PT Arthaco Prima Energy (APE).
Upaya peningkatan produksi ini merupakan bagian dari strategi untuk mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya dan menambah nilai dalam rantai pasokan batubara.
Menurut laporan Komite Cadangan Mineral Indonesia, IATA memiliki cadangan batubara sebesar 294,2 juta MT, yang diperoleh dari hanya sekitar 15% luas area penambangan sebesar 51.982 Ha.
Manajemen IATA meyakini bahwa cadangan batubara akan terus bertambah seiring proses eksplorasi yang menunjukkan tambahan cadangan terbukti, dengan potensi mencapai setidaknya 600 juta MT untuk seluruh IUP.
Proyeksi ini menunjukkan bahwa IATA berada dalam posisi strategis untuk mengatasi fluktuasi pasar dan menambah kapasitas produksi secara berkelanjutan.
Dinamika Pasar Modal dan Tantangan Operasional
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.







