JAKARTA, BursaNusantara.com – Pasar saham Indonesia mengalami tekanan hebat! Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terperosok ke level 6.300, mencatatkan titik terendah pasca pandemi Covid-19 berakhir.
Hingga akhir perdagangan sesi pertama Jumat (28/2), IHSG anjlok 2,86%, dengan nilai transaksi mencapai Rp 7,42 triliun dan kapitalisasi pasar sebesar Rp 10.991,93 triliun.
Tekanan jual besar-besaran terjadi terutama pada saham sektor perbankan, yang membuat indeks semakin sulit untuk bangkit. Apakah IHSG masih bisa bertahan, atau ini awal dari kejatuhan yang lebih dalam?
IHSG Mencetak New Low, Tekanan Jual Masih Kuat
Menurut Tim Riset Phintraco Sekuritas, IHSG saat ini membentuk new low di tahun 2025, dengan tren pelemahan masih berlanjut. Secara teknikal, masih terlihat pelebaran negative slope pada indikator MACD, yang mengindikasikan potensi koreksi lebih lanjut di sesi kedua.
“IHSG masih rawan melanjutkan pelemahan di sesi kedua perdagangan hari ini,” tulis Phintraco Sekuritas dalam risetnya.
Analis memprediksi bahwa jika tekanan jual berlanjut, IHSG berpotensi turun ke zona support 6.250, sebelum mencoba rebound.
Penyebab Anjloknya IHSG: Sentimen Global & Domestik
Pelemahan IHSG kali ini tidak lepas dari kombinasi berbagai faktor eksternal dan internal yang membuat investor semakin berhati-hati.
1. Dampak Kebijakan Trump: Perang Dagang Kembali Memanas
Salah satu pemicu utama kejatuhan pasar adalah kebijakan tarif baru yang diumumkan Presiden AS, Donald Trump. Trump menegaskan bahwa:
- Tarif 25% tetap diberlakukan untuk Meksiko & Kanada per 4 Maret.
- China dikenakan tambahan tarif 10%, di luar tarif yang sudah ada sebelumnya.
Dampaknya? Pasar global langsung tertekan, dengan kekhawatiran bahwa perang dagang akan kembali memicu perlambatan ekonomi dunia.
“Peningkatan tarif terhadap China berdampak besar pada ekonominya yang sangat bergantung pada ekspor dan perdagangan bebas,” ujar Maximilianus Nico Demus, Associate Director Research & Investment Pilarmas Investindo Sekuritas.
Ketidakpastian ini membuat investor lebih memilih menarik dana dari pasar saham dan mencari aset safe haven, seperti emas dan obligasi AS.
2. Ketidakpastian Ekonomi Domestik: Investor Tunggu Implementasi PBI Danantara
Di dalam negeri, pasar juga masih menunggu arah kebijakan ekonomi setelah diresmikannya PBI Danantara oleh pemerintah.
Menurut Nico, investor berharap lembaga ini bisa benar-benar menerapkan prinsip Good Corporate Governance (GCG), terutama setelah beberapa kasus korupsi mencoreng kepercayaan pasar terhadap ekonomi Indonesia.
Jika PBI Danantara gagal menunjukkan kebijakan yang kuat dan kredibel, pasar bisa semakin kehilangan kepercayaan terhadap stabilitas ekonomi domestik.
Bagaimana Prospek IHSG di Sesi Kedua?
Analis masih melihat potensi tekanan lanjutan di sesi kedua. Namun, ada beberapa saham yang direkomendasikan untuk dicermati:
- PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK)
- Support: Rp 510
- Resistance: Rp 575
- Potensi rebound jika tekanan jual mereda.
Investor disarankan untuk tetap berhati-hati dan menunggu konfirmasi arah IHSG sebelum mengambil keputusan besar.
Pasar Masih Bergejolak, Waspadai Risiko Lanjutan
IHSG jatuh ke level 6.300 akibat kombinasi sentimen global dan domestik yang memicu kepanikan di pasar. Kebijakan tarif Trump, ketidakpastian ekonomi dalam negeri, serta tekanan jual di saham perbankan menjadi faktor utama pelemahan ini.
Apakah IHSG akan rebound atau terus tertekan? Semua akan bergantung pada bagaimana investor merespons sentimen di sesi perdagangan berikutnya.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.












