Pergerakan IHSG: Tekanan Sentimen Global Masih Kuat
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi bergerak sideways dengan kecenderungan melemah pada perdagangan Kamis (6/2/2025). Tekanan sentimen global masih menjadi faktor utama yang menghambat penguatan pasar.
Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Aziz, menilai bahwa IHSG masih menghadapi tekanan akibat kombinasi faktor global dan domestik yang belum mendukung pergerakan signifikan ke atas.
“IHSG masih akan menguji area support di 6.998-7.018 dan resistance di kisaran 7.080-7.125. Pergerakan cenderung sideways dengan potensi melemah karena sentimen global yang kurang kondusif,” ujarnya dalam program IDTV Market Closing, Rabu (5/2/2025).
Strategi Investasi: Akumulasi Saham Big Caps dan Second Liner
Untuk strategi investasi, Abdul Aziz merekomendasikan akumulasi bertahap pada saham-saham big caps dengan valuasi menarik alias murah, serta memanfaatkan momentum saham second liner untuk perdagangan jangka pendek.
“Posisi saat ini cukup menarik untuk akumulasi, khususnya menjelang musim pembagian dividen di Maret,” tambahnya.
Adapun saham empat bank besar mengalami pelemahan kemarin:
Selain itu, saham TLKM turun 0,76% dan saham ASII melemah 1,25%.
Pelaku Pasar Cenderung Wait and See
Pada perdagangan Rabu (5/2/2025), IHSG ditutup melemah 0,70% ke level 7.024,23 di bawah ekspektasi meskipun sempat mencatatkan penguatan. Volume transaksi tercatat sebesar Rp 10,1 triliun, lebih rendah dari rata-rata harian Rp 12,8 triliun, yang menunjukkan sikap wait and see dari investor.
Sentimen negatif datang dari ketegangan perang dagang antara Amerika Serikat dan China yang berdampak pada aliran modal asing.
“Asing masih mencatatkan net sell, terutama pada saham-saham big banks seperti BBCA dan BMRI,” ujar Aziz.
Dari sisi domestik, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2024 yang tercatat sebesar 5,02% masih menjadi tantangan tersendiri. Pemerintah menargetkan pertumbuhan hingga 8%, namun masih jauh dari capaian tersebut.
“Penurunan daya beli dan deflasi beruntun turut menekan prospek ekonomi, meski ada potensi Bank Indonesia untuk melakukan pemangkasan suku bunga acuan,” tambahnya.
Saham Emas Menguat di Tengah Ketidakpastian Global
Di tengah ketidakpastian global, saham-saham berbasis emas mencatatkan penguatan. Investor mencari aset safe haven untuk menghindari risiko pasar yang lebih besar.
Kenaikan ini seiring dengan peningkatan harga emas global yang didorong oleh ketidakpastian pasar dan potensi pelemahan ekonomi global. Investor masih menanti kebijakan ekonomi lebih lanjut untuk menentukan arah investasi ke depan.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.






