IHSG "Balik Kanan" dari Rekor 9.134: Rp268 Triliun Menguap, Asing Malah Agresif!
JAKARTA – Pasar modal Indonesia sedang berada dalam fase krusial. Setelah sempat merayakan level tertinggi sepanjang masa (All-Time High) di 9.134,7 pada 20 Januari lalu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpaksa “balik kanan”. Pada pekan yang berakhir 25 Januari 2026, indeks tergelincir 1,37% ke posisi 8.951 poin.
Koreksi ini memicu hilangnya kapitalisasi pasar bursa sebesar Rp268 triliun dalam sepekan. Namun, di balik penurunan harga tersebut, data perdagangan justru menyimpan kejutan yang optimis bagi para bulls.
Anomali Pasar: Volume Transaksi Justru Meledak
Sekretaris Perusahaan BEI, Kautsar Primadi Nurahmad, mengungkapkan bahwa meski kapitalisasi pasar menyusut menjadi Rp16.244 triliun, aktivitas perdagangan justru semakin bergairah.
Terjadi lonjakan signifikan pada rata-rata volume transaksi harian yang naik 9,32% menjadi 65,73 miliar lembar saham. Tak hanya itu, rata-rata nilai transaksi harian juga terkerek naik 3,59% menjadi Rp33,85 triliun. Penurunan indeks yang dibarengi dengan kenaikan volume ini sering kali diartikan sebagai fase akumulasi atau perpindahan barang yang masif.
Asing “Haus” Saham Blue Chip Indonesia
Di saat investor domestik mungkin sedang melakukan aksi ambil untung (profit taking), investor mancanegara justru menunjukkan sikap sebaliknya. Pada perdagangan Jumat (23/1), asing mencatatkan beli bersih (net buy) sebesar Rp759 miliar.
Secara akumulatif di awal tahun 2026, total dana asing yang masuk ke bursa domestik telah mencapai Rp4,05 triliun. Ini menjadi sinyal kuat bahwa kepercayaan pemodal global terhadap fundamental ekonomi Indonesia tetap solid meski indeks mengalami volatilitas jangka pendek.
Strategi Menghadapi 26 Januari 2026
Koreksi IHSG saat ini dipandang sebagai hal yang wajar setelah reli panjang. Beberapa saham bahkan tetap mampu mencetak cuan fantastis hingga 133% di tengah lesunya indeks. Untuk perdagangan Senin besok, para analis memprediksi IHSG akan menguji level support psikologis di 8.900 sebelum mencoba kembali melakukan rebound.
Sentimen dari luar pasar modal, seperti pameran makanan internasional di PIK 2 hingga kebijakan diskon internet untuk daerah bencana di Sumatera, turut memberikan bumbu pada persepsi daya beli masyarakat yang tetap terjaga.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.










