IHSG Jatuh 2,27% pada Sesi I, Sektor Properti Paling Terdampak
JAKARTA, BursaNusantara.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi tajam pada penutupan sesi I perdagangan Senin (3/2/2025). IHSG terjun 161,42 poin atau 2,27% ke level 6.974,7, setelah sempat bergerak dalam rentang 6.933 hingga 7.111.
Selama sesi pertama, aktivitas perdagangan cukup tinggi dengan total transaksi mencapai 9,22 miliar saham senilai Rp6,51 triliun. Frekuensi perdagangan tercatat sebanyak 803.823 kali. Dari seluruh saham yang diperdagangkan, 131 saham berhasil menguat, 494 saham merosot, dan 168 saham stagnan.
Saham Blue Chip Juga Tertekan
IHSG yang melemah turut menyeret saham-saham unggulan. Indeks LQ45 yang berisi 45 saham dengan kapitalisasi terbesar anjlok 2,6%, sementara Investor33 turun 2,4%, dan Jakarta Islamic Index (JII) terperosok 2,9%.
Sentimen negatif dari pasar global dan aksi jual investor turut berkontribusi terhadap kejatuhan saham-saham big cap. Beberapa saham perbankan dan emiten properti mengalami tekanan jual yang signifikan.
Sektor Properti Pimpin Pelemahan
Seluruh sektor saham mengalami pelemahan pada sesi I. Sektor properti menjadi yang paling terdampak dengan koreksi sebesar 3,3%. Pelemahan ini didorong oleh berbagai faktor, termasuk tekanan global dan kekhawatiran terhadap suku bunga yang masih tinggi.
Selain sektor properti, sektor bahan baku juga mengalami penurunan sebesar 3%, disusul oleh sektor kesehatan yang turun 2,5%. Sektor barang konsumsi primer dan infrastruktur masing-masing turun 1,9% dan 1,8%.
Bursa Saham Asia Juga Memerah
Tekanan tidak hanya terjadi di Bursa Efek Indonesia (BEI), tetapi juga di pasar saham regional. Beberapa indeks utama Asia turut mengalami koreksi:
- Nikkei (Jepang) jatuh 2,8%
- Straits Times (Singapura) melemah 0,6%
- Hang Seng (Hong Kong) turun 1%
- Shanghai Composite libur dalam rangka perayaan Tahun Baru Imlek
Prospek IHSG dalam Waktu Dekat
Investor akan mencermati berbagai faktor eksternal yang dapat mempengaruhi pergerakan IHSG dalam beberapa waktu ke depan. Di antaranya, kebijakan suku bunga global, pergerakan nilai tukar rupiah, serta perkembangan ekonomi domestik.
Analis pasar modal menyarankan investor untuk tetap berhati-hati dan selektif dalam memilih saham, mengingat volatilitas pasar masih tinggi. “Saat ini, investor sebaiknya fokus pada saham-saham defensif dan emiten yang memiliki fundamental kuat,” ujar seorang analis senior dari sekuritas ternama di Jakarta.
IHSG berpeluang mengalami rebound jika sentimen global membaik dan ada katalis positif dari dalam negeri. Namun, jika tekanan berlanjut, bukan tidak mungkin IHSG akan menguji level support yang lebih rendah.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.





