HeadlinePasarSaham

IHSG Melejit 0,68%! Data PDB & The Fed Jadi Bahan Bakar

172
IHSG Melejit 0,68%! Data PDB & The Fed Jadi Bahan Bakar
IHSG naik 0,68% ke level 7.515 didorong data PDB RI dan ekspektasi The Fed. Analis prediksi penguatan lanjutan dengan rekomendasi saham unggulan.

IHSG Tembus 7.515, Didorong Harapan Ekonomi dan Sinyal Suku Bunga Global

JAKARTA, BursaNusantara.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil ditutup menguat 0,68% atau 50,54 poin ke level 7.515 pada perdagangan Selasa, 5 Agustus 2025.

Penguatan indeks utama ini tak lepas dari kombinasi katalis makro domestik dan eksternal yang dinilai strategis, termasuk ekspektasi pelonggaran moneter The Fed dan rilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia semester I 2025 yang melebihi estimasi pasar.

Tren Positif di Bursa Asia Jadi Pemantik Awal

Kenaikan IHSG hari ini berjalan seiring arah pasar saham Asia yang serempak menghijau.

Menurut Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang, IHSG menanggapi dengan positif sentimen dari regional yang menunjukkan optimisme terhadap kinerja ekonomi global dan potensi easing suku bunga oleh Federal Reserve.

Kendati tidak ada lonjakan tajam dalam transaksi investor asing, sentimen kolektif dari bursa Asia cukup ampuh menarik likuiditas ke saham-saham bluechip di Tanah Air.

Selain itu, rebound mata uang rupiah juga turut mengonfirmasi kepercayaan pelaku pasar terhadap arah kebijakan fiskal dan moneter pemerintah saat ini.

PDB Kuartalan RI Tertinggi Sejak 2020, Daya Dorong Baru IHSG

IHSG mendapatkan amunisi tambahan dari data pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia yang dirilis pada hari yang sama.

Menurut Alrich, ekonomi Indonesia tumbuh 3,7% secara kuartalan (QoQ) pada kuartal II 2025, pulih signifikan dari kontraksi 0,98% pada kuartal sebelumnya dan melampaui konsensus analis sebesar 3,4%.

Secara tahunan (YoY), ekonomi nasional tumbuh 5,12% atau lebih tinggi dibanding proyeksi pasar sebesar 4,87%.

Katalis ini dinilai krusial karena menjadi sinyal kuat pemulihan ekonomi yang berkelanjutan, terutama setelah periode tekanan pada kuartal pertama.

Alrich menjelaskan bahwa lonjakan pertumbuhan ini ditopang oleh peningkatan konsumsi masyarakat, aktivitas libur keagamaan, serta stimulus fiskal sekitar Rp 24 triliun yang digelontorkan pemerintah.

Peningkatan konsumsi domestik yang mencapai 3,14% QoQ juga memberikan gambaran bahwa daya beli masyarakat mulai pulih secara luas.

Arah Teknikal Masih Konsolidatif, Tapi Optimisme Terjaga

Secara teknikal, sinyal pasar mulai menunjukkan nuansa campuran.

Alrich menyebut indikator stochastic RSI sudah mulai mendekati wilayah oversold yang membuka peluang technical rebound.

Namun, sinyal dari indikator MACD masih belum solid, bahkan menunjukkan potensi death cross yang dapat memicu koreksi teknikal.

Dalam jangka pendek, ia memperkirakan IHSG akan bergerak dalam rentang konsolidasi dengan support di 7.440 dan resistance di 7.580.

Menurutnya, penguatan indeks hari ini belum sepenuhnya mengindikasikan breakout dari tren jangka pendek.

Rebalancing MSCI dan Rupiah Perkuat Prediksi Penguatan Lanjutan

Dari sudut pandang berbeda, Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menilai bahwa penguatan IHSG kali ini juga turut didorong oleh apresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Ia menambahkan bahwa dinamika pasar saat ini juga sedang mengantisipasi rebalancing indeks MSCI yang kerap memicu arus masuk dana asing menjelang deadline penyesuaian portofolio global.

“Sentimen hari ini cukup lengkap, dari domestik kuat, eksternal mendukung, rupiah menguat, dan ada faktor rebalancing,” terang Herditya.

Dengan kondisi tersebut, Herditya memproyeksikan IHSG berpotensi menguat pada perdagangan berikutnya, dengan rentang teknikal antara support 7.457 dan resistance 7.571.

Rekomendasi Saham: Perbankan dan Konsumsi Masih Jadi Favorit

Merespons sentimen pasar yang semakin solid, para analis memberikan beberapa saham unggulan yang diperkirakan akan outperform dalam waktu dekat.

Alrich menyarankan untuk mencermati saham-saham sektor keuangan dan konsumsi, yang dinilai akan langsung mendapatkan dampak positif dari pertumbuhan ekonomi.

Beberapa saham yang direkomendasikan Alrich antara lain:

  • PT Bank Mandiri Tbk (BMRI)
  • PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS)
  • PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN)
  • PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA)
  • PT Sariguna Primatirta Tbk (CLEO)

Menurutnya, saham-saham tersebut memiliki fundamental kuat dan potensi akselerasi pertumbuhan kinerja di semester II 2025.

Proyeksi Level Saham: Area Kritis yang Perlu Diwaspadai

Sementara itu, Herditya menggarisbawahi pentingnya memantau level-level kritis dari saham yang direkomendasikannya.

Ia menekankan bahwa meski peluang penguatan terbuka, investor tetap perlu disiplin terhadap level support-resistance untuk mengelola risiko.

Berikut saham dan level teknikal dari analis MNC Sekuritas:

  • BRIS: Support Rp 2.830, Resistance Rp 2.900
  • CTRA (PT Ciputra Development Tbk): Support Rp 945, Resistance Rp 1.005
  • AUTO (PT Astra Otoparts Tbk): Support Rp 2.210, Resistance Rp 2.240

Ia juga menyarankan agar investor mulai mempertimbangkan saham-saham properti dan otomotif yang cenderung menguat saat suku bunga rendah dan rupiah stabil.

Optimisme 2025: Momentum Ekonomi Bisa Lebih Cepat dari Ekspektasi

Pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dari perkiraan pada semester pertama tahun ini memberikan ruang bagi pemerintah dan pelaku pasar untuk lebih agresif dalam mendorong pemulihan menyeluruh.

Alrich menyebut bahwa ini menjadi titik balik penting setelah dua kuartal sebelumnya menunjukkan volatilitas tinggi.

Dengan ekspektasi suku bunga The Fed yang melandai serta pertumbuhan konsumsi domestik yang meningkat, pasar saham Indonesia berpeluang menjadi primadona di kawasan Asia Tenggara pada paruh kedua tahun ini.

Investor dinilai perlu mulai membangun kembali eksposur ke sektor-sektor yang sensitif terhadap pertumbuhan ekonomi dan inflasi rendah, terutama perbankan, konsumer, properti, dan infrastruktur.

Langkah strategis akan sangat diperlukan dalam menavigasi pasar, dengan tetap memperhatikan dinamika global, seperti tensi geopolitik, harga komoditas, dan arah dolar AS.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

×

Selamat Datang

Masuk untuk komentar & diskusi.

Lupa Password?

Password dikirim ke email.

Exit mobile version