Geser Kebawah
HeadlinePasarSaham

IHSG Menguat ke 7.515, Sektor Konsumen Siklikal Jadi Bintang

176
×

IHSG Menguat ke 7.515, Sektor Konsumen Siklikal Jadi Bintang

Sebarkan artikel ini
IHSG Menguat ke 7.515, Sektor Konsumen Siklikal Jadi Bintang
IHSG ditutup menguat 0,68% ke level 7.515,18 pada Selasa (5/8/2025), dipimpin lonjakan sektor konsumen siklikal. Saham AMRT, SCMA, dan BBNI jadi top gainers.

Sektor Konsumen Siklikal Jadi Lokomotif Kenaikan IHSG

JAKARTA, BursaNusantara.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mencetak penguatan signifikan di tengah tekanan saham global, menutup perdagangan Selasa (5/8/2025) dengan lonjakan 50,54 poin atau setara 0,68% ke level 7.515,18.

Kenaikan IHSG hari ini bukan sekadar rebound teknikal, melainkan didorong rotasi sektor yang jelas terlihat, terutama pada sektor barang konsumen siklikal yang mencatat lonjakan tertinggi di antara semua sektor.

Sponsor
Iklan

Sebanyak 274 saham tercatat menguat, berbanding 330 saham yang melemah dan 200 lainnya stagnan, menunjukkan reli indeks tidak merata dan selektif terhadap sektor dan emiten tertentu.

Investor mulai menunjukkan minat baru terhadap sektor-sektor yang sensitif terhadap siklus ekonomi, seiring meningkatnya sentimen konsumsi domestik dan penguatan daya beli masyarakat menjelang kuartal akhir.

Sementara itu, sektor yang sebelumnya defensif kini mulai mengalami aksi ambil untung, memberi ruang lebih besar bagi saham-saham siklikal untuk memimpin pergerakan pasar.

Saham Konsumen, Finansial, dan Properti Bawa IHSG ke Zona Hijau

Sektor barang konsumen siklikal mencatat kenaikan tertinggi, melesat hingga 3,72% berkat lonjakan saham-saham ritel dan media.

Saham PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT), pengelola jaringan minimarket Alfamart, menjadi top gainer LQ45 dengan kenaikan 5,68%, didorong optimisme pertumbuhan penjualan menjelang musim belanja akhir tahun.

PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) juga menyumbang penguatan signifikan bagi sektor ini, naik 5,36% berkat prospek belanja iklan yang membaik seiring meningkatnya konsumsi masyarakat.

Di sektor keuangan, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) naik 5,24% dan menjadi motor utama penguatan sektor keuangan yang tumbuh 1,32%, mencerminkan kepercayaan investor terhadap kinerja bank-bank besar dalam menjaga profitabilitas.

Sektor properti menyusul dengan penguatan 1,11%, mencerminkan mulai meningkatnya ekspektasi atas sektor real estate, baik dari sisi penjualan hunian maupun proyek komersial, yang biasanya mengikuti tren naik konsumsi rumah tangga.

Tekanan Berpindah ke Sektor Baku, Industri, dan Infrastruktur

Meski IHSG menguat, pasar tetap dibayangi aksi ambil untung selektif yang menekan tiga sektor utama, yakni barang baku, perindustrian, dan infrastruktur.

Sektor barang baku mencatat penurunan terdalam sebesar 1,11%, dipimpin pelemahan saham PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) yang turun 4,22%, tertekan oleh prospek harga pulp global yang melemah akibat melambatnya permintaan dari China.

Sektor perindustrian juga melemah 0,25%, sebagian karena tekanan terhadap saham PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) yang turun 3,30%, mencerminkan kecemasan pasar atas volatilitas harga komoditas logam baterai.

Di sisi lain, sektor infrastruktur turun tipis 0,13%, didorong pelemahan saham PT Barito Pacific Tbk (BRPT) sebesar 4,28% setelah beberapa hari mengalami reli teknikal sebelumnya.

Arah pelemahan sektor-sektor ini menjadi indikasi bahwa investor masih menempatkan risiko global, terutama dari sisi komoditas dan energi, sebagai faktor pertimbangan dalam rotasi portofolio.

Perdagangan Ramai, Tapi Market Breadth Masih Negatif

Volume perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia mencapai 26,70 miliar saham dengan nilai transaksi mencapai Rp 16,44 triliun.

Meski mencatat nilai perdagangan yang cukup besar, jumlah saham yang melemah lebih banyak daripada yang menguat, mencerminkan market breadth yang masih negatif.

Kondisi ini mengindikasikan bahwa kenaikan IHSG didorong oleh saham-saham unggulan berkapitalisasi besar, bukan reli menyeluruh di seluruh lapisan saham.

Strategi investor ritel dan institusi masih bersifat selektif, hanya masuk pada saham-saham yang dinilai memiliki fundamental kuat dan potensi kinerja yang solid di tengah ketidakpastian global.

Likuiditas juga tampak terkonsentrasi pada saham-saham LQ45 dan sektor-sektor yang punya daya tahan tinggi terhadap volatilitas ekonomi kuartal III.

Saham Unggulan Bergerak Agresif, AMRT dan BBNI Pimpin Kinerja LQ45

Daftar top gainers dalam indeks LQ45 hari ini menyoroti dominasi saham-saham konsumen dan perbankan dalam mendorong kinerja indeks utama BEI.

PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) menjadi penggerak utama dengan lonjakan 5,68%, mencerminkan optimisme terhadap prospek sektor ritel yang terus menunjukkan pemulihan kuat pasca-pandemi.

PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) naik 5,36%, ditopang sentimen positif terhadap iklan dan konten digital yang makin menarik perhatian investor institusi.

PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) naik 5,24%, menunjukkan ekspektasi kuat terhadap pertumbuhan kredit dan efisiensi biaya operasional yang makin membaik.

Di sisi sebaliknya, saham PT Barito Pacific Tbk (BRPT) melemah 4,28%, PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) turun 4,22%, dan PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) terkoreksi 3,30%.

Kondisi ini menggambarkan bahwa investor masih sangat responsif terhadap rilis fundamental dan arah kebijakan korporasi dari masing-masing emiten.

Optimisme Sektor Konsumen Bisa Jadi Tren Baru IHSG

Lonjakan sektor barang konsumen siklikal hari ini bisa menjadi sinyal awal bahwa pasar sedang melakukan revaluasi terhadap prospek emiten yang berbasis konsumsi domestik.

Kinerja saham seperti AMRT dan SCMA yang melesat dalam satu sesi perdagangan memperlihatkan bahwa ekspektasi pasar terhadap belanja rumah tangga sedang membaik secara signifikan.

Momentum ini bisa berlanjut jika didukung oleh data-data makro ekonomi seperti pertumbuhan ritel, inflasi yang terkendali, serta stimulus fiskal yang menjaga daya beli masyarakat.

Apabila ekspektasi ini bertahan, sektor konsumen bisa menjadi tema dominan yang mendorong IHSG naik lebih lanjut menuju akhir kuartal ketiga 2025.

Namun, dengan latar kondisi global yang belum sepenuhnya stabil, selektivitas tetap menjadi kunci dalam menyikapi peluang rotasi sektor ini.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.