Tekanan Global Seret IHSG, Saham Infrastruktur Paling Terpuruk
JAKARTA, BursaNusantara.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi belum akan pulih dalam waktu dekat setelah mencatat penurunan signifikan sebesar 0,87% ke level 7.484 pada Kamis (31/7/2025), terseret kombinasi sentimen teknikal dan tekanan global yang terus mendominasi arah pasar domestik.
Pelemahan ini bukan hanya sekadar aksi ambil untung jangka pendek, tapi juga menjadi cerminan dari kegelisahan investor terhadap hasil kinerja keuangan sejumlah emiten yang mengecewakan, serta tekanan lanjutan dari tren pelemahan di bursa regional dan global.
Tekanan Beruntun dari Sentimen Global & Regional
Pelemahan IHSG tampaknya senada dengan pergerakan mayoritas indeks Asia yang juga terkoreksi pada hari yang sama.
Hang Seng di Hong Kong turun 1,60%, Shanghai Composite terkoreksi 1,18%, dan Straits Times Singapura melemah 1,08%, menunjukkan tekanan pasar kawasan yang merata akibat ketidakpastian kebijakan moneter dan pelemahan indikator makro.
Penyebab utama tekanan ini adalah keputusan The Fed yang tetap mempertahankan suku bunga acuan di level 4,5% dalam rapat FOMC pada 30 Juli 2025 waktu AS, membuat pasar kehilangan arah karena ketidakjelasan sinyal pelonggaran moneter.
Dari sisi Asia Timur, Bank of Japan mempertahankan suku bunga di 0,5%, level tertinggi sejak 2008, dan menaikkan proyeksi inflasi menjadi 2,7% YoY untuk 2025, mempertegas bahwa tekanan inflasi belum benar-benar terkendali di kawasan.
Di saat yang sama, kepercayaan konsumen Jepang justru turun dari 34,5 menjadi 33,7 di bulan Juli 2025, memberi sinyal negatif terhadap proyeksi konsumsi rumah tangga sebagai pendorong utama pertumbuhan ekonomi domestik Jepang.
Infrastruktur Jatuh Paling Dalam, Sektor Noncyclical Selamat
Secara sektoral, koreksi terdalam pada perdagangan Kamis tercatat di sektor infrastruktur yang anjlok 3,00% menurut data Stockbit, menjadi pemicu utama pelemahan IHSG.
Sebaliknya, sektor consumer non-cyclical justru mampu menunjukkan daya tahan dengan mencatat kenaikan sebesar 0,57%, menandakan pergeseran minat investor ke sektor yang lebih defensif dalam menghadapi volatilitas.
Analis Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang menyebut sinyal teknikal bearish reversal makin kuat didukung oleh meningkatnya tekanan volume jual, mengindikasikan IHSG masih belum menemukan titik pantul yang kuat.
Ia memperkirakan support IHSG berada di level 7.400 dan resistance di 7.550 untuk perdagangan Jumat, dengan kemungkinan pelemahan masih terbuka lebar.
Kinerja Emiten Perbankan Tak Mampu Menopang Indeks
Selain tekanan makro, sektor perbankan yang selama ini menjadi penopang IHSG juga ikut membebani indeks akibat rilis laporan keuangan yang kurang menggembirakan.
Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana mengatakan IHSG cenderung mengikuti tren pelemahan global, dan tekanan makin dalam karena hasil laporan keuangan emiten-emiten besar tidak sekuat ekspektasi pasar.
Dengan kombinasi tekanan global dan domestik yang belum reda, ia memproyeksikan IHSG akan bergerak di kisaran support 7.415 dan resistance 7.552 untuk Jumat, menandakan pola perdagangan yang cenderung sideways to bearish.
Data Ekonomi Domestik Jadi Penentu Pergerakan Selanjutnya
Dari dalam negeri, pelaku pasar akan mencermati rilis data inflasi Juli 2025 yang diperkirakan naik ke 2,24% YoY dari 1,87% di bulan sebelumnya, dengan inflasi bulanan diperkirakan naik tipis ke 0,21% dari 0,19%.
Sementara itu, data neraca perdagangan Juni 2025 diprediksi mencatatkan surplus sebesar US$3,55 miliar, lebih rendah dari bulan Mei yang sebesar US$4,3 miliar.
Kombinasi potensi kenaikan inflasi dan menurunnya surplus perdagangan bisa menjadi katalis negatif tambahan bagi IHSG, apalagi di tengah tren pelemahan global yang masih berlangsung.
Rekomendasi Saham: Defensive & Selektif
Meski pasar sedang dibayangi koreksi, analis masih melihat peluang pada sejumlah saham defensif dan selektif yang dianggap tahan guncangan.
Alrich dari Phintraco merekomendasikan saham PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI), PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI), dan PT MAP Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA) sebagai opsi menarik untuk jangka pendek.
Selain itu, saham PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) dan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) dinilai masih layak dikoleksi karena karakteristik bisnisnya yang defensif.
Sementara Herditya dari MNC Sekuritas menyoroti saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dengan support Rp 67 dan resistance Rp 71, serta PT Indosat Ooredoo Hutchison Tbk (ISAT) di level Rp 2.280–Rp 2.440, sebagai opsi spekulatif dengan momentum teknikal.
PANI kembali menjadi saham favorit dalam kedua rekomendasi analis, menandakan kepercayaan yang kuat terhadap potensi emiten ini di tengah ketidakpastian pasar.
Spekulasi Masih Tinggi, Perlu Strategi Taktis
Pasar modal Indonesia memasuki fase rawan koreksi teknikal, ditambah minimnya sentimen positif dari global maupun domestik, menjadikan hari-hari ke depan penuh ketidakpastian.
Dengan rilis inflasi dan data perdagangan yang akan hadir dalam hitungan jam, pelaku pasar disarankan untuk memperkuat portofolio dengan saham-saham low beta dan sektoral defensif, sembari memanfaatkan momentum teknikal jangka pendek secara selektif.
IHSG masih berada dalam fase korektif dan berpotensi menguji ulang area support psikologis di bawah 7.400 jika tekanan global berlanjut dan data makro domestik tak memberi kejutan positif.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.







